Kadis LH Sumbar : Satu Cara Penyelamatan Danau Maninjau Pengurangan KJA

oleh -

Kadis LH Sumbar : Salah Satu Cara Penyelamatan Danau Maninjau Pengurangan KJA

Semangatnews, Lubuk Basung – Hampir setiap tahun terjadi puluhan ton ikan mati di Danau Maninjau Kabupaten Agam.

Pencemaran yang terjadi di Danau Maninjau tidak ada cara yang lebih simpel dengan pengurangan Keramba Jaring Apung (KJA). Jika tidak pencemaran di Danau Maninjau tidak akan pernah bisa terselesaikan dengan baik.

Hal ini disampaikan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sumbar ir. Siti Aisyah, MSi kepada semangatnews.com Selasa ( 25/2/2020).

Siti Aisyah juga mengatakan program penyelamatan Danau Maninjau, salah satunya melalui pengurangan Keramba Jaring Apung (KJA).

“Pengurangan itu dilakukan dengan cara persuasif dengan menawarkan alternatif pendapatan lain bagi pemilik KJA dan masyarakat sekitar,” ujarnya.

sementara itu pejabat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengemukakan pengelolaan daerah tangkapan hujan Danau Maninjau sebagai salah satu langkah penyelamatan danau dari pencemaran tidak hanya mempertimbangkan faktor ekologi tetapi juga sosial ekonomi masyarakat.

“Pengelolaannya tidak hanya menghutankan kembali, tetapi bagaimana pohon yang ditanam itu bisa memberikan keuntungan secara ekonomi pada masyarakat,” kata Kasubdit Pengendalian Kerusakan Danau KLHK Inge Retnowati di Agam, Rabu beberapa waktu lalu.

Inge Retnowati juga katakan, pengelolaan yang biasa disebut sistem agroforestri itu, katanya, cocok untuk lahan tangkapan hujan di sekitar Danau Maninjau yang memiliki kecuraman cukup tinggi.

“Pepohonan, seperti kopi, cengkeh, durian, dan jengkol, petai, manga dan jambu bisa menjadi pilihan upaya itu, sesuai dengan kondisi lahan. Pengelolaan yang baik bisa mengurangi laju pencemaran danau,” katanya.

Sistem agroforestri atau wanatani itu juga memiliki kelebihan, yaitu bisa dikombinasikan dengan bidang lain, seperti pertanian, peternakan, dan pariwisata.