Dolar AS Menguat, Rupiah Tertekan di Sekitar Rp18.000: Ini Faktor Pemicunya

by

Jakarta, Semangatnews.com – Rupiah kembali bergerak dalam tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menjelang akhir September 2026. Mata uang Garuda bahkan sempat melewati level Rp18.000 per dolar AS dalam perdagangan Selasa, 29 September.

Data pasar menunjukkan rupiah sempat menyentuh Rp18.031 per dolar AS pada perdagangan tersebut. Posisi itu memperlihatkan bahwa tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya mereda meskipun pada akhir perdagangan pelemahan kembali terbatas.

Rupiah spot kemudian ditutup di kisaran Rp17.981 per dolar AS atau melemah tipis dibandingkan posisi perdagangan sebelumnya. Sementara JISDOR BI tercatat berada di level Rp17.998 per dolar AS.

Penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang diperhatikan pasar. Ketika imbal hasil aset AS meningkat, investor cenderung mempertimbangkan kembali penempatan dana pada instrumen berdenominasi dolar karena menawarkan tingkat imbal hasil yang lebih menarik.

Tekanan semakin terasa ketika imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun menembus 5,27 persen. Menurut laporan Reuters, level tersebut merupakan yang tertinggi dalam 19 tahun dan turut memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang di kawasan Asia.

Harga minyak dunia juga menjadi perhatian. Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi sehingga pasar memperhitungkan kemungkinan kebijakan moneter AS tetap ketat dalam waktu lebih lama.

Situasi tersebut membuat pergerakan mata uang negara berkembang menjadi lebih rentan. Rupiah pun tidak bergerak sendiri karena sejumlah mata uang Asia lainnya turut mengalami tekanan akibat penguatan dolar dan kenaikan imbal hasil obligasi AS.

Dari sisi kebijakan domestik, Bank Indonesia masih menempatkan stabilitas nilai tukar sebagai salah satu fokus kebijakan. Dalam rapat pada 22–23 September 2026, BI memutuskan mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen.

BI juga terus mengoptimalkan intervensi valuta asing melalui berbagai instrumen untuk mengurangi tekanan terhadap rupiah. Langkah tersebut mencakup transaksi spot, DNDF di pasar domestik, serta NDF di pasar luar negeri.

Bank Indonesia mencatat tekanan terhadap rupiah meningkat seiring ketidakpastian pasar keuangan global. Meski demikian, bank sentral menyebut posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Agustus 2026 tetap kuat, yakni sebesar 146,5 miliar dolar AS atau setara dengan pembiayaan sekitar 5,4 bulan impor.

Untuk perdagangan 30 September, pelaku pasar masih akan mencermati perkembangan dolar AS, imbal hasil obligasi pemerintah AS, harga minyak, serta berbagai data ekonomi Amerika Serikat. Pergerakan faktor-faktor tersebut akan menjadi bagian penting dalam menentukan dinamika rupiah di tengah tekanan global yang masih berlangsung.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.