Oleh : Muharyadi
PADANG, SEMANGATNEWS.COM – Banyak hal menarik dapat dilihat, diamati dan dihayati dalam mengapresiasi karya karya patung kontemporer Indonesia dan Mancanegara melalui pameran “The Arby Samah International Sculpture Residency And Exhibition” yang berlangsung sejak 8 sd 14 Oktober 2026 di Galeri Taman Budaya Sumbar, Jalan Dipenogoro 31 Padang, Sumatera Barat.
Pameran kedua kalinya ini digelar, setelah sukses pada pelaksanaan pameran pertama 2025 lalu dalam rangkaian memperingati kelahiran Arby Samah bergelar Datuak Majo Indo (1 April 1933 – 6 September 2017) sebagai pelopor patung abstrak pertama di Indonesia. Dari tanah air ikut serta berpameran diantaranya selain karya Arby Samah tercatat nama Ali Umar, Angga Elpatsa, Ardim DT. Saripado, Irwanto, Jonh Hardi, Jon Wahid, Lara Forma/Anita Dikarina.

Dari belasan pematung mancanegara yang diundang, delapan diantaranya ikut serta dalam pameran ini. Tercatat Bettona Vogel (Jerman), Don Wright (kelahiran Skotlandia dan bermukim di Australia), Ema Kissova (Slowakia), Mashahito Iwano (Jepang), Niles Shakya (Nepal), Nor Naziroh (Malaysia), Sung Baeg Cho (Korea Selatan), Haryanto Basuki (Australia kelahiran Indonesia berkarya di Australia), Tsa Yu-Han (Taiwan).
Tiga pematung luar negeri yang absen yang ikut serta pada pameran pertama tahun 2025 silam yakni Laxman Bhujel (Nepal), Jorg Van Daele (Belgia) kedua pematung tak dapat hadir, akan tetapi masih menyertai karya lamanya seperti pematung Laxman Bhujel (Nepal)

karya, Aayam, 85x26x15m Batu, 2025, Jorg Van Daele (Belgia) Drop Of Peace, 40x35x10 cm “Trapertina Blue Store”. Sementara Rosli Zakaria (Malaysia) tak ikut sama sekali dengan alasan kabut asap kian menebal melanda Negeri Jiran saat ini.
Terus Berevolusi dengan Inovasi dan Kreativitas
Pada pameran kedua tahun 2026 ini menyaksikan sejumlah karya karya seniman patung baik dari tanah air mancanegara yang tidak hanya mencuri perhatian piblik yang hadir, akan tetapi meninggalkan jejak yang mendalam, karena dunia seni patung terus berevolusi, dipenuhi dengan inovasi dan kreativitas seniman yang membentuk lanskap budaya global.

Setiap pematung terlihat memiliki gaya dan pendekatan unik dengan menonjolkan tema-tema penting seperti kemanusiaan, lingkungan, sosial budaya bahkan identitas. Beberapa di antaranya telah berkolaborasi dengan berbagai disiplin seni, menciptakan karya yang menggugah pemikiran masyarakat melalui eksplorasi material dan metode, mereka terus mendorong batasan seni patung ke arah baru yang kian menantang.
Pematung Masahito Iwano, melalui seni instalasi yang diusungnya secara simbolik bertutur tentang awan tebal menyelimati alam dengan pemanfaatan eksplorasi bahan yang digunakan. Instalasi karyanya tidak hanya menjadi simbol refleksi lingkungan tetapi juga merupakan refresentasi global yang dihadapi dunia saat ini. Karyanya ini sangat personal didasari pengalamannya melihat dan mengamati alam sekitar yang dihubungkandengan kesehatan manusia, lingkungan dan alam tanpa kehilangan nilai estetika di karyanya.

Pematung Bettina Vogel (Jerman) melalui karyanya “Twosome”, Batu Norwegia 15x17x14 cm, 2026 secara simbolik menampilkan bentuk organik yang berhubungan secara halus dan penuh kehangatan. Karyanya bukan hanya menarik dilihat dari hubungan sesama manusia berlain jenis, material batu yang ditemukan pematung Jerman ini mengilhaminya untuk menciptakan keseimbangan visual yang menjangkau dan menyapa ruang kemanusiaan untuk saling berinteraksi secara masif. Patung interaktif kini semakin populer, mengundang partisipasi penonton dan menjadikan karya tersebut lebih dari sekadar objek statis.
Pematung Don Wright menyuguhkan patung lingkaran kawat membentuk dua sosok manusia berjudul “The Sound of Silence”, Kawat, 100x100x50 cm, 2019. Karya ini menampilkan stilasi dua figur manusia ini mengkritisi krisis komunikasi antar manusia di era moderen akibat ketergantungan pada telepon seluler.

