Jakarta, Semangatnews.com – Di tengah meningkatnya kasus diabetes tipe 2 di Indonesia, sejumlah ahli kesehatan menyoroti bahwa pemicunya tak selalu dari faktor besar seperti genetik — tetapi bisa berasal dari kebiasaan harian yang dianggap remeh. Pola makan tinggi gula, kurang olahraga, hingga merokok adalah “pintu masuk” utama risiko diabetes.
Seringkali, orang mengabaikan efek dari menambahkan gula di minuman seperti kopi dan teh. Padahal, ketika gula ekstra tersebut dikonsumsi secara rutin, hal itu dapat meningkatkan beban glukosa darah dan melelahkan sistem insulin dalam jangka panjang.
Tidak sarapan pun menjadi kebiasaan yang bisa merusak keseimbangan gula darah. Tanpa asupan awal di pagi hari, hormon seperti glukagon dan kortisol bisa memicu lonjakan glukosa, sehingga tubuh kesulitan mengatur kadar gula saat aktivitas berlangsung.
Kebiasaan duduk lama tanpa aktivitas fisik nyata juga dinilai sangat berbahaya. Tubuh yang tidak cukup bergerak akan menumpuk kalori dan gula yang tidak habis terbakar, berujung pada resistensi insulin dan peningkatan risiko diabetes.
Makan makanan tinggi kalori dan lemak jenuh dari fast food atau makanan olahan juga menjadi pemicu utama. Menu instan yang menggoda rasa lidah sekaligus berat di tubuh bisa menjadi racun diam-diam bila dikonsumsi berulang.
Kurang tidur telah lama disorot sebagai faktor risiko metabolik. Saat tubuh tidak cukup istirahat, hormon stress meningkat dan metabolisme melambat, sehingga sensitivitas insulin menurun dan gula darah bisa melonjak lebih sering.
Merokok menambah lapisan risiko baru. Bukan hanya soal kanker dan jantung, tetapi asap rokok dapat menyebabkan peradangan dan kerusakan sel-sel pankreas, memperburuk kemampuan tubuh dalam memproduksi dan menggunakan insulin secara efektif.
Minuman manis, seperti soda atau jus dengan tambahan gula, merupakan jebakan tersembunyi yang banyak dipandang remeh. Konsumsi rutin minuman semacam ini bisa membuat kadar gula darah melonjak dan memberikan beban ekstra pada pankreas.
Kebiasaan begadang dan stres kronis juga menyumbang risiko besar. Stres berkepanjangan memicu hormon kortisol, sementara pola tidur kacau mengganggu regulasi hormon lain yang berhubungan dengan metabolisme glukosa.
Mengingat berbagai kebiasaan tersebut, pakar gizi menyarankan masyarakat untuk mulai merombak rutinitas sederhana: kurangi gula, bergerak lebih banyak, cukupkan tidur, dan batasi konsumsi rokok.
Perubahan kecil itu bisa memberikan dampak besar dalam mencegah diabetes jangka panjang, sekaligus menjaga kualitas hidup lebih baik di masa depan.(*)

