Oleh : Muh Nur Khusen
REMBANG, SEMANGATNEWS.COM – Di ruang belakang sebuah rumah tua di Lasem Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, sejumlah ibu-ibu pembatik sepuh duduk di atas dingklik kayu, memegang canting di tangan kanannya.
Di depannya terbentang selembar kain mori putih. Gerakannya lincah namun penuh perhitungan, seolah setiap tetes lilin panas yang jatuh adalah sebuah kalimat yang dituliskan pada kanvas sejarah. Ini bukan sekadar pekerjaan, tetapi merupakan ritual, pewarisan, dan perlawanan halus terhadap zaman yang terus berputar.
Batik merupakan warisan budaya Indonesia berupa teknik menghias kain menggunakan malam (lilin) panas sebagai perintang warna, yang diakui UNESCO sejak 2 Oktober 2009. Batik menggabungkan seni dan teknologi tradisional untuk menciptakan motif bermakna dengan cara ditulis (canting), dicap, atau kombinasi keduanya.

Mengamati Batik Lasem bukanlah sekedar menghafal deretan nama motif kricak, latohan, sawat, kawung, merak ngigel atau mengingat bahwa warna merahnya disebut getih pitik (darah ayam).
Mengenal Batik Lasem berarti menyelami lapisan-lapisan makna yang terukir dalam setiap isian (isen-isen) dan setiap pilihan warna. Lebih dari itu, mengenal Batik Lasem berarti terlibat dalam proses belajar membatik itu sendiri, karena di sanalah dalam tarikan napas saat mencanting, dalam kesabaran menunggu kain diwarnai, dalam kebersamaan pembatik di studio pengetahuan sejati tentang batik ini diwariskan.
Membedah Batik Lasem dari dua pintu masuk: pertama, motif sebagai teks yang sarat dengan narasi historis dan semiotik; kedua, proses membatik sebagai praktik kultural yang melibatkan dimensi spiritual, sosial, dan ekonomi. Dengan mengintegrasikan temuan-temuan terkini dari penelitian akademik dan liputan lapangan.
Motif Batik Lasem : Semiotika Akulturasi dan Ingatan Kolektif
Sejak 2021, tim peneliti dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia yang dipimpin Dr. Sonya Suganda dan Dr. Lilawati Kurnia telah menginventarisasi motif batik dari 11 rumah batik di Lasem. Hasil sementara menunjukkan 114 motif tunggal, terbagi menjadi 50 motif lokal dan 64 motif akulturasi Tionghoa.
Angka ini belum final, masih ada sekitar 109 rumah batik lain yang belum terjangkau. Namun, angka ini sudah cukup untuk menunjukkan kekayaan visual yang dimiliki Batik Lasem.
Yang menjadi persoalan kritis, sebagaimana diakui oleh para pembatik muda seperti Rudy Siswanto dari Rumah Batik Kidang Mas, adalah bahwa “kalau ditanya apa makna-maknanya saya kurang paham” (Agni Malagina, Mahandis TY, National Geographic, 2021).
Pengetahuan tentang simbolisme motif terancam punah bersama pembatik sepuh yang menyimpannya dalam memori, bukan dalam buku catatan. Inilah ironi Batik Lasem : motifnya masih hidup, tetapi narasinya mulai menghilang.
Kricak : Motif dari Luka Kolonial
Salah satu motif paling ikonik dari Batik Lasem adalah kricak atau watu pecah (pecahan batu kerikil). Secara visual, motif ini tampak sebagai susunan titik-titik dan bentuk-bentuk tak beraturan yang menyerupai kerikil pecah. Namun, dibalik estetikanya yang unik, tersimpan narasi kela, kricak terinspirasi dari pengerasan Jalan Raya Pos Daendels (Anyer-Panarukan) yang dibangun dengan kerja paksa (rodi) pada awal abad ke-19 (Ayu Lestari, 2024).
Dalam kerangka semiotika Roland Barthes, motif kricak adalah contoh sempurna bagaimana sebuah tanda dapat membawa makna denotatif (gambar batu pecah) dan makna konotatif (penderitaan, eksploitasi, kolonialisme) sekaligus (Anita RD, 2018).
