Jakarta, Semangatnews.com – Malam yang biasanya dianggap tenang berubah menjadi adegan mengerikan di atas kereta yang melaju dari Doncaster menuju London, ketika sebuah penusukan massal terjadi tak jauh setelah kereta meninggalkan Stasiun Peterborough. Korban terbaring bersimbah darah, penumpang panik dan banyak yang awalnya mengira kejadian itu hanya lelucon Halloween semata.
Kejadian berlangsung pada Sabtu malam sekitar pukul 19.30 waktu setempat, ketika seorang pria membawa pisau besar dan mulai menyerang penumpang tanpa pandang bulu. Sirene panik berbunyi dan kereta dibawa menuju pemberhentian darurat di Stasiun Huntingdon agar petugas bersenjata dapat naik ke dalam.
Saksi mata menggambarkan suasana yang mencekam: darah membasahi lantai kereta, banyak yang bersembunyi di toilet karena takut menjadi korban berikutnya, dan sebagian penumpang mencoba melawan dengan botol dan ikat pinggang sebagai alat darurat.
Seorang penumpang mengungkap bahwa dirinya awalnya berpikir keributan tersebut adalah prank karena suasana masih kemas‑Halloween. Namun realitas berubah saat ia melihat orang berdarah tergeletak dan mendengar teriakannya “run, run, there’s a guy literally stabbing everyone”.
Petugas kepolisian dan kereta api bereaksi cepat. Kereta dialihkan ke rel lambat, berhenti di stasiun terdekat, dan dua pria ditangkap di lokasi kejadian. Satu dari mereka kemudian dirilis karena tidak terbukti terlibat, sementara pria lainnya tetap ditahan atas dugaan percobaan pembunuhan.
Meskipun awalnya instansi menetapkan kode ‘Plato’ — yang dipakai untuk menghadapi serangan teroris — penyelidikan kemudian menyimpulkan bahwa motifnya bukan terorisme, melainkan masih dalam tahap penyelidikan kriminal.
Korban mengalami luka serius. Sebanyak delapan sampai sepuluh orang dilarikan ke rumah sakit, dua di antaranya dalam kondisi kritis. Salah satu kru kereta yang mencoba menghentikan aksi tersebut juga mengalami cedera berat dan dipuji sebagai pahlawan oleh petugas transportasi.
Kereta yang seharusnya mengantar penumpang pulang berubah menjadi jalur horor singkat namun berdampak panjang. Banyak penumpang masih diliputi trauma, dan penyelidikan forensik masih terus berjalan di lokasi kejadian.
Pihak operator kereta — London North Eastern Railway (LNER) — menyampaikan permohonan maaf kepada penumpang dan menyatakan dukungan terhadap korban, sekaligus berjanji akan bekerja sama dengan aparat guna meningkatkan keamanan di layanan kereta jarak jauh ke depan.
Insiden ini menjadi pengingat bahwa pengamanan transportasi umum tetap menjadi tantangan global, termasuk saat penumpang sedang santai atau berwisata—sebuah momen yang semula dianggap rutin berubah menjadi tragedi.
Ketika malam itu berganti pagi, satu hal yang jelas: rasa aman dalam perjalanan direnggut secara tiba-tiba dan warga Inggris serta operator kereta kini menghadapi realitas baru tentang ancaman di ruang publik.(*)
