Karya Perupa Perempuan Indonesia dari Perspektif Dinamika Politik, Sosial, Budaya Dalam Ranah Estetika

by -
Hildawati Soemantri, (kiri) Lucia Hartini (tengah) dan paling kanan Umi Dachlan
Hildawati Soemantri, (kiri) Lucia Hartini (tengah) dan paling kanan Umi Dachlan

Catatan : Muharyadi

PADANG, SEMANGATNEWS.COM – Di luar belasan peserta Pameran Perempuan Indonesia Women Artists#4 mulai 10 April sd 30 Juni 2026 di Gedung A Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. Terdapat karya-karya para Perupa Perempuan Indonesia terdahulu dengan menyingkap “peta” kepada publik secara bertahap yang melibatkan nama nama ; Hildawati Soemantri, Lucia Hartini, Umi Dachlan dan kawan kawan.

Menurut Aminudin TH Siregar selaku Kurator Kepala Galeri Nasional Indonesia menyebutkan urgensi Galeri Nasional Indonesia memamerkan karya seniman perempuan Indonesia bukan semata mata perihal inklusi, tetapi juga tentang artikulasi ulang. Pameran akan selalu berfungsi sebagai ruang diskursif di mana sejarah tidak hanya ditampilkan tetapi juga diproduksi dan direproduksi.

Dengan menonjolkan seniman perempuan, maka juga berarti kita sedang mempertanyakan bagaimana narasi telah dibangun : karya mana yang dikumpulkan, praktik mana yang dilegitimasi, dan suara mana yang diperkuat atau direduksi. Pameran dalam bingkai khusus “seniman perempuan” adalah kesempatan untuk bergerak melampaui pendekatan aditif dimana perempuan “dimasukkan” ke dalam cerita yang sudah ada menuju restrukturisasi cerita itu sendiri yang lebih kritis.

Lucia Hartini, Spying Eyes Mata Yang Memata-matai, Cat minyak, 150x140 cm, 1989 -- Sumber Marianto, D., Surealisme Yogyakarta, 2001 --
Lucia Hartini, Spying Eyes Mata Yang Memata-matai, Cat minyak, 150×140 cm, 1989 — Sumber Marianto, D., Surealisme Yogyakarta, 2001 —

Tugas Galeri Nasional Indonesia bukan hanya memamerkan seniman perempuan, tetapi bagaimana menempatkan karya mereka dengan cara yang menantang hierarki makna yang diwariskan. Ini akan melibatkan pemikiran ulang terkait kerangka kerja kuratorial, peninjauan ulang koleksi, dan terus mendorong kajian yang menempatkan seniman-seniman perempuan dalam dinamika seni rupa Indonesia yang lebih luas—politik, sosial, dan estetika. Dengan demikian, pameran menjadi tempat di mana historiografi secara aktif dinegosiasikan daripada diulang secara pasif.

Hildawati Soemantri Ranting II, Mixed Media, 60 x 40 cm, 1998
Hildawati Soemantri Ranting II, Mixed Media, 60 x 40 cm, 1998

Galeri Nasional Indonesia menyadari ; historiografi yang sepenuhnya memperhitungkan peran perempuan adalah historiografi yang lebih akurat mencerminkan kompleksitas produksi artistik di Indonesia. Hal ini memungkinkan narasi yang tidak hanya lebih inklusif, tetapi juga lebih ketat secara analitis. Dengan terus terlibat dalam kehadiran perempuan yang berlapis-lapis dalam seni rupa Indonesia, Galeri Nasional Indonesia berharap bisa dapat melampaui biner antara ketidakhadiran dan inklusi, dan sebaliknya, berpartisipasi dalam membangun historiografi yang lebih reflektif dan lebih diperdebatkan.

Karya Perempuan Perupa Indonesia Terdahulu

Menyimak Karya Perempuan Perupa Indonesia Terdahulu mendampingi belasan karya peserta Indonesia Women Artists#4 mata kita tertuju pada karya perupa Hildawati Soemantri yang lahir di tahun Kemerdekaan RI 1945 dan wafat tahun 2003.

Umi Dachlan, Lust for Life, Akrilik, 139 x 138,3 cm, 1995
Umi Dachlan, Lust for Life, Akrilik, 139 x 138,3 cm, 1995

Maka sebagai pelopor seni keramik instalasi di Indonesia, ia memadukan objek keramik utuh dan fragmen menjadi komposisi ruang tiga dimensi yang menghadirkan pengalaman spasil. Praktiknya membuka kemungkinan baru bagi medium keramik yang sebelumnya identik dengan fungsi pakai. Selain berkarya, ia berperan signifikan sebagai pendidik dan administrator di Fakultas Seni Rupa dan Desain IKJ (Institut Kesenian Jakarta), serta aktif sebagai kurator, penulis, dan pembicara dalam berbagai forum seni rupa nasional bahkan internasional.