Ia menyoroti kontradiksi teknologi informasi – bagaimana perangkat yang sejatinya untuk mendekatkan dan menghubungkan manusia – justru seringkali menjadi benteng penghubung interaksi tatap muka hingga menyisakan rasa asing satu dengan yang lainnya.
Sejumlah karya lainnya hasil penjelajahan kreativitas Tok Basuki (Australia, Indonesia), Sung Baeg Cho (Korea Selatan), Ema Kissova (Slovakia), Niles Shakya (Nepal), Nor Naziroh (Malaysia) dan Tsa Yu-Han (Taiwan), tetap saja mengikuti perkembangan seni patung kontemporer. Karya karya mereka tidak hanya menjadi refleksi di zamannya, tetapi juga mengajak kita untuk berpikir lebih dalam tentang isu-isu yang dihadapi dunia saat ini
Sebagaimana menjadi isu penting seni patung kontemporer saat ini yang mengalami dinamika signifikan dalam beberapa tahun terakhir disebabkan tren baru, kemajuan teknologi, diakui banyak pengamat dan kurator menjadi pendorong utama dalam menentukan arah dan kualitas karya-karya patung yang lahir kepermukaan saat ini.
Keterpengaruhan dan Bayang bayang Arby Samah Pada Karya Patung Yang Tampak
Anita Dikarina anak kedua dari 5 bersaudara pasangan Arby Samah dan Murtina yang dalam kesempatan pameran ini memakai nama Lara Forma mengetengahkan karya “In The Between di Ruang Peralihan”, 100×30 cm, 2025 dan The Seed Of Time, Kayu Laban, 35x20x15 cm, 2025 meski dalam pengakuannya berfokus pada eksplorasi patung abstrak kontemporer, tapi bayang bayang sang maestro Arby Samah, tetap saja melekat pada karya yang dibuatnya setahun lalu.
Tak terkecuali dua karya patung Ardim DT Saripado ; “Penjaga Gema Tanah”, Kayu, 68×14 cm, 2026 dan Simponi Dalam Figur, Kayu, 53,5x 12 cm, 2026, meski konsiten memakai material kayu dalam eksplorasi karyanya bayang bayang Arby Samah dalam sekecil apapun bentuk tetap muncul. Kekuatan Ardim terletak pada pahatan karya di setiap ritme dan tekstur yang menyelimuti totalitas masing masing ruang tiga dimensi yang disiasatinya dalam kerja mematung.
Ali Umar pematung yang juga salah seorang inisiator perlunya didirikan museum “Zaini-Nashar” di Pariaman muncul dengan karya berjudul “Allah”, Kayu Jati, 20x32x5 cm, 2026. Ia selama ini membangun narasi artistik yang melintasi batas antara tubuh, ruang, material dan makna. Melalui pendekatan ekspresimental , ia memposisikan sebagai sebagai bentuk respon kritis terhadap peristiwa sosial, nilai nilai budaya serta dinamika spritual masyarakat.
Kalimat Allah pada karyanya dipahami sebagai mahakuasa, maha mengetahui, maha penyayang, maha adil yang melampaui pemahaman manusia sebagai umat ciptaan-NYA. Dalam Islam, “Allah” adalah nama yang digunakan untuk merujuk kepada satu-satunya Tuhan, Pencipta alam semesta dan segala isinya. Nama “Allah” dianggap sebagai nama Tuhan yang paling suci dan digunakan secara eksklusif untuk-Nya. Al-Qur’an menekankan keesaan dan keunikan absolut Allah, sebagai satu-satunya Tuhan yang layak disembah.
Seniman John Hardi, lelaki kelahiran Padang 69 tahun lalu yang pernah menempuh pendidikan formal di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta (1987) ini dan pernah berguru kepada Nyoman Gunarsa, Widayat dan Fadjar Siddik di karyanya berjudul “Studi Kelopak” 50x40x70 cm, 2026 mencerminkan diversifikasi dalam material dan konsep. Karya ini terlihat unik dan menarik mata pengunjung.
Seniman Angga Elpatsa, Jon Wahid dan Irwanto ketiganya menunjukkan keberagaman style yang dipilih yang seni patung kontemporer semakin meluas dengan beragam eksplorasi yang dimunculkan yang sering kali fokus pada isu-isu sosial, budaya dan politik yang tak terhindarkan saat ini.
Dalam catatan kita Seni kontemporer sering disebut sebagai “the art of today,” — seni masa kini yang telah sejak akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21 yang biasanya menampilkan karya seni inovatif bahkan tidak seragam kadang sulit dideskripsikan secara tepat, karena memang memiliki pendekatan atau gaya tersendiri yang membedakannya dengan cabang seni yang lain.
Namun demikian, pendekatan dasar dari gaya bahwa seni kontemporer itu adalah sarana untuk mengekspresikan diri, untuk mengeksplorasi ide-ide baru, melampaui batas-batas tradisional, dan sebagai cara untuk merespons atau terlibat dalam isu sosial dan budaya terkini sehingga menghasilkan karya seni inovatif, dinamis, unik, dan bisa menggugah pikiran orang yang melihat, mengamati, memandang dan menghayatinya secara sungguh sungguh. Seniman yang berpameran saat ini dapat saja terinspirasi dari banyak hal yang ada di sekitar mereka yang mengeksplorasi identitas budaya, isu-isu sosial dan tren terpopuler yang sedang berkembang di tengah tengah masyarakatnya. (***)
Catatan Redaksi
Muharyadi, Seniman, Kurator dan Jurnalis

