Khusnul Bahri, Guru dan Seniman Melahirkan Karya-karya Berbasis Kearifan Lokal

by -
Khusnul Bahri, Guru dan Seniman Melahirkan Karya-karya Berbasis Kearifan Lokal
Khusnul Bahri dan salah satu karya patung tembaganya yang tampil pada Festival Guru Internasional di Yogyakarta 2017 silam

GRESIK, SEMANGATNEWS.COM – Purnabhakti bagi ASN berprofesi sebagai guru bukanlah akhir sebuah perjalanan dalam karier seseorang di muka bumi ini. Apalagi jika selama ini, ia mampu — selain mendidik dan mengajar — juga dapat mengisi waktu luangnya dengan terus berkarya, berkarya dan berkarya lagi untuk kemaslahatan orang banyak, tanpa meninggalkan tugas pokok di sekolah.

Baca Juga: Pematung “Urang Awak” Yusman Menjadi Warga Kehormatan Corps Polisi Militer TNI AD

Mengisi waktu luang tentulah dengan kegiatan yang selama ini melekat dalam keseharian saat berprofesi sebagai ASN, terlebih aktifitas tersebut telah dilalui jauh jauh sebelum berkarier sebagai abdi negara.

Khusnul Bahri Menuju Surgamu, acrilik, 140×130cm
Khusnul Bahri Menuju Surgamu, acrilik, 140×130cm

Khusnul Bahri (66 th) salah seorang ASN yang menjadi guru di salah satu sekolah seni persisnya SMK N 12 Surabaya yang dulu bernama SMSR Negeri Surabaya saat dihubungi Semangatnews.com di dua lokasi studionya Jalan Mutiara 7 No 12-14 Kotabaru Driyorejo dan Studio Jalan Zamrud Atas Gang 4 No 52 Kotabaru Driyorejo, Gresik, Jawa Timur, Minggu pagi, (7/7/24).

Di dua studionya itu, sejumlah karya lukis dan patung ciptaan perjalanan kreativitasnya selama ini di luar mendidik dan mengajar di sekolah, terlihat banyak karya-karya lukis dan sejumlah patung yang ia garap bermuatan nilai-nilai kearifan lokal dalam kehidupan masyarakat sebagai ruang ekspresinya tanpa kehilangan sentuhan estetika dan pengalaman ia berkarya.

Khusnul Bahri Peristiwa Saat Itu, akrilik 60 × 60 cm
Khusnul Bahri Peristiwa Saat Itu, akrilik 60 × 60 cm

Menurut Khusnul Bahri, berangkat dari kreativitas dan pengembangan konsep pemikirannya ia menawarkan wujud kearifan lokal melalui teknik, stile, serta media yang digunakan pada setiap karya-karya yang lahir dan meluncur kepermukaan melalui perenungan demi perenungan guna mengekspresikan gagasannya menjadi sesuatu yang dapat dicerna dan ditelaah secara kasat mata.

Kita amati karya Khusnul Bahri diantaranya berjudul “Menuju Surgamu” Acrilik, 140 × 130 cm, yang bertutur tentang persoalan religi, kemudian “Peristiwa Saat Itu” akrilik 60×60 dan Patuh Pada Orang Tua, mixed media 100 × 100 cm yang lebih dekat dengan pengalaman hidup dan sopan santun adalah beberapa contoh karya berangkat dari pengalaman estetik dan emosional melalui ekspresi tarikan garis dan warna-warna di setiap kanvasnya.

Khusnul Bahri Patuh Pada Orang Tua, mixed media, 100 × 100 cm
Khusnul Bahri Patuh Pada Orang Tua, mixed media, 100 × 100 cm

Dan karya-karya ini jauh lebih menarik jika kita telusuri lebih jauh dan lebih dalam dalam perspektif budaya kearifan lokal karena ada kecendrungan bermuatan dekoratif magis berisikan obyek alam bermuatan fauna, flora bahkan manusia,
Saat ditanya apa yang melatar belakangi ia berkarya selama ini, selain mendidik dan mengajar di sekolahnya tempat ia membagi ilmu dan pengalaman empirisnya, menurut Khusnul Bahri baginya berkarya bukan hanya tertuju tentang bagaimana kita menciptakan style karya, akan tetapi bagaimana kita mampu menemukan isi karya dengan gagasan kita sendiri.

Hal yang menarik lagi ketertarikannya mengangkat kearifan lokal di karya karyanya, tentulah didasari banyaknya saat ini kita temui tren-tren baru yang justru cendrung berpotensi mengabaikan bahkan menghilangkan gaya-gaya tradisional yang ada yang kesemua daerah di Indonesia memiliki dengan kekhasannya masing masing, ujar Khusnul Bahri memberi ilustrasi.

Sesudut ruang ruang  penciptaan dan kreativitas  Khusnul Bahri
Sesudut ruang ruang penciptaan dan kreativitas Khusnul Bahri

Berangkat dari berkarya dan berpameran hampir 4 dekade ini di banyak tempat dan lokasi di Tanah Air, Khusnul Bahri didukung keluarga, isteri, anak anak bahkan menantunya di rumah, ia tetap konsisten untuk terus berkarya, berkarya dan berkarya lagi.
Artinya melalu berkarya kemudian berpameran dimana pun tempat dan lokasinya paling tidak kita telah menciptakan ruang alternatif apresiasi bagi masyarakat yang pada gilirannya turut berperan serta dalam proses kreativitas seni hingga berpotensi memperluas pandangan masyarakat tentang seni dengan kearifan lokalnya berisikan pemahaman budaya lokal meski dalam perspektif yang berbeda hingga mendorong kreativitas masyarakat sekecil apapun bentuknya di lapangan,” ujar Khusnul Bahri lagi. (muharyadi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.