Greta Thunberg Kembali ke Yunani Setelah Diusir Israel dari Gaza

by -

Jakarta, Semangatnews.com – Aktivis iklim asal Swedia, Greta Thunberg, kini berada kembali di Yunani setelah dideportasi dari Israel menyusul keterlibatannya dalam misi kemanusiaan Sumud Flotilla ke Gaza, di mana dia bersama relawan lain berupaya mendistribusikan bantuan ke warga Palestina.

Pemerintah Israel memberlakukan kebijakan pengusiran terhadap Greta karena menilai keberadaannya dalam misi kemanusiaan tersebut tak sejalan dengan aturan keamanan dan kebijakan negara itu terhadap Gaza, sehingga ia dipaksa meninggalkan wilayah Israel ke Yunani sebagai negara transit.

Setibanya di Yunani, Greta disambut oleh beberapa penggiat sosial dan organisasi hak asasi yang menyatakan solidaritas atas perlakuan yang diterimanya, sembari menegaskan bahwa aksi kemanusiaan internasional tak bisa dibungkam dengan tindakan pengusiran.

Dalam pernyataannya lewat media Yunani, Greta menyebut bahwa tindak pengusiran ini adalah bentuk pembungkam ekspresi solidaritas terhadap krisis kemanusiaan, dan bahwa hak individu untuk membantu warga terdampak tak bisa diabaikan atas dalih keamanan semata.

Para relawan Sumud Flotilla sendiri menjelaskan bahwa tujuan mereka adalah membawa makanan, obat, dan peralatan medis ke Gaza melalui jalur laut—langkah yang menurut mereka semakin sulit karena pembatasan akses laut oleh otoritas Israel.

Israel mengklaim bahwa operasi semacam itu bisa menyusupkan bahan peledak atau senjata ke dalam Gaza, namun relawan menegaskan bahwa mereka membawa barang-barang kemanusiaan murni dan telah membawa dokumentasi transparan mengenai muatan kapal.

Pihak Yunani menyatakan bahwa Greta tetap berada di negaranya secara legal sebagai bagian dari kebijakan penerimaan terhadap imigran dan aktivis internasional, dan bahwa hak kebebasan berbicara serta berkarya tetap dilindungi.

Sebelum ini, adanya relawan asing di Gaza telah menjadi sumber ketegangan politik antara Israel dan komunitas internasional, dengan tudingan bahwa beberapa dari mereka menjadi alat propaganda konflik.

Meski dideportasi, Greta tetap berkomitmen untuk menyuarakan isu iklim dan kemanusiaan, dan kemungkinan besar akan terus aktif dalam kampanye yang menggabungkan perlindungan lingkungan dan keadilan global.

Insiden ini kembali mencuatkan pertanyaan tentang batas kebebasan aksi kemanusiaan di zona konflik, serta bagaimana negara-negara rentan menghadapi tekanan geopolitik untuk mengecualikan bantuan luar.

Kedatangan Greta di Yunani juga menjadi momentum baru bagi jaringan aktivis Eropa untuk mengorganisir dukungan lintas negara terhadap Gaza dan menggalang kampanye solidaritas yang lebih masif.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.