Oleh : Oktavia Dwi Wulandari
YOGYAKARTA, SEMANGATNEWS.COM – Kesenian tradisional kethoprak merupakan pertunjukan populer di Jawa pada tahun 1920-an.
Pertunjukan ini lahir dan berkembang di Yogyakarta dan Surakarta, serta menjadi salah satu hiburan masyarakat yang paling diminati. Pada masa itu, kethoprak tidak hanya sekadar tontonan, melainkan sebagai ruang sosial masyarakat.
Pada setiap malam pertunjukan ini menjadi momen berkumpul warga. Melalui pertunjukan kethoprak, masyarakat mendapatkan ruang berdialog tentang kehidupan sosial masyarakat dari berbagai latar belakang.

Sembari menikmati cerita yang dipentaskan, secara tidak langsung ruang sosial perlahan terbentuk. Kisah-kisah sejarah kerajaan Jawa, legenda, hingga cerita rakyat dihadirkan dengan dialog komunikatif dan jenaka.
Sisipan humor dagelan menjadikan kethoprak tidak hanya sekedar menghibur, melainkan mampu menghadirkan kedekatan emosional bagi penonton. Suasana panggung ramai oleh suara dialog para pemain, iringan gamelan, serta gelak tawa penonton yang memadati area pertunjukan.
Seiring dengan perkembanganya, kesenian kethoprak banyak tumbuh dan berkembang di daerah Jawa Tengah.
Salah satunya adalah Kethoprak Cipto Mudo Budoyo yang berdiri pada tahun 1980. Kelompok kesenian tersebut berasal dari Dusun Tambakan, Jogonalan, Klaten, Jawa Tengah.

Cipto Mudo Budoyo mencapai puncak kejayaan pada tahun 1987, dengan menggelar banyak pementasan. Jadwal pentas yang padat membuat kelompok ini selalu disambut dengan antusias penonton yang selalu menantikan cerita baru dalam setiap penampilannya.
Kelompok seni Kethoprak Cipto Mudo Budoyo beranggotakan para seniman lokal yang aktif dalam menghidupkan panggung kesenian di tengah masyarakat.
Kehadiran kelompok kethoprak ini turut memberikan warna dalam kehidupan budaya di lingkungan setempat.
Dalam perjalanannya Kethoprak Cipto Mudo Budoyo pernah melakukan berbagai inovasi dalam pementasan ketoprak, mulai dari tata panggung, kostum, hingga efek pertunjukan.
Salah satu inovasi yang terkenal adalah penggunaan efek panggung seperti pemain yang dapat “menghilang” atau “terbang”, sesuatu yang jarang ditemui pada pertunjukan ketoprak saat itu. Selain itu,
ia juga menggabungkan dua gaya ketoprak, yaitu gaya Mataraman dari Jawa Tengah dan gaya pesisiran dari Jawa Timur. Inovasi tersebut kemudian melahirkan konsep Ketoprak Gaya Baru Siswo Budoyo.
Pada awal 1960-an, kelompok ini mulai tampil di berbagai kota seperti Blitar, Kediri, Surabaya, hingga Malang. Penonton selalu memadati setiap pertunjukan yang digelar.
Popularitas Ketoprak Siswo Budoyo semakin meningkat ketika mereka tampil di Surakarta, yang saat itu dikenal sebagai barometer kesenian Jawa. Pertunjukan tersebut mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat.
Dimana pada Puncak Popularitas di Era Televisi memasuki era 1980-an, Ketoprak Siswo Budoyo semakin dikenal luas setelah sering tampil di televisi. Stasiun TVRI Surabaya secara rutin menayangkan pertunjukan kelompok ini, sehingga popularitasnya meroket di berbagai daerah.
Dalam satu kelompok, jumlah anggota Ketoprak Siswo Budoyo bahkan mencapai lebih dari 200 orang. Para pemain tidak hanya bekerja bersama, tetapi juga hidup layaknya satu keluarga.
Kiswondo juga dikenal sebagai pemimpin yang sangat peduli terhadap kesejahteraan anggotanya. Ia mendirikan yayasan yang membantu pendidikan anak-anak para pemain, bahkan sempat mendirikan sekolah seni untuk mencetak generasi penerus.
Minat Terhadap Pertunjukan Kethoprak Mengalami Penurunan
Namun, perjalanan kelompok ini tidak selalu berjalan mulus. Suasana panggung yang awalnya ramai perlahan berubah. Memasuki tahun 2000-an, minat terhadap pertunjukan kethoprak mengalami penurunan.
Berbagai bentuk pola hiburan baru dan media digital yang mudah diakses oleh semua lapisan masyarakat. Perlahan mampu menggeser posisi pertunjukan tradisional yang dulunya menjadi hiburan utama bagi masyarakat.
Padahal Ketoprak Siswo Budoyo pernah menjadi legenda di dunia seni pertunjukan tradisional Jawa. Kelompok ketoprak yang lahir dari Tulungagung ini tidak hanya terkenal di Jawa Timur, tetapi juga berhasil menembus panggung nasional hingga tampil di berbagai kota besar di Indonesia.
Di balik kesuksesan Ketoprak Siswo Budoyo, terdapat sosok visioner bernama Kiswondo HS, seorang seniman yang mendedikasikan hidupnya untuk melestarikan kesenian rakyat
Penurunan jumlah penonton memberikan dampak terhadap peluang pementasan yang berimbas pada pemasukan kelompok. Panggung yang dulu ramai perlahan menjadi sepi.
Oleh karena itu, pada tahun 2003 aktivitas kelompok kesenian ini menjadi terhenti dan memasuki masa vakum.
Perjalanan seniman lokal juga ikut terhenti, karena tidak lagi mampu mempertahankan panggung pertunjukan yang selama ini menjadi ruang ekspresi bagi mereka.
