Dari Penggembala Unta hingga Warlord: Kisah Naik Setinggi Langit Mohamed Hamdan Dagalo alias ‘Hemedti’

by -

Jakarta, Semangatnews.com – Mohamed Hamdan Dagalo, yang lebih dikenal dengan nama panggilan Hemedti, merupakan salah satu figur paling kontroversial dalam kancah konflik Sudan. Ia dilahirkan dari latar belakang sederhana di kawasan Darfur dan tumbuh menjadi pemimpin paramiliter yang sangat berkuasa.

Awal kisahnya bermula sebagai penggembala unta di kelompok suku Rizeigat di Darfur. Dari sana ia menapaki jalan yang dramatis: penggembala → pejuang suku → milisi, hingga akhirnya menjadi komandan Rapid Support Forces (RSF).

Pada tahun 2013, organisasi RSF yang ia pimpin secara resmi terbentuk dari milisi Janjaweed, menggantikan peran paramiliter di Darfur dan berkembang menjadi kekuatan bersenjata yang sangat besar.

Karier militernya melonjak setelah keterlibatannya dalam penggulingan presiden lama Sudan, Omar al‑Bashir, pada tahun 2019. Hemedti kemudian menjabat sebagai wakil ketua Dewan Transisi Militer Sudan.

Di balik jabatan dan kekuatannya, Hemedti juga dibayangi oleh tuduhan pelanggaran hak asasi manusia yang berat. Organisasi internasional menyebut RSF di bawah komandonya bertanggung jawab atas kekejaman di Darfur, termasuk pembunuhan etnis dan kekerasan terhadap warga sipil.

Ekonomi juga menjadi salah satu pilar kekuasaannya. Lewat jaringan bisnis termasuk tambang emas dan logistik, Hemedti berhasil mengumpulkan kekayaan besar dan memperkuat posisi politik militernya.

Konflik antara RSF dan militer reguler Sudan memasuki puncaknya sejak April 2023, ketika perselisihan kekuasaan meletus menjadi perang terbuka. Hemedti berada di garis depan sebagai tokoh yang memimpin RSF dalam konflik tersebut.

Negara‑negara Barat mulai menanggapi dengan sanksi terhadap Hemedti dan jaringan RSF. Amerika Serikat misalnya menyatakan bahwa RSF melakukan genosida dan memberlakukan pembekuan aset serta larangan perjalanan terhadap Hemedti.

Kini, nama Hemedti tidak hanya menjadi identik dengan konflik militer tetapi juga simbol tantangan bagi transisi demokrasi dan stabilitas di Sudan. Dari penggembala unta hingga menjelma sebagai jenderal bersenjata, kisahnya mencerminkan kompleksitas kekuasaan dan kekerasan di Afrika Utara.

Hemedti tetap menjadi tokoh yang menarik perhatian dunia karena jalur hidupnya yang dramatis dan kekuatan yang dimilikinya di tengah situasi politik yang rapuh.

Kisahnya juga menjadi pengingat bahwa di banyak negara konflik, individu dengan latar belakang sederhana bisa meraih pengaruh luar biasa, tetapi sekaligus membawa kontroversi dan konflik yang berkepanjangan.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.