Iin Risdawati, Pelukis “Urang Awak” di Yogyakarta Bertutur tentang Rasa dan Pikir Pengalaman Hidup

oleh -

Iin Risdawati, Pelukis “Urang Awak” di Yogyakarta Bertutur tentang Rasa dan Pikir Pengalaman Hidup

Semangatnews.com, Yogyakatrta – Selalu berkarya, berpameran kemudian berkarya lagi dalam petualangan perenungan bathiniah merupakan cerminan konsekwensi perjalanan seniman seni rupa selama ini.

Begitulah yang dialami satu lagi pelukis wanita Iin Risdawati (40 th) satu diantara sedikit pelukis wanita “urang awak” yang kini bermukim dan berkarya di Daerah Istimewa Yogyakarta yang karya-karyanya mampu mencuri perhatian publik tanah air.

Sejumlah karya-karya Iin Risdawati alumni SMSR Negeri Padang (1998) dan ISI Yogyakarta (2005) yang kini bermukim di Gamping Kidul, RT 01/18 No 234, Ambarketawang, Gamping, Sleman, Yogyakarta itu terlihat menuturkan banyak cerita dan peristiwa yang dirangkum secara ilustratif naratif dengan goresan warna-warna dan liukan garis-garisnya yang lembut, sesuai kekhasan karyanya selama ini dilandasi semangat bermainnya yang cukup tinggi.

Sejumlah karya-karya lukis cat air Iin Risdawati baik semasa di SMSR Negeri Padang maupun di ISI Yogyakarta saat diamati Semangatnews.com dapat dilihat dan diamati, paling tidak bisa diterjemahkan dalam bahasa visual sebagai bentuk dan cara mengumpulkan kepingan rasa dan pikir yang berasal dari pengalaman hidup di muka bumi ini.

Menurut Iin Risdawati, kenangan dari pengalaman hadir dalam berbagai cara. Terkadang berurutan, tapi bisa juga bersamaan dan menjadi tumpang tindih dan berlapis-lapis. Karya karya yang disaksikan saat ini merupakan cerita pertemuan antara kenangan masa lalu dan keinginan untuk masa depan dalam bahasa visual.

Pengamat seni rupa dan kurator Muharyadi diminta Semangatnews.com komentarnya perihal karya-karya lukis Iin Risdawati, menyebutkan, dalam catatan sejarah seni lukis dunia yang ada di tengah-tengah masyarakatnya terlanjur dikuasai kalangan laki-laki termasuk di Indonesia. Namun walau pun demikian bukan berarti tidak ada kalangan wanita yang karya-karyanya juga mampu mencuri perhatian publik dan layak di catat dalam sejarah.

Menurut Muharyadi, merujuk peristiwa tahun 2013 lalu pelukis asal Jerman Georg Baselitz bahkan pernah membuat pernyataan mengejutkan publik. Georg Baselitz memberi pernyataan, bahwa, perempuan tidak pernah melukis dengan baik sebagai sebuah fakta kecuali pelukis wanita Louise Elisabeth Vigée Le Brun (1755-1842) yang memiliki peran penting di eranya.

Mencuatnya reputasi Le Brun membuat banyak seniman laki-laki merasa iri dan cemburu. Disebabkan karena Le Brun mendapatkan uang yang lebih banyak daripada seniman laki-laki pada umumnya, ujar Muharyadi menceritakan cuplikan sejarah seni lukis kalangan perempuan dunia.

Namun demikian, diakui kalangan pelukis laki-laki sebenarnya telah lama mendominasi peran wanita dalam seni rupa khususnya seni lukis. Tapi bukan berarti tidak ada pelukis wanita yang melahirkan karya-karya terbaik, diakui sejumlah nama-nama pelukis wanita di tanah air, bahkan membuktikan bahagian sejarah seni lukis Indonesia nama-nama pelukis wanita merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari catatan sejarah seni lukis Indonesia diantaranya Titis Jabaruddin, Maria Tjui, Kartika Affandi dan beberapa nama lain.

Dari kalangan pelukis wanita usia muda juga terdapat banyak nama, Iin Risdawati serta banyak lagi pelukis wanita lain di tanah air kini menuju kesana, ujar Muharyadi memberi ilustrasi. (SS/FR/YSM).