Jakarta, Semangatnews.com – Harga emas kembali berada dalam tekanan setelah mencatat penurunan selama dua hari perdagangan berturut-turut. Kondisi tersebut terjadi ketika pasar global menghadapi perubahan ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat serta lonjakan harga minyak dunia.
Mengacu pada data Refinitiv, harga emas pada Kamis, 24 September 2026 ditutup di posisi US$4.277,98 per troy ounce. Harga tersebut turun 0,21 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Dengan penurunan tersebut, emas telah terkoreksi sekitar 1,8 persen dalam dua hari. Posisi penutupan Kamis sekaligus menjadi level terendah sejak 16 September 2026.
Salah satu faktor yang menjadi perhatian investor adalah perubahan nada kebijakan The Fed. Ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga kembali menguat sehingga memberikan tekanan terhadap komoditas logam mulia.
Emas kerap menjadi perhatian investor ketika terjadi ketidakpastian ekonomi maupun geopolitik. Namun, daya tariknya dapat berkurang ketika suku bunga tinggi membuat instrumen yang menghasilkan imbal hasil menjadi lebih menarik.
Penguatan dolar AS juga memberikan tekanan tambahan. Karena emas diperdagangkan dalam denominasi dolar, kenaikan nilai mata uang tersebut dapat meningkatkan biaya pembelian emas bagi investor yang menggunakan mata uang lain.
Di tengah tekanan tersebut, pasar minyak justru bergerak naik. Harga minyak Brent pada Kamis dilaporkan melonjak 3 persen menjadi sekitar US$106,15 per barel. Kenaikan ini terjadi ketika harapan tercapainya perdamaian antara AS dan Iran kembali meredup.
Kenaikan minyak kemudian menghadirkan persoalan lain bagi pasar. Harga energi yang lebih tinggi dapat meningkatkan tekanan inflasi, sehingga bank sentral memiliki alasan untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.
Situasi itu menjadi salah satu alasan mengapa prospek emas kini kembali menjadi perhatian. Reuters melaporkan bahwa ekspektasi kenaikan suku bunga AS pada Desember turut menekan emas, sementara dolar yang menguat membuat logam mulia semakin mahal bagi pembeli di luar AS.
Meski demikian, arah harga emas masih bergantung pada perkembangan sejumlah faktor sekaligus. Data ekonomi Amerika Serikat, keputusan The Fed, pergerakan dolar, harga minyak, serta perkembangan konflik geopolitik dapat memengaruhi sentimen investor dalam beberapa waktu ke depan.
Dengan kondisi pasar yang masih berubah cepat, penurunan dua hari belum cukup untuk memastikan arah emas dalam jangka panjang. Investor dan pelaku pasar perlu memperhatikan perkembangan fundamental serta volatilitas pasar sebelum menarik kesimpulan mengenai pergerakan logam mulia berikutnya.(*)

