Jakarta, Semangatnews.com – Pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un, kembali mengukuhkan sikap keras negaranya terhadap Korea Selatan sambil membuka celah hubungan bersyarat dengan Amerika Serikat. Dalam laporan media negara Korean Central News Agency (KCNA), Kim menegaskan bahwa Pyongyang sama sekali tidak memiliki niat untuk memperbaiki hubungan dengan Seoul dan bahkan menyebut Korea Selatan sebagai entitas yang paling bermusuhan.
Pernyataan itu disampaikan dalam penutupan Kongres ke-9 Partai Pekerja Korea yang berlangsung baru-baru ini di Pyongyang. Dalam pidatonya, Kim secara eksplisit mengatakan bahwa kedua Korea tidak lagi terikat sebagai “masyarakat satu bangsa” dan bahwa Pyongyang akan “secara permanen mengecualikan Korea Selatan dari kategori sesama bangsa”.
Lebih jauh, Kim menegaskan bahwa Pyongyang siap melakukan tindakan apa pun yang dipandang perlu jika Korea Selatan terus melakukan perilaku yang dianggap membahayakan keamanan nasional Korea Utara. Pernyataan ini sekaligus menegaskan kembali posisi keras rezim itu terhadap negara tetangganya.
Namun dalam nuansa yang seolah kontras, Kim juga menyampaikan bahwa Korea Utara bisa “hidup berdampingan secara damai” dengan Amerika Serikat jika Washington menghormati status kekuatan nuklir Pyongyang serta menghentikan apa yang disebutnya sebagai kebijakan permusuhan terhadap Korut.
Kim mengatakan bahwa prospek hubungan Korea Utara-AS sepenuhnya tergantung pada sikap Amerika Serikat, serta penghormatan terhadap status Korea Utara dalam konstitusinya. Pernyataan ini menjadi bagian dari pesan politik yang lebih luas yang disampaikan di tengah ketegangan regional yang sudah berlangsung lama.
Menurut Kim, jika AS menghentikan kebijakan konfrontatifnya, tidak ada alasan untuk tidak bisa “bergaul baik” dengan Pyongyang. Pernyataan ini sekaligus memberi sinyal bahwa pintu dialog tidak tertutup sepenuhnya, meskipun syaratnya sangat berat dan politis.
Kecuali dengan AS, Kim mengabaikan segala inisiatif diplomasi yang datang dari Korea Selatan, yang belakangan berulang kali menawarkan perdamaian dan dialog lintas semangat. Pyongyang justru menggambarkan setiap upaya itu sebagai tipuan yang tidak bisa dipercaya.
Pernyataan terbaru ini muncul di tengah spekulasi tentang kemungkinan pertemuan antara Kim dan Presiden AS Donald Trump dalam waktu dekat, khususnya di sela kunjungan Trump ke Beijing yang direncanakan berlangsung dalam beberapa pekan mendatang.
Namun, para analis mengingatkan bahwa meskipun ada “pintu dialog” yang disebut Kim, realitas pragmatis soal tekanan sanksi, isu nuklir, dan rivalitas geopolitik membuat situasi ini tetap sangat rumit dan rentan terhadap eskalasi.
Beberapa pengamat politik Asia Timur mencatat bahwa pernyataan Kim kemungkinan ditujukan sebagai strategi politik internal maupun eksternal untuk memperkuat posisi Pyongyang dalam negosiasi masa depan. Hal ini juga mencerminkan kebutuhan rezim untuk menunjukkan kekuatan sambil tetap menjaga keluwesan diplomasi jika menguntungkan.
Di tengah pernyataan keras terhadap Korsel dan pesan bersyarat kepada AS, publik internasional tetap cermat memantau apa langkah selanjutnya dari Pyongyang, terutama menjelang potensi perubahan besar dalam arsitektur keamanan di Semenanjung Korea dalam beberapa bulan ke depan.(*)
