Harga Minyak Dunia Rontok 14 Persen, Tembus di Bawah US$100 Usai Ketegangan Mereda

by -

Jakarta, Semangatnews.com – Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan tajam hingga sekitar 14 persen pada perdagangan terbaru, meninggalkan level psikologis US$100 per barel yang sebelumnya sempat bertahan kuat. Koreksi ini menjadi salah satu yang terbesar dalam beberapa waktu terakhir.

Minyak jenis Brent tercatat anjlok sekitar US$14,84 atau 13,6 persen ke level US$94,43 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) juga merosot signifikan hingga lebih dari US$16 per barel.

Penurunan drastis ini terjadi hanya dalam waktu singkat, mencerminkan perubahan sentimen pasar global yang sangat cepat. Sebelumnya, harga minyak sempat melonjak tinggi akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.

Faktor utama yang memicu kejatuhan harga minyak adalah meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Kesepakatan gencatan senjata sementara menjadi titik balik bagi pasar energi global.

Dengan adanya gencatan senjata tersebut, kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak dunia mulai berkurang. Jalur distribusi penting, termasuk Selat Hormuz, kembali dibuka dan beroperasi normal.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global. Gangguan di kawasan ini sebelumnya sempat memicu lonjakan harga energi secara signifikan.

Ketika risiko pasokan menurun, pasar merespons dengan aksi jual besar-besaran. Investor yang sebelumnya berspekulasi pada kenaikan harga kini mulai melepas posisi mereka.

Penurunan harga minyak ini juga menunjukkan betapa sensitifnya pasar energi terhadap perkembangan geopolitik. Perubahan kebijakan atau kesepakatan diplomatik dapat langsung memengaruhi harga secara drastis.

Selain itu, analis menilai bahwa koreksi ini juga dipengaruhi oleh ekspektasi meningkatnya pasokan global. Negara-negara produsen kini memiliki ruang lebih besar untuk menyalurkan minyak ke pasar internasional.

Dampak dari penurunan harga minyak ini mulai terasa di berbagai sektor. Saham-saham energi di sejumlah bursa global tercatat mengalami tekanan, sementara sektor lain justru mendapatkan sentimen positif.

Bagi negara pengimpor minyak seperti Indonesia, penurunan harga ini berpotensi memberikan ruang bagi stabilisasi harga bahan bakar dalam negeri. Namun, dampak jangka panjang tetap bergantung pada konsistensi tren global.

Meski demikian, para analis mengingatkan bahwa situasi masih penuh ketidakpastian. Jika konflik kembali memanas atau kesepakatan gagal bertahan, harga minyak bisa kembali melonjak dalam waktu singkat.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.