Jakarta, Semangatnews.com – Kebijakan energi di kawasan Asia Tenggara kembali menjadi sorotan setelah Malaysia resmi memangkas kuota bahan bakar minyak (BBM) subsidi mulai April 2026.
Langkah tersebut diambil di tengah lonjakan harga energi global yang dipicu konflik geopolitik, terutama di kawasan Timur Tengah.
Pemerintah Malaysia memutuskan menurunkan kuota BBM subsidi jenis RON 95 dari 300 liter menjadi 200 liter per bulan bagi setiap warga.
Kebijakan ini mulai berlaku pada 1 April 2026 dan bertujuan untuk mengendalikan beban fiskal akibat meningkatnya biaya subsidi energi.
Meski kuota dikurangi, pemerintah Malaysia tetap mempertahankan harga BBM subsidi agar tidak membebani masyarakat secara langsung.
Berbeda dengan Malaysia, Indonesia memilih pendekatan yang lebih hati-hati dalam merespons situasi global tersebut.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa hingga saat ini pemerintah belum memiliki rencana untuk membatasi kuota BBM subsidi.
Ia menyebut pemerintah lebih fokus mendorong masyarakat untuk menggunakan BBM secara bijak sebagai langkah penghematan energi nasional.
Selain itu, pemerintah juga memastikan tidak ada rencana kenaikan harga BBM subsidi dalam waktu dekat demi menjaga daya beli masyarakat.
Kebijakan ini sejalan dengan arahan Presiden untuk memastikan setiap langkah yang diambil tidak memberatkan kelompok ekonomi kecil.
Di tengah dinamika global yang berubah cepat, pemerintah Indonesia terus memantau kondisi pasokan dan harga energi secara ketat.
Langkah ini dinilai sebagai strategi moderat, di mana pemerintah tetap menjaga stabilitas sosial sekaligus mengantisipasi dampak krisis energi global tanpa kebijakan drastis.(*)

