Catatan : Muharyadi
JAKARTA, SEMANGATNEWS.COM – Belasan Perupa Perempuan Indonesia sejak 10 April hingga 30 Juni 2026 mengikuti pameran IWA#4 (Indonesia Women Artist#4) di Gedung A Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.
Menariknya iven ini. tidak hanya sekadar pameran, melainkan sebagai upaya menyingkap peta perjalanan dan capaian artistik perupa perempuan lintas generasi di tanah air.
Pameran IWA #4 dikuratori Carla Bianpoen, Vidhyasuri Utami, dan Bagus Purwoadi tersebut menghadirkan perupa wanita diantaranya ; Ines Katamso, Irene Agrevina, Nona Yoanishara, Rani Jambak, Bibiana Lee, Citra Sasmita, Cinta Bumi Artisan, Dyantini Adeline, KaNa Fuddy Prakoso, Endang Lestari, Tara Kasenda, Ni Nyoman Sani dan Ve Dhanito.

Pameran tidak hanya menyajikan karya-karya perupa kontemporer, melainkan juga karya-karya perupa perempuan terdahulu dengan menyingkap “peta” perkembangan kesenimanan perempuan perupa Indonesia melibatkan karya-karya Sri Astari Rasyid, Erna Pirous, Hildawati Soemantri, Lucia Hartini, Marida Nasution dan Umi Dachlan.
Menurut Kurator Carla Bianpoen ; dalam dua dekade lalu sejarah seni rupa Indonesia yang ditulis dalam berbagai kesempatan banyak mengabaikan pengalaman perempuan.

“Kami mulai melihat berapa perupa perempuan yang bisa didapat, pameran IWA pertama mengangkat 34 perupa perempuan ke permukaan, setelah itu kami menghadirkannya lagi tahun 2019 dan 2022, dan 2026 hadir keempat kalinya,” ucap Carla Bianpoen yang juga kritikus seni tersebut”, memberi penjelasan.
Dalam catatan kita, sejak dimulainya IWA#1 tahun 2007, tersirat bahwa rangkaian pameran demi pameran menunjukkan komitmen dalam membangun arsip kultural sekaligus meneguhkan kontribusi perupa perempuan dalam percakapan kebudayaan.

Mengingat kehadiran perupa perempuan dalam setiap iven pameran ditandai adanya perkembangan penting ekosistem seni rupa Indonesia. Mereka menyoroti berbagai persoalan berkaitan kehidupan sosial, pengalaman keperempuanan, yang membuka kemungkinan munculnya cara pandang baru dalam memahami realitas kehidupan.
Dalam penulisan sejarah seni rupa Indonesia yang mengabaikan narasi perempuan, pada awal 2000-an tiga perempuan penulis memulai penelitian mereka tentang perempuan-perempuan perupa di Indonesia.
Meski sempat diperingatkan salah seorang pemilik galeri terkemuka bahwa tidak ada perempuan perupa di Indonesia, mereka tetap melanjutkan penelitiannya, membaca ulang kesenimanan perempuan-perempuan perupa yang pada masa itu praktiknya belum banyak dipublikasikan. Di dukung Ketua Yayasan Seni Rupa Indonesia, Miranda Goeltom, tiga perempuan penulis ; Carla Bianpoen, Farah Wardani dan Wulan Dirgantoro akhirnya menerbitkan, Indonesian Women Artists : The Curtain Opens (selanjutnya The Curtain Opens) tahun 2007.

Sejak didirikan oleh Prof. Toeti Heraty—kemudian dilanjutkan Inda C. Noerhadi—Cemara 6 Galeri-Toeti Heraty Museum telah memberikan dukungan yang konsisten kepada para perupa perempuan dengan terus menyoroti kesenimanan mereka dari masa ke masa.
