Dolar Tembus Rp17.300, BI Ungkap Biang Kerok Utama dari Gejolak Global hingga Minyak Dunia

by -

Jakarta, Semangatnews.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali tertekan hingga menembus level Rp17.300 pada perdagangan terbaru. Kondisi ini langsung menjadi sorotan karena berada di atas asumsi makro yang ditetapkan dalam APBN 2026.

Bank Indonesia (BI) secara terbuka mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah kali ini lebih banyak dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global. Tekanan tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga dirasakan oleh mata uang negara berkembang lainnya.

Deputi Gubernur Senior BI menyebut bahwa pergerakan rupiah masih sejalan dengan tren regional. Artinya, pelemahan ini bukan disebabkan faktor domestik semata, melainkan efek domino dari kondisi global yang belum stabil.

Salah satu pemicu utama adalah eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah. Ketegangan yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat membuat pasar keuangan global bergejolak dan mendorong investor beralih ke aset aman seperti dolar AS.

Selain itu, lonjakan harga minyak dunia turut memperburuk tekanan terhadap rupiah. Kenaikan harga energi global meningkatkan kekhawatiran inflasi dan memperbesar kebutuhan dolar untuk impor energi.

Dari sisi domestik, tingginya permintaan valuta asing juga menjadi faktor penting. Ketika kebutuhan dolar meningkat sementara pasokan terbatas, nilai tukar rupiah otomatis melemah.

Tekanan eksternal ini juga berdampak pada pasar keuangan nasional. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat ikut melemah seiring sentimen negatif yang melanda pasar global.

Pemerintah menegaskan bahwa kondisi ini masih dalam pemantauan dan tidak perlu disikapi secara berlebihan. Fluktuasi nilai tukar dinilai sebagai bagian dari dinamika pasar global yang sedang tidak stabil.

Bank Indonesia sendiri telah menyiapkan berbagai langkah stabilisasi, mulai dari intervensi pasar hingga penguatan instrumen moneter. Upaya ini dilakukan untuk menjaga agar volatilitas rupiah tidak semakin dalam.

Meski tekanan cukup besar, fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih relatif kuat. Hal ini menjadi modal penting untuk menjaga kepercayaan investor di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian.

Ke depan, arah pergerakan rupiah akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik dan kebijakan ekonomi global. Jika tensi mereda, peluang penguatan rupiah tetap terbuka meski bertahap.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.