Lakon yang dahulu menjadi media dialog untuk menyampaikan berbagai keluh kesah kehidupan. Perlahan kini tak terdengar lagi, seperti jejak Cipto Mudo Budoyo yang berangsur-angsur ikut menghilang tergerus oleh zaman.
Masa kejayaan yang dahulu selalu menjadi buah bibir masyarakat, saat ini hanya menjadi arsip ingatan bagi para seniman dan keturunanya.
Kebangkitan Kethoprak Cipto Mudo Budoyo dari Ingatan Kolektif
Selama dua puluh tahun panggung itu sunyi, harapan baru akhirnya muncul. Tahun 2023 menjadi awal kebangkitan dari Kethoprak Cipto Mudo Budoyo. Gagasan untuk menghidupkan kembali kelompok ini muncul dari keluarga besar Mul Hadiwiyono.
Kebangkitan ini bertepatan dengan acara peringatan 1.000 hari wafatnya Ny. Juminten dan Kyai. Mul Hadiwiyono. Seorang sinden dan salah satu aktor sekaligus tokoh pendiri Kethoprak Cipto Mudo Budoyo.
Pemetasan digelar sebagai bentuk kerinduan dari sosok seniman yang dahulu dikenal melalui perannya sebagai tokoh Pangeran Suto Hadiwijoyo yang dikagumi oleh para penonton.
Upaya dilakukan dengan cara mengumpulkan kembali para pemain senior yang masih hidup. Kemudian menjalin kerjasama dengan keluarga dan keturunan dari pemain lama untuk kembali terlibat.
Langkah tersebut tidak hanya untuk membangun kembali kelompok seni tersebut, melainkan sebagai salah satu langkah dalam menghidupkan kembali ingatan kolektif masyarakat.
Di mana pada masa lampau, Kethoprak Cipto Mudo Budoyo menjadi hiburan utama bagi masyarakat. Pementaan digelar secara swadaya yaitu melalui iuran anggota kelompok.
Memperkuat kualitas pementasan turut dilakukan dengan menghadirkan seorang sutradara Bagong Mawardi.
Beliau seorang seniman aktif di dunia seni peran menjadi aktor dagelan dalam pementasan kethoprak.
Kehadiran Bagong mampu memberikan sentuhan baru dalam pengemasan pertunjukan agar terlihat lebih menarik. Tidak hanya alur dan pengelolaan dinamika panggung, perubahan juga dilakukan dari tatanan artistik yang lebih modern.
Menarik Kembali Perhatian Penonton
Tidak hanya sekedar bergantung dari semangat seniman, melainkan apa strategi kedepan untuk mempertahankan panggung agar tetap hidup. Tantangan yang tidak kalah penting adalah bagaimana mengembalikan minat penonton, agar bersedia untuk menyaksikan pertunjukan ini.
Di tengah perubahan pola hiburan masyarakat, mengembalikan minat penonton bukan suatu hal yang mudah. Kondisi ini menuntut kelompok seni agar lebih bisa berinovasi, sehingga kethoprak mudah dikenal kembali oleh publik.
Beberapa upaya promosi dilakukan oleh kelompok kesenian Kethoprak Cipto Mudo Budoyo. Mulai dari memperlebar jangkauan informasi pertunjukan yang memanfaatkan platform media sosial.
Seperti Whatsapp, Instagram, dan Facebook yang dibuat dalam bentuk poster digital. Hal tersebut dilakukan agar promosi dapat dijangkau secara cepat oleh masyarakat luas.
Selain itu, pemasangan pamflet turut dilakukan di berbagai titik strategis, seperti ruang publik dan pinggir jalan. Tidak hanya secara digital, promosi secara konvensional tetap dilakukan. Bagi kelompok kesenian, cara ini masih dinggap efektif karena lebih mudah menjangkau penonton lokal.
Upaya untuk menarik minat penonton juga dilakukan dengan menghadirkan bintang tamu yang sedang naik daun.
Seniwati yang turut diundang dalam memeriahkan pertunjukan Kethoprak Cipto Mudo Buyo ialah Mimin dan Apri.
Diharapkan dengan kehadirannya mampu menimbulkan daya tarik, sekaligus minat penonton untuk menyaksikan pertunjukan secara langsung.
Namun demikian, keberhasilan menghidupkan kembali minat penonton tidak dapat bergantung pada promosi.
Upaya dalam meningkatkan kualitas pertunjukan harus dilakukan secara konsisten. Tanpa inovasi yang berkelanjutan, panggung kethoprak akan beresiko kehilangan penonton.
Oleh karena itu, kebangkitan kethoprak tidak hanya dipahami sebagai upaya menghidupkan kembali panggung yang sepi. Melainkan sebagai langkah untuk tetap menjaga warisan budaya agar tetap relevan di tengah modenisasi.
Karena itulah tak heran sesungguhnya, jika kerangka berfikir dan sudut pandang atau paradigma kita terhadap kesenian — seperti Kethoprak Cipto Mudo Buyo — tetap saja berbeda dan bersilang jauh melalui hasil perjalanan kesenian sebagai entitas yang teramat kongkrit sekaligus abstrak dalam peradaban manusia.
Dan pikiran kita pun sering mendua, bahwa disuatu sisi seni rupa kehadirannya sangat dibutuhkan sebagai bagian budaya yang ada selama ini, namun disisi lain kehidupan para senimannya dibiarkan redup tanpa ada solusi terbaik mengatasinya.
Lihat berapa banyak seniman yang semula kreatif dan produktif berkarya, tiba-tiba tenggelam begitu saja. (*)
Catatan Redaksi
Oktavia Dwi Wulandari, mahasiswa pascasarjana ISI Yogyakarta minat