Para pembatik Lasem, yang nenek moyangnya mungkin mengalami atau menyaksikan langsung penderitaan kerja rodi, menuangkan ingatan kolektif itu ke dalam motif batik. Kricak bukan sekadar hiasan; ia adalah dokumen sejarah yang dikodekan dalam lilin dan warna.
Ketika motif ini diambil dan direproduksi tanpa pemahaman akan narasi di baliknya, ia kehilangan fungsi kritisnya. Ia menjadi sekadar “motif titik-titik” yang indah, sebuah simulacra (salinan) tanpa referensi historis. Inilah bahaya terbesar dari komersialisasi batik, reduksi makna menjadi sekadar ornament (hiasan).
Latohan : Kehidupan Pesisir dalam Isen-Isen
Berbeda dengan kricak yang sarat dengan luka sejarah, motif latohan lahir dari pengamatan langsung terhadap lingkungan alam Lasem. Latoh adalah nama rumput laut yang tumbuh di perairan pesisir Lasem. Sebagai kota pesisir, kehidupan masyarakat Lasem tidak bisa dilepaskan dari laut, baik sebagai nelayan, pedagang, maupun pembatik yang mengambil inspirasi dari alam sekitarnya.
Motif latohan menunjukkan bagaimana batik pesisir berbeda dari batik keraton. Jika batik keraton (Solo, Yogyakarta) cenderung terikat pada pakem yang kaku dan simbol-simbol kosmologis Jawa, batik pesisir seperti Lasem lebih dinamis, lebih terbuka pada penggambaran objek sehari-hari secara naturalis. Rumput laut, yang mungkin dianggap remeh di konteks lain, diangkat menjadi motif utama sebuah pernyataan estetis bahwa keindahan bisa ditemukan di tempat yang paling tidak terduga.
Akulturasi Tionghoa: Naga, Hong, dan Simbol Keberuntungan
Kehadiran etnis Tionghoa di Lasem sejak abad ke-15 telah meninggalkan jejak yang mendalam pada motif batik. Motif-motif seperti naga, burung hong (phoenix), kilin (makhluk mitologis), kupu-kupu, bunga peoni, bunga seruni, dan bambu menjadi ciri khas Batik Lasem yang membedakannya dari batik daerah lain (Ayu Lestari, 2024).
Menurut catatan sejarah, motif-motif bermuatan Tionghoa ini pertama kali diperkenalkan oleh Putri Campa (Na Li Ni), istri Bi Nang Un, salah seorang anggota ekspedisi Cheng Ho (Wikipedia). Istri Bi Nang Un mulai membatik motif-motif bernuansa Tiongkok seperti burung hong, naga, banji (swastika), kupu-kupu, bunga seruni, singa, dan bunga teratai. Motif-motif tersebut akhirnya menjadi motif khas Batik Lasem.
Yang menarik adalah proses akulturasi tidak berhenti di situ. Makna simbolis Tionghoa berbaur dengan nilai-nilai lokal. Kupu-kupu, misalnya, dalam budaya Tionghoa sering dikaitkan dengan kebahagiaan dan umur panjang, tetapi dalam konteks Jawa juga dimaknai sebagai simbol kecantikan dan transformasi). Bunga peoni, yang dalam tradisi Tionghoa melambangkan kemakmuran dan kehormatan, juga diadopsi sebagai simbol keindahan secara universal.
Namun, seperti halnya dengan kricak, pengetahuan tentang makna simbolis ini tidak terdokumentasi dengan baik. Para pewaris usaha batik mewarisi motif secara visual, tetapi tidak selalu disertai dengan pemahaman akan narasi dan filosofi di baliknya. Akibatnya, ketika ditanya tentang makna motif kupu-kupu, seorang pembatik muda mungkin hanya bisa menjawab “kupu-kupu itu lambang kecantikan”, sebuah jawaban yang benar tetapi dangkal dibandingkan dengan kedalaman makna yang sesungguhnya. (Agni Malagina, Mahandis, 2021
Batik Tiga Negeri dan Empat Negeri: Politik Warna
Salah satu mahakarya Batik Lasem yang paling dikenal adalah Batik Tiga Negeri. Kain ini melalui proses pewarnaan di tiga kota berbeda: merah getih pitik dari Lasem, biru indigo dari Pekalongan, dan cokelat sogan dari Solo. Setiap warna mewakili budaya yang berbeda: merah untuk Tionghoa, biru untuk Belanda/Eropa, dan cokelat untuk Jawa.
