Jakarta, Semangatnews.com – Lonjakan harga plastik dalam beberapa waktu terakhir membuat pelaku industri di Indonesia terpaksa mengubah strategi bisnis mereka. Kondisi ini bahkan disebut telah mendorong banyak produsen masuk ke fase “survival mode” demi menjaga keberlangsungan usaha.
Kenaikan harga tersebut dipicu oleh terganggunya pasokan bahan baku utama plastik, yaitu nafta. Bahan turunan minyak bumi ini sebagian besar berasal dari kawasan Timur Tengah yang saat ini tengah dilanda konflik geopolitik.
Situasi konflik yang melibatkan sejumlah negara besar berdampak langsung pada distribusi energi global. Jalur penting seperti Selat Hormuz ikut terdampak, sehingga pengiriman bahan baku menjadi terhambat.
Akibatnya, pasokan nafta ke industri petrokimia global, termasuk Indonesia, mengalami gangguan signifikan. Bahkan disebutkan sekitar 70 persen pasokan bahan baku tersebut berasal dari kawasan yang terdampak konflik.
Tidak hanya distribusi, fasilitas produksi minyak di kawasan Teluk juga ikut terganggu. Hal ini semakin memperparah kondisi pasokan dan mendorong harga plastik naik secara bertahap sejak Maret 2026.
Kenaikan harga tidak terjadi secara instan, melainkan dimulai dari penyesuaian stok yang dilakukan pelaku industri. Namun memasuki pekan kedua dan ketiga, lonjakan mulai terasa dan terus berlanjut.
Dalam kondisi tersebut, pelaku industri terpaksa menekan produksi seminimal mungkin. Langkah ini dilakukan agar biaya operasional tetap terkendali dan perusahaan dapat bertahan di tengah tekanan harga bahan baku.
Strategi “survival mode” ini berarti produksi tetap berjalan, tetapi dengan perhitungan yang sangat ketat. Tujuannya adalah menjaga keseimbangan antara biaya dan pendapatan agar tidak merugi.
Selain itu, produsen juga mulai mencari alternatif bahan baku dari luar kawasan Timur Tengah. Negara-negara seperti di Asia Tengah, Afrika, hingga Amerika menjadi opsi baru meski harganya lebih mahal dan waktu pengiriman lebih lama.
Beberapa industri bahkan mulai mempertimbangkan penggunaan bahan substitusi seperti propana atau kondensat. Namun, kendala regulasi seperti bea masuk masih menjadi tantangan yang perlu diselesaikan.
Dampak kenaikan harga plastik juga dirasakan hingga ke sektor hilir. Pedagang kecil mengeluhkan kenaikan harga plastik kemasan yang membuat biaya operasional meningkat dan margin keuntungan menipis.
Kondisi ini menunjukkan bahwa krisis bahan baku plastik tidak hanya berdampak pada industri besar, tetapi juga merembet ke masyarakat luas. Jika situasi global belum membaik, tekanan terhadap industri plastik diperkirakan masih akan berlanjut dalam waktu ke depan.(*)