Gagasan tentang penyelenggaraan peristiwa atau platform seperti Indonesian Women Artists (IWA) selaras dengan visi Prof. Toeti Heraty, dan Cemara 6 Galeri – Toeti Heraty Museum, sebagai sebuah institusi. Maka, pada 2019 Yayasan Cemara Enam, lembaga yang menaungi Cemara 6 Galeri – Toeti Heraty Museum, mendukung gagasan Carla Bianpoen untuk melanjutkan apa yang telah dimulai oleh The Curtain Opens untuk menerbitkan buku dan menyelenggarakan pameran Indonesian Women Artists : Into the Future (selanjutnya, Into the Future).
Into the Future disusun oleh Carla Bianpoen, Inda C. Noerhadi dan Citra Smara Dewi untuk menyajikan karya-karya beragam media, praktik dan pendekatan tidak hanya melibatkan filsafat, tradisi, dan budaya, melainkan juga sains dan teknologi.

Hal yang sangat penting juga tersirat ; kerja seni seperti Indonesian Women Artists (IWA) memiliki arti penting karena menghadirkan ruang dokumentasi, presentasi, dan pertemuan karya dengan publik secara berkelanjutan.
Terutama sejak dimulai tahun 2007, dalam rangkaian pameran ini menunjukkan komitmen untuk membangun arsip kultural sekaligus meneguhkan kontribusi perupa perempuan dalam percakapan kebudayaan. Sekaligus ruang pembelajaran bersama mempertemukan seniman, kurator, peneliti, dan masyarakat dalam percakapan yang lebih luas.
Pameran yang dapat “dibagi” menjadi 3 (tiga) kategori berbeda yakni : Tubuh, Alam, dan warisan budaya. Ketiga sub kategori tersebut bukanlah pemilahan jelas dan ajeg karena berawal dari pengalaman para perupa yang kaya dimensi dan aspek.
Publik pun akan bertemu dengan simpangan ketiga aspek kategori tersebut karena memang — situated knowledge – yang menawarkan sebuah pengetahuan berdasarkan pengalaman dan kerap kali sulit dipilah-pilah dalam kategori-kategori seperti cabang-cabang ilmu pengetahuan pada umumnya.
Keterkaitan dan keluasan aspek-aspek menjadi sebuah tawaran baru dalam epistemologi yang muncul. Karya-karya yang ada pun bukanlah sekedar legenda penunjuk unsur dalam sebuah peta, melainkan sebuah tawaran kompleks aspek-aspek kekayaan ilmu pengetahuan melalui karya seni yang tampak.
Untuk memungkasi tiga edisi IWA sebelumnya dan memberi jalan bagi peristiwa atau platform serupa berskala biennale. Sejauh ini, penyelenggaraan biennale selalu berorientasi kewilayahan, sehingga sesungguhnya ada ruang yang luas bagi platform seperti IWA untuk mengisi kekosongan biennale yang berorientasi pada isu.
Selain itu, tiadanya Biennale Perempuan hingga saat ini sesungguhnya juga merupakan fenomena, yang janggal mengingat kiprah dan apresiasi terhadap perempuan perupa dan kurator Indonesia saat ini sudah jauh lebih baik dari dua dekade lalu.
Selain memandang adanya kebutuhan untuk mengisi kekosongan biennale berbasis isu di Indonesia, IWA juga memandang bahwa gagasan tentang kesetaraan gender merupakan sebuah kesadaran dan gerakan berskala global. Sehingga, biennale dirasa menjadi platform yang paling tepat untuk melantangkan perspektif perempuan yang telah diupayakan IWA sejak penerbitan The Curtain Opens pada 2007 lalu.
Diantara Karya karya Pameran IWA#4
Perupa Bibiana Lee (70 th), perupa multidisiplin yang bekerja dengan beragam material dan teknik, dipandu oleh pengamatan personal, pengalaman hidup, serta riset yang mendalam. Karya-karyanya merefleksikan realitas kontemporer melalui sudut pandang pribadi, sekaligus menjadi medium untuk menyuarakan isu-isu yang sering terpinggirkan terhadap kelompok minoritas, ketidakadilan sosial, represi politik, persoalan identitas, dinamika gender, Kesenjanga kesenjangan sosial -ekonomi, serta dampak globalisasi.
