Catatan : Muharyadi
PADANG, SEMANGATNEWS.COM – Trend belajar membatik – ecoprint dari berbagai daerah di Sumatera Barat yang diikuti masyarakat terutama dari kalangan perempuan muda dan ibu ibu rumah tangga, peserta didik semua tingkatan, guru guru menjadi sesuatu yang menarik untuk ditelusuri dan disimak lebih jauh dan lebih dalam.
Salah satu ruang belajar yang paling banyak dikunjungi untuk menggali dan mendalami ilmu membatik-ecoprint tersebut diantaranya adalah Sanggar Canting Buana Kreatif Batik, di Jalan Bangdes II RT X, 69, Padang Panjang yang memberi ruang edukasi pembelajaran bagi siapa pun yang ingin menyerap ilmu membatik dan eco print. Dan di sanggar ini pulalah kemudian lahir istilah ; “tiada hari tanpa kegiatan membatik dan membuat ecoprint”.

Dalam catatan kita, belum sampai sepekan setelah belasan pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) kota Bukittinggi diprakarsai Dinas Perdagangan dan Perindustrian kota Bukittinggi melakukan pelatihan/magang batik/ecoprint yang berlangsung sejak 12–16 November 2025 lalu. Datang lagi sejumlah rombongan peserta didik dari SMK N 6 Padang jurusan Usaha Layanan Pariwisata serta sejumlah guru dan peserta didik dari Sekolah Luar Biasa Negeri 1 Limo Kaum, Tanah Datar, untuk belajar membatik dan ecoprint.
Dari informasi yang kita peroleh terutama bagi pelaku IKM Bukittinggi dengan belasan peserta tersebut dimaksudkan kegiatan pelatihan/magang pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia sebagai pelaku industri batik dan ecoprint bagi pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) dalam rangka perkuatan industri batik/ecoprint serta penumbuhan wirausaha baru di Bukittinggi.

Tentu hal tersebut sama seperti yang dilakukan kalangan IKM, person atau komunitas daerah lain di banyak tempat dan lokasi, tentulah memiliki tujuan dan arah yang hampir sama agar semuanya memperoleh ilmu membatik dan membuat ecoprint sebagai bagian fasyen dan bisa dikelompokkan dalam ranah industri kreatif hingga berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah tengah masyarakat.
Pertanyaan kemudian muncul, meski dalam waktu relatif singkat menimba ilmu di Sanggar Canting Kreatif Batik, seperti apa pula pengembangan dan tindak lanjut daerah oleh kabupaten/kota terhadap pelaku IKM, person, kalangan remaja putri dan ibu ibu atau masyarakat secara umum yang telah dibekali ilmu membatik maupun ecoprint bagaimana aksen di lapangan.

Tentulah program OPD terkait yang dapat menjawabnya, baik OPD tenaga kerja, Perindustrian dan perdagangan. Agar ilmu membatik maupun ecoprint tidak tenggelam di tengah jalan. Mengingat kedua aktivitas tersebut berpotensi berpeluang dan dapat meningkat ekonomi masyarakat dan juga sumber pemasukan keuangan bagi suatu daerah jika dikelola secara sungguh sungguh.
Pimpinan Sanggar Canting Buana Batik, Widdiyanti, dosen seni kriya ISI Padang Panjang dan Instruktur batik nasional itu dalam suatu kesempatan berujar, bahwa selain batik tulis dan batik cetak, kini batik ecoprint menjadi salah satu alternatif batik kontemporer yang sejak hampir satu dekade silam terus berkembang pesat di tengah tengah masyarakat dengan mengikuti gaya hidup masyarakat yang ramah lingkungan.

Batik eco-print, bisa dibuat dalam waktu singkat dengan motif motif desain bersumber dari alam yang tidak kalah menariknya ketimbang batik tulis dan batik cap. Sesuai namanya, eco dari kata ekosistem (alam) dan print yang artinya mencetak, batik ini dibuat dengan cara mencetak bahan-bahan yang ada di alam, salah satunya daun, kata Widdiyanti yang di sela sela kesibukannya di kampus tetap eksis mengedukasi masyarakat dan kalangan peserta didik dan mahasiswa untuk belajar membatik dan ecoprint.
Bahkan bukan hanya di Canting Buana Kreatif Batik, Wid demikian panggilan akrabnya kerap mendatangi sejumlah daerah Kabupaten/kota di Sumbar untuk membagi ilmunya kepada masyarakat melalui kegiatan yang sama. Ia pun berkeyakinan dunia batik-ecoprint di Sumbar diharapkan dapat meningkatkan perekonomian daerah, juga mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri dengan aspek budaya lokalnya.
Batik Mengalami Inovasi Melalui Ecoprint
Sebagai warisan budaya Indonesia yang Cuma ada di Indonesia, batik kini mengalami inovasi dengan hadirnya teknik Ecoprint. Teknik ini bukan hanya sekadar metode pewarnaan kain, teknik ini menghadirkan harmoni antara seni tradisional dan kelestarian alam. Batik Ecoprint merupakan teknik membatik yang memanfaatkan bahan alami sebagai pewarnaSejarah
Melalui Canting Buana Kreatif Batik, aktivitasnya ecoprint lebih satu dekade silam, terus meningkat seiring kesadaran akan pentingnya fashion berkelanjutan. Pembuatan Ecoprint dimulai dengan menyiapkan kain mori atau sutera. Daun-daunan segar disusun di atas kain, kemudian digulung dan diikat rapat sebelum direbus dengan pewarna alami.
Proses ini menghasilkan motif yang selalu berbeda, bahkan ketika menggunakan daun dari pohon yang sama. Hal yang menarik pula ecopriny memiliki keunggulan seperti ramah lingkungan, mengurangi limbah kimia dan memanfaatkan sumber daya alam.
Menariknya motif ecoprint selalu berbeda dan unik yang sangat menarik difungsikan dalam berbagai kesempatan, dari santai hingga formal yang memiliki nilai ekonomi tinggi dengan keunikan dan keindahannya. (***)
