Dedi Mulyadi Galakkan ‘Sapoe Sarebu Poe Ibu’ untuk Bangkitkan Nilai Gotong-Royong Warga Jabar

by -

Jakarta, Semangatnews.com – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengajak seluruh lapisan masyarakat di provinsinya untuk menghidupkan kembali semangat gotong-royong melalui gerakan “Sapoe Sarebu Poe Ibu”, yakni program sumbangan sukarela Rp 1.000 per hari per warga yang ditujukan untuk mendukung berbagai program sosial dan pembangunan daerah.

Menurut Dedi, gerakan ini lahir dari keprihatinan terhadap menurunnya kepedulian sosial dan solidaritas masyarakat kota dan desa, di mana warga kini dianggap lebih individualistis dan kurang bergandeng tangan dalam menghadapi permasalahan bersama.

Ia menyebut bahwa dengan iuran kecil sehari saja, skala potensinya sangat besar jika seluruh warga ikut serta; hasilnya bisa digunakan untuk memperbaiki fasilitas umum, mendukung program lingkungan, hingga membantu warga terdampak bencana kecil di tiap wilayah.

Dalam surat edaran yang ia rilis, ASN dan warga Jawa Barat diimbau untuk aktif berpartisipasi menyisih sedikit dari penghasilan harian masing-masing, dengan catatan bahwa donasi ini bersifat sukarela dan tidak memberatkan bagi yang berkecukupan rendah.

Terkait kritik yang menyebut bahwa imbauan “Rp 1.000 per hari” akan dianggap pungutan tidak resmi atau membebani masyarakat miskin, Dedi menegaskan bahwa gerakan ini sifatnya sebagai aspirasi kolektif dan bukan paksaan negara, serta akan dikelola secara transparan.

Ia juga berjanji akan menyampaikan laporan berkala tentang pemanfaatan dana tersebut kepada publik agar tidak menimbulkan keraguan atau kecurigaan, serta agar warga bisa melihat langsung manfaat nyata dari sumbangan kecil itu.

Beberapa tokoh masyarakat dan aktivis menyambut gagasan tersebut dengan optimisme, meskipun ada juga pertanyaan kritis mengenai mekanisme pengumpulan, pengelolaan, dan pemerataan penggunaannya di daerah pedalaman dan pelosok.

Gerakan “Sapoe Sarebu Poe Ibu” ini juga dipadukan dengan program gotong-royong di tingkat desa dan kelurahan, misalnya aksi bersih lingkungan, penanaman pohon, dan reguler padat karya ringan yang dikerjakan bersama warga setempat.

Pemerintah provinsi bahkan mengusulkan agar dana sukarela tersebut bisa masuk dalam sistem transparan digital, semacam rekening bersama yang dapat diakses warga untuk mengetahui penggunaan, progres, dan realisasi proyek yang didukung.

Dedi berharap lewat gerakan itu, semangat kebersamaan yang pernah menjadi ciri khas masyarakat Jawa Barat bisa kembali tumbuh, sehingga jarak sosial antar warga semakin tipis dan rasa saling membantu menjadi bagian dari keseharian kolektif.

Jika gerakan ini berhasil diterima luas, bukan tidak mungkin Jawa Barat akan menjadi contoh provinsi yang mampu membangkitkan semangat gotong-royong modern di kota dan desa melalui kontribusi mikro yang bermakna dalam skala besar.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.