Jakarta, Semangatnews.com – Rupiah mengawali perdagangan Jumat, 18 September 2026, dengan kabar positif. Nilai tukar mata uang Garuda berhasil menguat terhadap dolar Amerika Serikat setelah sebelumnya mengalami pelemahan.
Data Refinitiv menunjukkan rupiah menguat 0,21 persen ke level Rp17.710 per dolar AS pada pembukaan perdagangan. Posisi tersebut berbalik dari penutupan sehari sebelumnya ketika rupiah berada di Rp17.747 per dolar AS.
Pergerakan rupiah sejalan dengan dolar AS yang mulai terkoreksi. Indeks dolar AS yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama dunia tercatat melemah tipis pada perdagangan pagi.
Dolar AS sebelumnya mendapatkan dukungan setelah The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. Suku bunga bank sentral AS tersebut kini berada di kisaran 3,75-4 persen.
Kebijakan The Fed menjadi salah satu sentimen utama yang diperhatikan investor karena dapat memengaruhi arus modal dan nilai tukar berbagai negara. Kenaikan suku bunga AS juga menjadi faktor yang dapat meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar.
Meski demikian, tekanan terhadap rupiah sedikit mereda pada akhir pekan. Pelemahan indeks dolar AS memberikan kesempatan bagi mata uang Garuda untuk bergerak menguat pada awal perdagangan Jumat.
Sentimen positif juga datang dari pasar komoditas. Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan, kondisi yang dinilai dapat mengurangi kekhawatiran terhadap tekanan biaya energi dan turut membantu sentimen terhadap rupiah.
Dari kawasan Asia, sejumlah mata uang juga bergerak menguat terhadap dolar AS. Yuan offshore, ringgit Malaysia, dan won Korea Selatan termasuk mata uang yang tercatat berada di zona penguatan, sementara beberapa mata uang lainnya masih bergerak melemah.
Pasar obligasi domestik juga menunjukkan pergerakan yang lebih positif. Imbal hasil Surat Utang Negara tenor satu tahun tercatat turun 8,8 basis poin menjadi 6,74 persen, sedangkan yield tenor 10 tahun turun tipis menjadi 7,15 persen.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena pergerakan pasar valuta asing, obligasi, dan saham saling berkaitan dengan keputusan investor dalam mengelola portofolio. Perubahan sentimen global dapat dengan cepat memengaruhi pergerakan aset di pasar domestik.
Investor kini akan menunggu perkembangan pasar sepanjang perdagangan Jumat. Arah dolar AS, respons pasar terhadap kebijakan The Fed, harga minyak, serta pergerakan aset Asia akan menjadi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi posisi rupiah hingga akhir perdagangan.(*)

