Jakarta, Semangatnews.com – Rupiah mengawali perdagangan terakhir Agustus 2026 dengan tekanan terhadap dolar Amerika Serikat. Mata uang Garuda dibuka melemah pada Senin, 31 Agustus, setelah pasar kembali mencermati perkembangan ekonomi global dan prospek suku bunga Amerika Serikat.
Berdasarkan data perdagangan, rupiah spot dibuka di posisi Rp17.748 per dolar AS. Level tersebut turun 55 poin atau 0,31 persen dibandingkan posisi perdagangan sebelumnya.
Pelemahan tersebut membuat nilai tukar rupiah kembali berada di kisaran Rp17.700-an per dolar AS. Level ini menjadi perhatian karena pergerakan rupiah sepanjang Agustus berlangsung cukup dinamis di tengah perubahan sentimen investor global.
Bank Indonesia juga mencatat kurs JISDOR rupiah pada 31 Agustus 2026 sebesar Rp17.746 per dolar AS. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan posisi Rp17.703 per dolar AS yang tercatat pada 28 Agustus.
Dengan demikian, rupiah berdasarkan JISDOR melemah sekitar Rp43 dari akhir pekan sebelumnya. Perubahan tersebut menunjukkan tekanan terhadap mata uang domestik kembali muncul setelah sebelumnya rupiah sempat bergerak menguat.
Salah satu perhatian utama investor adalah kebijakan Federal Reserve. Setiap perubahan ekspektasi mengenai suku bunga AS dapat memengaruhi nilai dolar sekaligus menentukan ke mana dana investor global akan mengalir.
Jika pasar menilai suku bunga AS akan tetap tinggi, aset berdenominasi dolar berpotensi menjadi lebih menarik. Kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Namun, arah rupiah tidak hanya ditentukan oleh faktor Amerika Serikat. Kebijakan Bank Indonesia dan kondisi fundamental perekonomian domestik juga menjadi faktor penting yang akan menentukan daya tahan mata uang Garuda menghadapi gejolak pasar global.
Investor juga akan memperhatikan aliran dana asing ke pasar saham dan surat berharga Indonesia. Arus modal yang masuk dapat memberikan dukungan terhadap rupiah, sementara keluarnya dana asing berpotensi menambah tekanan terhadap nilai tukar.
Data JISDOR sepanjang pekan terakhir menunjukkan pergerakan rupiah yang cukup fluktuatif. Rupiah berada di Rp17.705 pada 21 Agustus, kemudian Rp17.762 pada 27 Agustus dan Rp17.703 pada 28 Agustus sebelum berada di Rp17.746 pada 31 Agustus.
Memasuki September, pelaku pasar akan menunggu berbagai indikator ekonomi yang dapat memberikan gambaran mengenai arah kebijakan moneter global. Pergerakan dolar AS, keputusan bank sentral, data inflasi, serta kondisi ekonomi domestik akan menjadi katalis penting bagi rupiah.
Tekanan pada hari terakhir Agustus belum serta-merta menunjukkan perubahan tren jangka panjang rupiah. Namun, posisi di kisaran Rp17.700-an membuat pasar perlu mewaspadai volatilitas, terutama jika sentimen terhadap dolar AS kembali menguat dalam perdagangan awal September.(*)

