Jakarta, Semangatnews.com – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran pasar energi global. Iran memperingatkan bahwa harga minyak dunia bisa melonjak hingga mencapai US$200 per barel apabila konflik di kawasan terus meningkat.
Peringatan tersebut disampaikan pejabat militer Iran di tengah eskalasi perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel. Teheran menilai ketidakstabilan kawasan dapat langsung berdampak pada pasokan energi global.
Iran bahkan menuding pihak Barat sebagai penyebab utama destabilisasi keamanan regional. Menurut mereka, kondisi geopolitik yang memanas akan mendorong pasar minyak menghadapi lonjakan harga ekstrem.
Ketegangan tersebut terjadi bersamaan dengan gangguan lalu lintas kapal tanker di kawasan Teluk Persia. Sejumlah serangan terhadap kapal dan fasilitas energi membuat pasar energi semakin cemas terhadap ketersediaan pasokan minyak.
Kawasan Selat Hormuz menjadi titik paling krusial dalam krisis ini. Jalur laut tersebut merupakan salah satu rute utama pengiriman minyak dunia yang menyalurkan sekitar 20 persen pasokan global.
Jika jalur ini terganggu atau ditutup, dampaknya bisa langsung terasa pada harga minyak internasional. Banyak analis menilai pasar energi sangat sensitif terhadap gangguan kecil sekalipun di wilayah tersebut.
Perang yang terjadi juga sudah mendorong volatilitas besar di pasar energi global. Harga minyak sempat melonjak tajam karena kekhawatiran gangguan produksi dan distribusi.
Sejumlah negara dan organisasi energi internasional mulai mempertimbangkan langkah darurat untuk menstabilkan pasar. Salah satu opsi yang dibahas adalah pelepasan cadangan minyak strategis secara besar-besaran.
Namun, sebagian pejabat energi di Barat menilai lonjakan hingga US$200 per barel masih belum pasti terjadi. Mereka berpendapat bahwa pasar global memiliki mekanisme untuk meredam lonjakan harga ekstrem.
Meski demikian, ancaman lonjakan harga minyak tetap menjadi perhatian utama dunia. Harga energi yang tinggi berpotensi mendorong inflasi global dan menekan pertumbuhan ekonomi.
Dengan konflik yang belum menunjukkan tanda mereda, pasar energi global kini berada dalam kondisi waspada. Setiap perkembangan militer di Timur Tengah dapat langsung memengaruhi harga minyak dunia.(*)

