Jakarta, Semangatnews.com – Iran menyatakan kesiapannya untuk mempertimbangkan pengurangan tingkat pengayaan uranium, bahkan hingga melakukan dilusi, jika Amerika Serikat mencabut semua sanksi ekonomi yang selama ini membebani Teheran. Pernyataan ini muncul di tengah upaya terbaru kedua negara untuk meredakan ketegangan dan membuka jalur negosiasi soal program nuklir Iran.
Mohammad Eslami, Kepala Badan Energi Atom Iran, mengatakan bahwa Tehran bisa setuju untuk dilusi uranium yang diperkaya tinggi jika ada jaminan pencabutan semua sanksi internasional. Hal ini disampaikan dalam sesi tanya jawab dengan media di Teheran.
Dilusi uranium berarti mencampurkan uranium yang diperkaya tinggi dengan bahan lain agar kadar U‑235 turun ke tingkat yang lebih rendah, jauh dari ambang yang mendekati bahan baku senjata nuklir. Langkah ini akan menjadi konsesi besar bagi Iran, yang selama ini bersikeras pada haknya untuk mempertahankan program nuklirnya.
Eslami menegaskan bahwa keputusan tersebut sangat tergantung pada pencabutan sanksi sepenuhnya. Ia menambahkan bahwa pemindahan uranium ke luar negeri bukan bagian dari rencana Tehran, melainkan ide pihak luar untuk meredakan ketegangan.
Pernyataan Iran muncul di tengah pembicaraan tidak langsung antara Teheran dan Washington, dimediasi oleh negara ketiga seperti Oman. Negosiasi ini bertujuan membuka kembali dialog setelah putusnya pembicaraan sebelumnya akibat ketegangan militer dan diplomatik.
Amerika Serikat menekankan bahwa pembatasan ketat pada program pengayaan uranium merupakan prasyarat utama untuk kesepakatan baru. Washington bahkan menginginkan penghentian total pengayaan uranium sebagai syarat awal perjanjian, yang menjadi titik perbedaan utama antara kedua pihak.
Iran menolak permintaan tersebut, menegaskan haknya mempertahankan kemampuan pengayaan sebagai bagian dari program nuklir damai dan untuk tujuan sipil. Menteri Luar Negeri Iran menyatakan bahwa berhenti total bukanlah opsi dan menjadi prinsip negosiasi Tehran.
Pendekatan Tehran menekankan dialog terbuka dan saling menghormati, sambil menolak pendekatan paksaan. Pencabutan sanksi dianggap sebagai langkah kepercayaan awal yang penting untuk membuka pintu diplomasi lebih lanjut.
Situasi ini menunjukkan dinamika kompleks antara kedua negara yang telah lama berseteru soal isu nuklir. Kesediaan Iran untuk mempertimbangkan pengurangan pengayaan uranium, meskipun dengan syarat berat, menjadi sinyal penting bagi diplomasi global.
Namun, tantangan terbesar tetap pada rekonstruksi kepercayaan antara Tehran dan Washington. Distrust akibat sanksi bertahun-tahun dan ketegangan geopolitik membuat setiap langkah diplomatik harus dijalankan hati-hati.
Prospek pencabutan sanksi, termasuk pembekuan aset Iran dan pelonggaran larangan perdagangan, menjadi agenda utama pembicaraan lanjutan. Iran menilai pencabutan itu sebagai bukti komitmen AS terhadap dialog yang seimbang.
Dengan latar belakang geopolitik yang terus berubah, perkembangan kebijakan ini akan menjadi isu utama dalam hubungan internasional beberapa bulan ke depan. Bagaimana kedua pihak menegosiasikan isu ini diyakini akan berdampak besar terhadap stabilitas regional dan agenda non-proliferasi nuklir global.(*)
