Oleh Muharyadi
PADANG, SEMANGATNEWS.COM – Berbagai kecendrungan, penggayaan/style seni lukis dalam sejarah perkembangannya sejak dahulu bahkan hingga sekarang, bukan dimaksudkan hadir menandingi satu dengan yang lain dengan mengutamakan nilai kompetetif dari banyak nama bermunculan. Mengingat relativitas teknik yang digandrungi serta unsur psikologis/kejiwaan dari isian karya dan tema yang diusung di zamannya dengan kekuatan dan kelemahan masing-masing ditengah-tengah banyaknya karya masterpiece yang hadir.
Bahkan dari karya-karya masterpiece ternyata memiliki nilai jual yang teramat mahal bagi ukuran karya seni. Tak heran kalau suatu lukisan karya pelukis tokoh dunia harganya mencapai milyaran bahkan triliunan rupiah.

Bagi kalangan orang berduit berinvestasi dalam bentuk karya seni – terutama seni lukis – merupakan ladang bisnis yang menjanjikan bahkan menggiurkan, ketimbang membeli mobil mewah. Sebaliknya lukisan hasil penjelajahan kreativitas seniman terkemuka di jagad bumi ini terbukti paling ampuh menghasilkan uang berlimpah. Lihat lelang-lelang lukisan di penjuru dunia dengan harga yang bombastis, termasuk di Asia seperti di Singapura, Hongkong, China dan Jepang dengan harga spektakuler dalam beberapa dekade.
Di Indonesia sendiri bisnis jual beli karya sejak era berkembangnya seni lukis moderen dan kontemporer kini terus marak ditandai bermunculannya galeri-galeri representatif baru disejumlah kota di pulau Jawa yang mayoritas muncul di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang dan Bali.

Bagi pelukis muda yang baru memasuki kancah seni lukis secara dini maupun sungguh-sungguh maka soal kecendrungan, penggayaan/style atau mazhab yang dianutnya dalam dunia seni lukis sering diingatkan para senior atau pelukis mapan dalam melukis jangan dulu terjebak untuk memikirkan gaya/mazhab karena dikhawatirkan dapat mempengaruhi kreativitas berkarya atau memilih/menemukan idiom-idiom baru akan menjadi beban kerja lukis, ternyata dibalik kekhawatiran semuanya lebih banyak menggandrungi melukis secara realis sebagaimana selama ini dikenal dalam kerja lukis melukis.
Lihat karya-karya pelukis yang tampil di iven-iven besar di tanah air mulai terasa beberapa tahun terakhir paling tidak dapat memberikan gambaran umum kepada kita, bahwa sesuai beban yang diberikan realisme sebagai ungkapan nyata, sungguh-sungguh dan apa adanya dari fenomena serta apa yang terjadi di alam.