Dalam perkembangannya, muncul Batik Empat Negeri dengan tambahan warna hijau. Menurut pengamat batik Lasem Akrom Yuwavfi, warna hijau ini merepresentasikan kaum Muslim, sebuah lapisan akulturasi baru yang menunjukkan bahwa Lasem juga merupakan kota santri dengan pesantren-pesantren tua yang bersejarah (Ayu Lestari, 2024).
Batik Tiga Negeri atau Empat Negeri adalah bukti bahwa batik bukanlah seni yang tertutup. Ia lahir dari perjumpaan, dari dialog antarbudaya, dari negosiasi identitas yang terus berlangsung. Kain ini adalah manifes visual dari kosmopolitanisme Nusantara sebuah konsep yang sangat relevan dengan dunia global saat ini, namun sering dilupakan ketika batik direduksi menjadi sekadar “warisan” yang dibekukan dalam ruang museum.
Belajar Membatik
Mengenal motif hanyalah setengah dari perjalanan. Bagian yang lebih penting dan jarang dilakukan adalah belajar membatik. Sebab, pengetahuan tentang batik tidak hanya tersimpan dalam motif, tetapi juga dalam proses : dalam cara memegang canting, dalam tekanan tangan saat menggoreskan lilin, ritme napas saat mengisi isen-isen yang rumit.
Membatik Sebagai Pengetahuan Tubuh
Salah satu dari ibu-ibu pembatik yang sudah sepuh berkata bahwa “batik adalah ilmu terapan, sehingga tak perlu banyak teori, akan tetapi bisa langsung mempraktikkannya”. Pernyataan ini mengandung kebijaksanaan mendalam: pengetahuan tentang batik adalah tacit knowledge, pengetahuan yang tidak bisa sepenuhnya dijelaskan dengan kata-kata, tetapi harus dialami melalui tubuh.
Ketika seorang pemula pertama kali memegang canting, ia akan mengalami getaran aneh di pergelangan tangan. Lilin panas menetes tidak sesuai keinginan, garis yang dihasilkan putus-putus, tidak rata. Butuh waktu berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, sebelum tangan “belajar” untuk menari di atas kain. Proses ini mirip dengan belajar menulis kaligrafi atau bermain alat musik, ada disiplin tubuh yang harus dikuasai sebelum ekspresi estetis muncul.
Dalam kritik seni, membatik merupakan praktik yang menggabungkan techne (keterampilan teknis) dan poiesis (penciptaan). Setiap pembatik, meskipun mengikuti pola yang sama, akan menghasilkan goresan yang unik, sedikit berbeda dalam ketebalan garis, dalam kerapatan titik, dalam “nafas” yang diberikan pada motif. Inilah yang membuat batik tulis berbeda dari batik cap atau batik printing : ia menyimpan jejak tangan, jejak waktu, jejak pembatiknya.
Membatik Sebagai Kerja Komunal
Salah satu aspek yang paling sering diabaikan dalam diskusi tentang batik adalah dimensi komunalnya. Membatik bukanlah pekerjaan individual. Duriyanah, seorang pembatik dari Desa Babagan Lasem, menjelaskan bahwa “untuk satu lembar kain, proses membatiknya tidak bisa dikerjakan oleh satu orang saja. Tugas membatik biasanya dibagi”. Pembagian kerja ini mencerminkan organisasi sosial yang kompleks.
Ada yang bertugas membuat pola (molani), ada yang mencanting di sisi depan (lengkreng), ada yang meneruskan motif ke sisi belakang (nerusi), ada yang menutup bagian tertentu dengan lilin (nembok), ada yang mewarnai (medel, nyogo), dan ada yang melorot (menghilangkan lilin). Setiap tahap membutuhkan keahlian khusus, dan para pembatik biasanya mengkhususkan diri pada satu atau dua tahap saja.