Dalam catatatan kita, karya “Ranting” memperlihatkan persegi di dalam persegi dan di atas persegi. Pengulangan bentuk berirama. Lempeng keramik diposisikan di atas bidang kertas daur ulang pada bagian kanan atas. Di sisi kiri diletakkan ranting tertekuk tajam keluar dari frame. Bidang karya menjadi tidak terbatas.

Saat mengamati detail, akan ditemui di antara bentuk geometri solid, Hilda memberikan sentuhan biomorf persegi yang tidak presisi. Ranting kayu diletakkan asimetri mengubah dinamika komposisi karya. Di tengah karya ada kilau merah metalik mengimbangi bidang warna kuning tajam di sisi kanan atas. Sebuah pemikiran akan konsep keseimbangan, antara 2 elemen beda karakter saling melengkapi.

Mengutip ulasan Ira Adriati dalam tulisannya berjudul ; “Karya yang Mendobrak” mengulas lukisan Lucia Hartini (1959–2025) berjudul Spying Eyes/Mata yang memata-matai, cat minyak, 150 x 140 cm, 1989 (Sumber: Marianto, D., Surealisme Yogyakarta, 2001) menyebut antara struktur bata yang nyata, kain yang nyata, mata bertebaran, dan sosok perempuan yang tertidur lelap yang nyata, semua tersusun menjadi komposisi yang di luar kenyataan sebagaimana terlihat di karyanya.

Karya ini merupakan ungkapan perasaannya saat dia berjuang menjadi ibu tunggal. Para tetangga seakan-akan mengawasi gerak geriknya sebagai perempuan tidak bersuami. Pada awal tahun 1990-an dalam budaya Indonesia belum lumrah seorang perempuan mengungkapkan perasaannya secara terbuka. Karya Lucia Hartini menjadi salah satu ekspresi perempuan yang berani menceritakan perasaannya tentang posisinya sebagai seorang janda.

Keberadaan Lucia Hartini dalam catatan Sejarah seni rupa Indonesia menjadi sangat penting, karena beliau konsisten memilih obyek-obyek untuk mengungkapkan perasaan dan pemikirannya. Alam semesta, buihan air, sosok dirinya, maupun kuda menjadi obyek-obyek pentingnya. Visualisasi gaya surealis yang dipilihnya menjadi ciri khas karyanya. Semua pilihannyanya didukung kemampuan teknis hingga detail, rinci dan mampu menghipnotis mata menunjukkan kekuatannya.

Lukisan Lust for Life (1995) karya Umi Dachlan (13-8-1942–1-1- 2009) berukuran 99,6 X 99,6 cm, dengan latar belakang warna merah mendominasi bidang kanvas. Dibagian kiri bawah kearah tengah terlihat ada gambaran seperti binatang bertanduk menyerupai banteng dan ada benda memanjang seperti menancap dipunggungnya, dibagian punggung tersebut ada lelehan warna merah.

Pada bidang kanan arah keujung atas ada gambaran figure manusia dari ciri-cirinya seperti laki laki berambut hitam. Figur itu memakai pakaian berwarna kuning muda, kemeja dalam berwarna putih menyerupai kostum matador.

Tata letak dan komposisi obyek dan subyek memperlihatkan keduanya seperti saling menyerang yang, tampak banteng menyerang dengan tanduknya, sedangkan figure matador menyerang sambil bertahan dengan tombak dan berhasil menancapkan tombak dipunggung banteng yang tampak luka. Gambaran itu bila dinarasikan sebagai refpresentasi atau realitas adegan saja, pertarungan matador dan banteng yang memunculkan rasa ngeri terasa agresifitas keduanya.

Tata letak dan komposisi obyek dan subyek memperlihatkan keduanya seperti saling menyerang yang, tampak banteng menyerang dengan tanduknya, sedangkan figure matador menyerang sambil bertahan dengan tombak dan berha -sil menancapkan tombak dipunggung banteng tampak luka itu mengalirkan darah. Gambaran itu bila dinarasikan sebagai refpresentasi atau realitas adegan saja, pertarungan matador dan banteng yang memunculkan rasa ngeri terasa agresifitas keduanya.

Muatan makna dan nilai yang disampaikan oleh Umi Dachlan pada lukisan Matador ini bisa jadi merupakan kepekaan, kepedulian, dalam merespon kekacauan sosio-geo-politik akibat konflik internal dan eksternal yang terjadi pada aspek aspek kehidupan manusia, bukan hanya di Indonesia juga didunia pada waktu karya itu diciptakan.

Umi Dachlan sedang menafsir masalah disharmoni tatanan kehidupan manusia yang diungkapkan dengan sangat indah dalam lukisan Matador yang berjudul Lust for Life atau “Hasrat untuk Hidup”, judul dengan gejala semantik yang unik dan diungkapkan dengan sangat puitik. (***)

Catatan Redaksi
Muharyadi, Penggiat Seni Rupa, Kurator dan Jurnalis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.