Memang tidak perlu lagi disembunyikan menjadi sesuatu yang tidak perlu diangkat atau justru terus ditutupi dalam bentuk karya seni, seperti lukisan yang menjadi bahasa utama dalam mengemukakan masalah-masalah yang ada dimuka bumi ini, apa adanya tanpa bungkusan life servise sebagaimana dunia lain, dunia yang penuh kamuflase, budaya ambil muka yang kini melanda sebagian masyarakat. Pelukis mencoba menyiasatinya dan terjadi trend dalam beberapa tahun terakhir.
REALISME MENGGONCANGKAN DUNIA
Di masing-masing kecendrungan/penggayaan/style/mazhab pelukis sebenarnya memiliki makna dan nilai tersendiri bagi penggemar atau penikmat yang sungguh-sungguh dengan bekal apresiasi yang cukup untuk mengamati/menghayati bahkan melakukan penilaian terhadap apa yang diamati, dihayatinya disertai pengalaman empiris pendukung apresiasi.
Realisme secara umum sering ditafsirkan melukis apa adanya, artinya pelukis melukis apa adanya dari obyek-obyek yang dilihat/diamati untuk kemudian direpresentasikan sebagai bahasa utama melukis. Sementara kaum realis dunia seperti Amerika dan Eropa memberi pengertian realis dengan memandang dunia ini tanpa ilusi atau menggunakan penghayatannya untuk menemukan dunia.
Bahkan Courbet, pelukis realis terkemuka dari Perancis pernah berujar ; ”Tunjukkanlah malaikat padaku, maka aku akan melukisnya?. Artinya, Courbet tidak akan melukisnya kalau hal itu gagal ditunjukkan kepada pelukis ini. Karenanya melukis realis, pelukis ingin menciptakan hasil seni yang nyata dan menggambarkan apa-apa yang betul-betul ada dan kasat mata. Kalangan realis melukiskan apa saja yang dijumpainya tanpa pandang bulu, tidak akan menciptakan sesuatu yang hanya keluar dari gagasannya. Apa yang dilihatnya akan dilukis seperti apa adanya, tanpa idealisasi, distorsi maupun pengolahan lainnya.
Dalam catatan sejarah seperti yang ditulis Soedarso, SP dalam bukunyu berjudul Sejarah Perkembangan Seni Rupa Moderen menyebutkan, bahwa pelukis Fransisco De Goya (1745-1828) sering dihubungkan dengan realisme bahkan romantikisme. Lukisan-lukisan Fransisco De Goya yang sering menunjukkan kengerian atau pun sesuatu yang fantastik dan imajinatif.
Pelukis Fransisco De Goya yang terkenal dengan lukisan-lukisan potretnya adalah seorang realis, karena Goya memandang dunia ini tanpa ilusi. Ia tidak lari dari kenyataan, karyanya adalah refleksi dari keadaan yang ada disekitarnya. Sebagai pelukis istana ia berada diantara orang-orang yang hidupnya mewah, korupsi, namun dungu dan tidak acuh akan kemelaratan yang ada diluarnya (lihat lukisannya “Keluarga Charles IV”.
Fransisco De Goya menghayati peperangan dan kekejaman rezim Napoleon dan ditumpahkan pengalamannya di karya-karyanya. Selain “Pembunuhan 3 Mei 1808” juga sederet karya grafisnya yang tergabung dalam kelompok “Los Desastres de la Guerrra” (Kehancuran perang), dan antara lain berjudul “Y No Hai Remedio” “Tidak ada obatnya”, 1810-1820
Sekalipun keluarganya tidak mengharapkannya untuk menjadi pelukis, tetapi tahun 1849 terdapat suatu kenyataan bahwa ia berhasil menggantungkan beberapa lukisannya dalam Salon dan yang terkenal diantaranya ialah “Habis Makan di Ornans” yang memenangkan hadiah medali. Dengan kemenangan ini ia dapat lagi memasukkan lagi lukisannya yang menggemparkan dalam tahun berikutnya, ialah “Pemakaman di Ornans” yang sering juga disebut sebagai “Pemakaman Romantikisme”, sejalan denbgan umpatan Gros atas lukisan Delacroix “Pembunuhan Besar-Besaran di Scio” itu.
Lukisan ini yang terakhir ini betul-betul telah menggoncangkan dunia kritisi karena kerealitisannya. Itulah yang menggemparkan Paris, ia telah menggambarkan real people. Maka bersama lukisannya yang sebuah lagi yang juga terdapat dalam Salon 1850 itu, ialah “Pemecah Batu”. Realismenya sering diembel-embeli pula dengan “sosialistik”.
Sebagai ganti dari seni terdahulu yang bertemakan keklasikan, ideal atau setidak-tidaknya sesuatu yang telah diperhalus, ia melukis apa adanya, bahkan yang jelek-jelek, petani-petani, buruh-buruh kecil seperti yang terdapat dalam kedua lukisannya tersebut, yang dulu sama sekali tidak mendapat tempat. Yang penting baginya adalah mengekspresikan secara total sesuatu objek yang betul-betul ada. Courbet tidak pernah membayangkan apalagi menciptakan suatu objek. Hal ini rupanya ada hubungan dengan pendapatnya ; “keindahan yang disajikan alam sebenarnya lebih indah dari konvensi seniman manapun juga.
Tokoh Persagi (Persatuan Ahli Gambar Indonesia) S. Soedjojono sebagai tokoh penting realisme membuat karya-karya hingga cepat membumbung tinggi dalam kepopulerannya sebagai seniman sejati. Banyak peristiwa sosial dan penderitaan rakyat yang tertindas oleh kaum kolonialisme menjadi obyek dikarya realismenya.
Fransisco De Goya memandang tokoh-tokoh “Mooi Indie” seperti Abdullah SR, M. Pirngadi dan Wakidi dengan lukisan naturalisme hanya mengutamakan pemandangan alam dan disebut sebagai karya tidak berjiwa, turistik dan hanya menyenangkan pihak kolonial yang berada di tanah air. Perdebatan soal ini menjadi rangkaian panjang dalam catatan sejarah seni lukis di Indonesia di era kemerdekaan Republik Indonesia.
Kini ditengah-tengah kecendrungan realisme bahkan cendrung menjadi realis simbolis, para pelukis sebagian besar sering hanyut pada persoalan esetetika semata tanpa memandang persoalan sesungguhnya, apa adanya untuk diangkat kepermukaan kanvas, hingga banyak persoalan sesungguhnya, bahkan penderitaan rakyat yang mestinya diangkat ikut tenggelam karena terjebak estetika dan teknik melukis tinggi. Dan bukan hanya itu kadang terjebak dalam imajinasi pelukis tanpa melihat sesungguhnya kondisi realitas dihadapannya (***)
Muharyadi, Penggiat Seni Rupa, Kurator dan Jurnalis