Lihat karyanya “Tangan-tangan terbuka” melambangkan suara kolektif rakyat—sekaligus harapan, perlawanan, dan potensi solidaritas. Sebagian tangan bertato naga, simbol kekuatan, daya tahan, dan energi transfo- rmasi untuk melawan penindasan; sementara tangan lainnya bertato Qilin, yang merepresentasikan kepemimpinan moral, kebijaksanaan, dan etika dalam tata kelola yang adil. Tato, sebagai penanda permanen di tubuh, menjadi meta- fora atas luka, ingatan, dan jejak panjang perjuangan politik.
Citra Sasmita berkolaborasi dengan Cinta Bumi Artisan menghadirkan karya dengan eksplorasi material organik yaitu Ranta atau Barkcloth dari Lembah Bada, Sulawesi. Selain dikenal sebagai situs megalitikum, Lembah Bada memiliki warisan budaya berupa kain yang dibuat dari serat kulit kayu yang selama ribuan tahun telah dimanfaatkan sebagai bahan pakaian dan sarana ritual.
Saat ini, keberlanjutan pengetahuan pembuatan Ranta semakin menurun seiring dengan hadirnya material tekstil modern dan juga pengaruh propaganda pada masa kolonial yang membuat masyarakat setempat meninggalkan material ini dalam kehidupan sehari-hari maupun ritual adatnya.
Di tengah keterbatasan tersebut, sejumlah perempuan dari Lembah Bada yang tersebar di beberapa desa masih giat melestarikan proses pembuatan material Ranta meskipun tidak hanya untuk memenuhi permintaan dari masyarakat setempat, tetapi juga dari daerah-daerah lain di luar Sulawesi.
Dyantini Adeline (35 th) seniman dan pembuat film eksperimental berbasis di Jakarta mengeksplorasi hubungan antara gambar, tubuh, arsip, dan sejarah. Ia merupakan inisiator kolektif pembuat video bernama The Youngrrr yang didirikan tahun 2012. Bersama kolektif tersebut, ia menghasilkan berbagai karya yang dipresentasikan dalam sejumlah perhelatan seni dan festival internasional, seperti Berlinale International Film Festival, European Media Art Festival (EMAF), serta Jakarta Biennale. Ia turut berpartisipasi dalam Proyek Seni Perempuan Perupa yang diinisiasi oleh Dewan Kesenian Jakarta.
Mengangkat isu prihal air bagi Dyantini Adeline merupakan unsur alam yang esensial bagi kehidupan, juga menyimpan potensi kehancuran, hadir sebagai banjir yang datang tiba tiba, merenggut ruang hidup, kenangan, dan rasa aman. Di tengah tata kota yang kian tak terkendali, kebijakan yang serampangan, serta pembangunan yang berlangsung tanpa arah, banjir tak lagi menjadi peristiwa musiman. Ia telah menjadi bagian dari keseharian, hadir berulang setiap kali hujan deras mengguyur kota. Melalui karya ini, Adeline merespon bagaimana memori, rumah, dan identitas perlahan larut dan tergerus oleh siklus bencana yang terus berulang.
Endang Lestari (50 th), lahir di Banda Aceh dan kini berdomisili di Yogyakarta mengabstraksi narasi-narasi berlapis tentang tanah, migrasi, ritual, dan ingatan ekologis melalui medium tanah liat dan media campuran, karyanya menelusuri jejak perpindahan dan kepulangan menghuni ruang antara, dimana geografi, budaya, dan sejarah bertemu dan bertaut.
