Jakarta, Semangatnews.com – Ketika hujan musim dingin pertama turun dengan deras di Gaza, banyak keluarga pengungsi terbangun oleh suara gemericik air yang merembes ke dalam tenda. Lokasi yang dahulu dianggap sebagai penampungan sementara kini berubah menjadi kolam lumpur dan genangan tak terduga.
Seorang ayah pengungsi mengatakan bahwa dia menghabiskan malam membersihkan air yang merembes ke dalam tenda. Kasur, selimut, dan pakaian keluarganya semua basah, dan tanpa alat untuk mengeringkannya, mereka harus menerima kenyataan keras bahwa tenda mereka tidak cukup melindungi dari hujan musim ini.
Hujan yang turun beberapa menit saja cukup untuk membanjiri sebagian tenda. Karena sebagian besar tenda sudah usang dan terbuat dari kain tipis, air menetes melalui lubang-lubang, membuat perlindungan yang semestinya memberi rasa aman justru menyulitkan.
Para pengungsi berusaha membuat parit-parit kecil di sekitar tenda agar air bisa mengalir keluar, tetapi tanah yang padat dan struktur tenda yang sederhana membuat upaya tersebut tidak selalu berhasil. Beberapa keluarga bahkan terpaksa berpindah ke tempat yang sedikit lebih tinggi, meski tidak ada jaminan keamanan.
Lembaga pertahanan sipil di Gaza menyatakan bahwa ratusan keluarga telah mengajukan permohonan bantuan. Mereka membutuhkan tenda baru, karavan, dan perlengkapan tahan cuaca agar bisa bertahan di musim hujan yang tampaknya semakin berat.
Di kamp-kamp darurat, penampungan darurat telah menyaksikan kenaikan permintaan tempat untuk tidur yang kering. Banyak orang tua dan anak-anak kecil menggigil karena barang-barang dan alas tidur mereka basah, sementara bantuan masih jauh dari cukup.
Bantuan kemanusiaan dari PBB dan organisasi non-pemerintah sangat diharapkan saat ini. Namun, masalah logistik, kurangnya karavan, dan saluran distribusi yang rusak membuat proses penyaluran bantuan menjadi tantangan besar.
UNRWA menyatakan bahwa meskipun mereka memiliki stok tenda cadangan, akses ke beberapa area kamp masih sulit. Banyak titik pengungsian berada di lokasi yang sulit dijangkau, terutama setelah kerusakan infrastruktur akibat konflik.
Banjir ini juga mengingatkan betapa rapuhnya kondisi pengungsi Gaza. Meski perang mereda di beberapa wilayah, bencana alam seperti hujan deras bisa kembali mengguncang kehidupan mereka yang sudah didirikan di atas ketidakpastian.
Warga pengungsi menyerukan kepada komunitas internasional agar tidak melupakan Gaza di masa damai setelah perang. Mereka berharap suplai musim dingin, tenda kuat, dan dukungan berkelanjutan bisa datang sebelum cuaca berikutnya menunjukkan wajahnya yang lebih keras.
Di tengah tangis, doa, dan kerja keras untuk bertahan, para pengungsi menyadari bahwa musim hujan bukan hanya ujian cuaca — tetapi ujian kemanusiaan yang menuntut solidaritas dunia.(*)
