Jakarta, Semangatnews.com – Ancaman terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali menjadi perhatian setelah muncul proyeksi skenario terburuk yang bisa membuat laju ekonomi sulit menembus angka 5 persen. Kondisi ini dipicu oleh kombinasi tekanan global dan domestik yang semakin kompleks.
Salah satu faktor utama yang disorot adalah tingginya harga minyak dunia yang bertahan dalam jangka panjang. Kenaikan harga energi ini dinilai dapat memberikan dampak luas terhadap perekonomian nasional.
Saat ini, harga minyak global bahkan telah melampaui asumsi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Jika tren ini terus berlanjut, maka beban ekonomi akan semakin berat.
Kenaikan harga minyak secara langsung akan mendorong peningkatan biaya energi. Hal ini berdampak pada sektor industri, transportasi, hingga kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
Dampak lanjutan yang paling terasa adalah melemahnya daya beli masyarakat. Ketika harga kebutuhan naik, konsumsi rumah tangga yang menjadi motor utama ekonomi Indonesia bisa ikut tertekan.
Dalam kondisi tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan hanya akan berada di kisaran 4,7 hingga 4,9 persen. Angka ini berada di bawah rata-rata pertumbuhan yang selama ini dijaga di level 5 persen.
Selain itu, tekanan juga datang dari sisi fiskal. Pemerintah harus menanggung beban subsidi energi yang semakin besar jika harga BBM tetap ditahan di tengah lonjakan harga minyak dunia.
Jika harga minyak mencapai sekitar 100 dolar AS per barel dan nilai tukar rupiah melemah, defisit fiskal berpotensi melebar hingga di atas 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Kondisi tersebut berisiko mengganggu stabilitas keuangan negara. Ruang fiskal menjadi semakin sempit karena anggaran harus dialihkan untuk menutup subsidi energi.
Di sisi lain, tekanan eksternal seperti ketidakpastian global juga memperburuk situasi. Konflik geopolitik dan fluktuasi pasar keuangan global membuat ekonomi domestik semakin rentan.
Para ekonom mengingatkan bahwa kombinasi kenaikan harga energi, pelemahan rupiah, dan tekanan fiskal harus diantisipasi dengan kebijakan yang hati-hati. Koordinasi antar lembaga ekonomi menjadi kunci menjaga stabilitas.
Jika skenario terburuk ini benar-benar terjadi, maka target pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen akan sulit tercapai. Pemerintah pun dituntut untuk menyiapkan strategi mitigasi agar dampaknya tidak semakin meluas.(*)

