Jakarta, Semangatnews.com – Program perluasan akses internet publik di era pemerintahan Prabowo–Gibran makin tampak nyata. Sebanyak 27.865 lokasi di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) kini sudah memiliki layanan konektivitas publik.
Lokasi yang telah terhubung mencakup sekolah, puskesmas, kantor pemerintahan, hingga pusat kegiatan masyarakat. Langkah ini memperluas jaringan digital hingga ke pelosok negeri.
Sebelumnya, banyak wilayah 3T yang masih bergantung pada layanan komunikasi darat terbatas atau bahkan tanpa akses sama sekali. Sekarang, infrastruktur jaringan publik mulai menembus hambatan geografis.
Menurut data pemerintah, dari total titik tersebut, mayoritas difasilitasi melalui satelit multifungsi SATRIA-1. Sementara sebagian kecil diantaranya menggunakan jaringan fiber optik untuk koneksi yang lebih stabil.
Tingkat keterandalan layanan pun tinggi, dengan uptime mencapai hampir 99,77 persen. Angka ini menunjukkan bahwa jaringan tidak sekadar hadir, tetapi aktif melayani kebutuhan digital masyarakat.
Dampak konektivitas ini terasa di sektor pendidikan. Sekolah-sekolah di daerah terpencil kini dapat mengakses konten daring, materi pelajaran digital, dan interaksi belajar jarak jauh dengan lebih lancar.
Di sektor pelayanan publik, puskesmas, kantor desa, dan fasilitas pemerintahan lokal kini bisa memanfaatkan kanal digital untuk administrasi, data, dan komunikasi internal dengan instansi pusat.
Pusat kegiatan masyarakat dan ruang publik juga dijangkau konektivitas, membuka ruang agar warga dapat mengakses informasi, layanan publik digital, dan penggunaan media sosial sebagai media komunikasi lokal.
Dengan hadirnya akses internet publik yang lebih luas, transformasi digital layanan publik diharapkan makin merata. Warga di wilayah kota dan daerah bisa mendapatkan kualitas layanan yang semakin seimbang.
Proyek skala nasional ini menjadi salah satu pondasi strategi jangka panjang dalam membangun Indonesia digital — di mana semua lapisan masyarakat bisa menikmati akses informasi tanpa dibatasi lokasi.
Tantangan ke depan adalah pemeliharaan infrastruktur, peningkatan literasi digital masyarakat, dan memastikan jaringan tetap berfungsi tanpa gangguan berkepanjangan.
Jika dijalankan konsisten, program ini bisa menjadi tonggak penting dalam mengejar ketertinggalan digital dan memperkecil kesenjangan antardaerah dalam era revolusi teknologi.(*)