Endang Lestari mengeksplorasi ekologi regeneratif yang lahir dari retakan budaya, memori yang mengendap, dan siklus alam yang terus bergerak. Lulusan Institut Seni Indonesia Yogyakarta ini kemudian merajut tradisi dari warisan kolektif dengan pendekatan kontemporer— menelusuri jejak nenek moyang untuk membangkitkan ritual, memori tubuh, dan keterhubungan lintas budaya. Karyanya hadir dalam berbagai pameran, program publik, dan residensi, termasuk : program publik ‘Liechtenstein Triennale’ (2021), ‘Biennale Jogja XVII: TITEN’ (2023), ‘Rainforest Fringe Festival’, Sarawak, Malaysia (2017), ‘Artmoments Jakarta’ 2024, 2025), ‘ARTJOG—Art Fair: Jogja Chapter’ (2025), ICAD #15, Finalis UOB Painting of the Year (2025), dan lainnya.
Sementara praktik Irene Agrivina menggabungkan seni media, bioteknologi, dan pendekatan ekologi melalui instalasi, performans, serta platform partisipatif yang menyoroti hubungan antara teknologi, kehidupan sehari-hari, dan lingkungan. Ia juga aktif sebagai kurator dan penggagas berbagai program seni, termasuk sebagai kurator asosiasi Nandur Srawung di Taman Budaya Yogyakarta. Karyanya telah dipresentasikan secara internasional melalui residensi, festival, dan simposium seni-sains di berbagai negara, termasuk Jerman, Prancis, Australia, Singapura, dan Korea Selatan, serta memperoleh berbagai penghargaan dalam bidang seni media dan teknologi.
Dilain sisi perupa KaNa Fuddy Prakoso (53 th), lulusan seni Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta yang kini bermukim di Jakarta yang juga juga menginisiasi ruang kreatif Ruang Garasi Art Space, sebagai wadah untuk berbagi pengetahuan seni dan mendorong partisipasi publik dalam proses kreatif di tanah air menunculkan karya yang mengusung “Zirah Kesadaran” sebagau karya instalasi yang merefleksikan pergulatan manusia dalam menghadapi tekanan dan tantangan hidup.
Terinspirasi sosok Ratu Kalinyamat yang dikenal akan keberanian, kecerdasan, dan kekuatan spiritualnya, karya ini menghadirkan dua patung yang berdiri berdampingan sebagai representasi dualitas manusia—kuat sekaligus rapuh.
Kedua patung tersebut mengenakan baju zirah dua lapis, yang tidak hanya melambangkan perlindungan dan keteguhan, tetapi juga menyiratkan beban dan kerentanan yang tersembunyi di baliknya.
Di bagian pundak, bunga kenanga dari kardus menjadi simbol kesetiaan, cinta, dan kenangan yang tetap melekat meskipun berada dalam situasi sulit. Latar belakang berupa laut yang dibentuk dari kardus menciptakan suasana kontemplatif, menggambarkan luas dan dalamnya kesadaran diri manusia.
Laut menjadi metafora atas perjalanan batin yang penuh gelombang—ketidakpastian, tekanan, dan pencarian makna hidup.
Di sekeliling patung, baju-baju zirah yang digantung memperkuat gagasan bahwa kesadaran diri adalah sesuatu yang terus diuji, dipertanyakan, dan dibentuk ulang sepanjang waktu. Penggunaan kardus sebagai material utama menjadi kritik terhadap budaya modern yang serba instan dan praktis.
Kardus, yang identik dengan kemasan sekali pakai, merepresentasikan kerapuhan serta keterbatasan dalam cara manusia memaknai diri di tengah arus konsumsi dan kemudahan zaman. Secara totalitas, “Zirah Kesadaran” mengajak penonton merenungkan hubungan antara kekuatan dan kelemahan diri manusia, serta pentingnya kesadaran dan kebijaksanaan dalam menghadapi kompleksitas kehidupan.
Sejumlah karya lain hasil penjelajahan kreativitas perupa perempuan dalam pameran IWA#4 ini tak kalah menarik juga disuguhkan Ines Katamso, Ni Nyoman Sani, Nona Yoanishara, Rani Jambak, Tara Kasenda, dan Ve Dhanito. (***)

