Jakarta, Semangatnews.com – Harga perak produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali mengalami lonjakan signifikan pada perdagangan Sabtu, 9 Mei 2026. Kenaikan harga ini membuat perak semakin dilirik sebagai instrumen investasi alternatif di tengah pergerakan emas yang mulai stagnan.
Berdasarkan data terbaru dari Logam Mulia Antam, harga perak murni kini berada di level Rp 51.700 per gram. Angka tersebut naik sekitar Rp 600 dibanding perdagangan sebelumnya yang berada di posisi Rp 51.100 per gram.
Kenaikan ini melanjutkan tren penguatan harga perak selama beberapa hari terakhir. Sebelumnya, harga perak Antam sempat melonjak Rp 950 pada Kamis dan kembali naik Rp 1.000 pada Jumat sebelum kembali menguat hari ini.
Untuk ukuran batangan besar, Antam mematok harga perak 250 gram sebesar Rp 13,325 juta sebelum pajak. Sementara ukuran 500 gram dijual sekitar Rp 25,85 juta, belum termasuk PPN 11 persen yang dikenakan pada transaksi logam mulia.
Lonjakan harga perak domestik tidak terlepas dari penguatan harga perak global dalam beberapa pekan terakhir. Data pasar internasional menunjukkan harga perak dunia bergerak di atas 79 dolar AS per troy ounce dan terus menunjukkan tren positif sepanjang awal Mei 2026.
Analis menilai perak mulai menjadi pilihan investor karena dianggap memiliki potensi kenaikan lebih agresif dibanding emas. Selain sebagai aset lindung nilai, perak juga memiliki permintaan tinggi dari sektor industri teknologi dan kendaraan listrik global.
Di Indonesia sendiri, tren pembelian logam mulia berbasis perak mulai meningkat sejak awal tahun. Banyak investor ritel memilih perak karena harga per gramnya jauh lebih murah dibanding emas sehingga dinilai lebih terjangkau untuk investasi jangka panjang.
Sementara itu, harga emas Antam pada hari yang sama tercatat stagnan di level Rp 2,839 juta per gram. Kondisi ini membuat sebagian investor mulai mengalihkan perhatian ke perak yang dinilai memiliki ruang kenaikan lebih besar dalam jangka pendek.
Pelaku pasar memperkirakan harga perak masih berpotensi naik apabila ketegangan geopolitik global dan ketidakpastian ekonomi dunia terus berlangsung. Situasi tersebut biasanya mendorong investor mencari aset aman seperti logam mulia.
Selain faktor global, meningkatnya kebutuhan industri panel surya dan baterai kendaraan listrik juga menjadi pendorong utama permintaan perak dunia. Komoditas ini kini semakin strategis dalam rantai pasok industri energi hijau internasional.
Dengan tren kenaikan yang terus berlanjut, perak Antam kini mulai dipandang bukan sekadar logam pelengkap investasi emas. Banyak investor menilai 2026 bisa menjadi momentum kebangkitan investasi perak di tengah tingginya volatilitas pasar keuangan global.(*)

