Jakarta, Semangatnews.com – Kabut asap yang menyelimuti sebagian wilayah Sarawak, Malaysia, memaksa pemerintah setempat mengambil langkah darurat di sektor pendidikan. Sebanyak 591 sekolah di 10 distrik ditutup sementara setelah kualitas udara memburuk akibat kabut asap yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan di kawasan Kalimantan.
Keputusan tersebut berlaku selama dua hari dan mencakup sekolah dasar maupun sekolah menengah. Wilayah yang terdampak antara lain Kuching, Padawan, Bau, Lundu, Samarahan, Simunjan, Serian, Sri Aman, Lubok Antu, dan Betong.
Penutupan dilakukan sebagai langkah perlindungan terhadap para siswa. Pemerintah Sarawak mempertimbangkan kondisi kualitas udara yang telah mencapai kategori sangat tidak sehat di sejumlah lokasi sehingga kegiatan belajar mengajar secara langsung dinilai berisiko.
Jumlah siswa yang terdampak juga tidak sedikit. Kebijakan tersebut diperkirakan memengaruhi sekitar 200.000 pelajar yang harus menjalani pembelajaran dengan menyesuaikan kondisi selama sekolah ditutup.
Kabut asap semakin menjadi perhatian karena Sarawak berada di Pulau Borneo dan berbatasan langsung dengan sejumlah wilayah Indonesia di Kalimantan. Asap dari kebakaran di wilayah Kalimantan Barat dapat terbawa angin melintasi perbatasan dan menurunkan kualitas udara di wilayah Malaysia.
Sebelumnya, kawasan Tebedu di Sarawak yang berada dekat perbatasan Indonesia juga sempat mengalami tingkat polusi udara sangat tidak sehat. Pada pertengahan Agustus, kondisi tersebut bahkan membuat sejumlah sekolah di kawasan tersebut menghentikan pembelajaran tatap muka dan beralih ke pembelajaran daring.
Kondisi yang terjadi saat ini tidak terlepas dari meningkatnya aktivitas kebakaran di sejumlah wilayah Indonesia. Data pemerintah menunjukkan kebakaran masih menjadi persoalan serius di Kalimantan, Sumatera, dan sejumlah daerah lain yang mengalami musim kering.
Di Indonesia, pemerintah terus meningkatkan operasi pemadaman dengan mengerahkan personel gabungan serta armada udara. Di Kalimantan Selatan saja, BNPB mencatat sekitar 8.900 hektare lahan telah terbakar dan ribuan personel dikerahkan untuk menangani situasi tersebut.
Di Kalimantan Barat, Presiden Prabowo Subianto bahkan turun langsung memantau kondisi lahan terbakar dan memimpin koordinasi penanganan karhutla. Pemerintah menyiapkan tambahan kekuatan personel serta helikopter untuk mempercepat proses pemadaman dan mencegah kebakaran semakin meluas.
Kebakaran yang menghasilkan asap lintas batas menjadi tantangan bersama bagi negara-negara di Asia Tenggara. Selain mengganggu aktivitas pendidikan, kabut asap dapat berdampak terhadap kesehatan masyarakat, transportasi, dan aktivitas ekonomi.
Penutupan 591 sekolah di Sarawak menjadi peringatan bahwa dampak karhutla tidak berhenti di lokasi kebakaran. Selama titik api masih muncul dan asap terus bergerak mengikuti kondisi angin, persoalan tersebut berpotensi terus memengaruhi masyarakat di kedua sisi perbatasan Indonesia dan Malaysia.(*)

