PADANG PARIAMAN, SEMANGATNEWS.COM – Jembatan Penghububung antara nagari Anduriang dengan Nagari Kayu Tanam, Kec. 2 X 11 Kayu Tanam, Padang Pariaman sepanjang 150 meter lebih, putus total karena diterjang longsor dan banjir bandang, (Kamis 27/11/25) yang makin melengkapi diantara nagari yang ada di Padang Pariaman dari 13 (tiga belas) kabupaten/kota di Sumbar yang terdampak bencana alam longsor dan banjir Sumatera Barat November 2025.
Akibatnya ratusan masyarakat yang ingin meakses kebutuhan sehari hari melalui pasar Kayu Tanam, Sicincin, dan Padang Panjang termasuk peserta didik, SMP, SMA/SMK yang mengikuti pendidikan untuk sementara sulit mengakses proses pembelajarannya.

Dalam catatan kita sebagaimana pernah diberitakan semangatnews.com, 10/11/2019 disebutkan ; kondisi jembatan dan jalan yang menghubungi desa Sipisang dan Sipinang kenegarian Anduriang, Kayutanam, kec 2×11 Kayu Tanam, Padang pariaman (saat itu-red) kondisinya miring dan sangat mengkhawatirkan yang suatu saat bisa putus.
Bahkan bukan tidak mungkin suatu saat jembatan ini kembali roboh sebagaimana yang terjadi pada beberapa tahun silam. Begitu pula jalan-jalan aspal berukuran kecil dari kenegarian Kayutanam menuju kenegarian Anduring pada desa Sipisang dan Sipisang yang terkenal dengan obyek wisata alamnya “Lubuak Galanggang Ikan”.

Kini terbukti, semuanya berantakan yang tak lagi bisa diakses masyarakat bahkan anak anak sekolah SMP. SMA dan SMK menuju Kayu Tanam, Sicincin bahkan Padang Panjang,” ujar Ahmad Basri (73 th) salah seorang tokoh masyarakat yang juga mantan Wali Nagari Anduriang itu dengan raut sedih yang dapat dihubungi, Minggu 30/11/25.
Dalam catatan kita, Nagari Anduriang, dengan luas wilayah 133,85 km² dan jumlah penduduk tahun 2023 lalu tercatat mencapai 8.815 jiwa (laki-laki 4.409 dan perempuan 4.406) dan berpenduduk terbanyak di kecamatan 2×11 Kayu Tanam dibanding Kayu Tanam, Guguak dan Kepala Hilalang (Sumber : BPS Padang Pariaman, 2024) yang mendiami 7 (tujuh) korong ; (1) Korong Lubuak Aua, (2) Korong Lubuak Napa, (3) Korong Sipisang Sipinang, (4) Korong Kampuang Tangah, (5). Korong Balah Aie, (6) Korong Rimbo Kalam dan (7) Korong Asam Pulau
Menurut Ahmad Basri, usai gempa tahun 2009 lalu jembatan yang dibangun era kepemimpinan Bupati Anas Malik tersebut pernah diperbaiki, namun akibat seringnya banjir bandang yang menghanyutkan puluhan hektar padi sawah, kolam-kolam ikan serta rumah-rumah penduduk yang berada disepanjang sungai Anduriang jembatan tampak miring hampir 45 persen.
Nagari Anduriang yang berada antara “ikua darek kepala rantau” itu dulunya pernah menjadi kenegarian yang sangat strategis pada saat mempertahankan Indonesia merdeka, terutama pada era perperangan Belanda dimana Anduriang berperan menjadi dapur umum. Karena kenegarian Anduriang terletak jauh dari dari pusat jalan raya Padang menuju Bukittinggi.
Dan di kenegarian Anduriang ini pula masyarakatnya pernah berbagi hasil panen mereka berupa padi yang menjadi penghasilan utama masyarakatnya, yakni sebagian diserahkan untuk pejuang dan sebagian lagi untuk keperluan keluarga. Bahkan saat itu ada kesepakatan para pendahulu dan tokoh-tokoh masyarakat kenenagarian Anduring untuk mesyarakatnya seperti yang punya ternak, berupa kambing, ayam, itik, sapi bahkan kerbau dapat diserahkan untuk para pejuang demi mempertahankan negara ini,” ujar Ahmad Basri menceritakan kilas balik peran strategis Anduring saat era pra Kemerderakaan RI.
Khusus padi hasil pertanian masyarakat Anduriang,” jelas Ahmad Basri memberi keterangan, banyak masyarakat dari daerah lain yang langsung membeli kesini, karena hasil padinya setelah ditumbuk menjadi beras sangat putih dan sangat lezat dikonsumsi yang dapat menyamai kualitas beras Solok yang saat panen tiba ber ton-ton jumlahnya diboyong ke luar. Begitu juga hasil durian di Anduring saat musimnya datang ratusan masyarakat dari luar berdatangan membeli buah berduri yang sangat lezat itu, ujar Ahmad Basri Menambahkan.
Sementara salah seorang penduduk Anduriang, Yeni Sikumbang yang melihat langsung kondisi persawahan penduduk usai banjir menuturkan, banyak area persawahan di sepanjang sungai batang anai dari Lubuk Aur hingga Asam Pulau disisi kiri dan kanan sungai batang anai habis dilanda banjir bandang.
Bahkan area persawahan tersebut kini rata dengan bebatuan hingga susah menentukan sawah yang terdampak banjir milik siapa, karena telah berubah menjadi tumpukan bebatuan dan kayu kayu yang hanyut di arus sungai saat kejadian. Belum termasuk rumah penduduk yang hanyut, ujarnya sedih tanpa marinci jumlah rumah yang ikut dan rusak.
Kenegarian Anduriang dengan penghasilan utama padi, coklat, durian dan palawija lainnya itu sudah selayaknya memiliki jembatan permanen dan jalan aspal mulus untuk memperkuat ekonomi masyarakat di tengah-tengah beragam pembangunan,” ujar Yeni. (mh)