Proses yang panjang dan terbagi ini memiliki implikasi ekonomi dan sosial. Duriyanah, misalnya, mengaku keahliannya adalah nembok (menutup bagian-bagian tertentu dengan lilin sebelum pewarnaan). Ini menunjukkan bahwa ekosistem batik Lasem tidak bisa dipahami tanpa melihat relasi kuasa dan ekonomi antara pembatik rumahan, pengusaha batik, dan pedagang.
Krisis Pembelajaran : Ketika Tradisi Tak Lagi Diwariskan
Namun, di balik kekayaan ini, ada krisis yang menganga. Bella Ayu Paramitha, pemilik Batik Tulis Sekarmulyo, mengakui bahwa “belakangan, bukan hanya turunnya produk batik yang dihadapi, melainkan juga ancaman lebih dalam : hilangnya identitas budaya”(Rizki, 2025, Pasang Surut Batik Tulis Lasem).
Krisis ini bersifat multi-dimensional. Pertama, ada krisis dokumentasi. Motif dan maknanya tersebar dalam memori para pembatik sepuh, dan ketika mereka meninggal, motif ikut terkubur bersama mereka.
Kedua, ada krisis regenerasi. Generasi muda kurang tertarik belajar membatik karena prosesnya lama, penghasilannya tidak pasti, dan status sosialnya dianggap rendah. Ketiga, ada krisis otentikasi. Batik printing yang diproduksi massal dengan mesin membanjiri pasar, dijual dengan label “Batik Lasem”, mengaburkan batas antara yang otentik dan yang palsu.
Dalam konteks “belajar membatik”, krisis ini berarti bahwa transmisi pengetahuan terputus. Tidak ada lagi proses magang yang sistematis di mana seorang pemuda belajar dari pembatik sepuh selama bertahun-tahun. Pelatihan membatik, jika ada, seringkali hanya berlangsung beberapa hari cukup untuk mengenalkan teknik dasar, tetapi tidak cukup untuk menanamkan pemahaman mendalam tentang filosofi motif atau estetika tradisional.
Menuju Revitalisasi Pembelajaran : Belajar dari Lasem
Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi krisis ini. Institusi pendidikan seperti BINUS University mengadakan pelatihan desain motif modern bagi para pengrajin Lasem (Binus, 2024, Batik Lasem: Perpaduan Budaya yang Terancam Punah). Tim peneliti UI melakukan inventarisasi motif untuk mendokumentasikan warisan visual yang terancam punah. Pemerintah daerah mendaftarkan 21 motif Batik Lasem ke HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual) untuk melindungi dari penjiplakan.
Namun, dari perspektif kritik seni, upaya-upaya ini masih bersifat top-down dan cenderung berfokus pada produk (motif, desain, kekayaan intelektual) daripada proses (cara belajar, cara mengajar, cara mewariskan).
Yang dibutuhkan adalah revitalisasi ekosistem pembelajaran itu sendiri. Artinya, kita perlu menghidupkan kembali praktik magang tradisional, di mana seorang calon pembatik belajar tidak hanya teknik, tetapi juga cerita di balik setiap motif., kita perlu mengakui bahwa “belajar membatik” adalah proses seumur hidup, bukan pelatihan tiga hari, kita perlu menciptakan ruang-ruang seperti warung kopi di Lasem di mana pengetahuan tentang batik dapat dipertukarkan secara santai namun mendalam.
Mengenal dengan Tangan, Bukan Hanya Mata
Mengenal Batik Lasem bukanlah kegiatan intelektual semata. Ia tidak cukup dilakukan dengan membaca buku, mengamati foto, atau menghafal nama motif. Mengenal Batik Lasem dalam arti yang paling dalam hanya bisa terjadi ketika tangan memegang canting, ketika lilin panas menetes membentuk garis, ketika sabar diuji oleh lamanya pewarnaan.
Esai ini berargumen bahwa “belajar membatik” adalah metode kritis untuk memahami warisan budaya. Di dalam proses membatik, tersimpan pengetahuan tentang sejarah (seperti motif kricak yang mengingatkan pada kerja rodi), tentang ekologi (seperti motif latohan dari rumput laut), tentang akulturasi (seperti naga dan burung hong dari tradisi Tionghoa), dan tentang komunitas (seperti pembagian kerja di antara pembatik).
Tanpa proses belajar ini, “mengenal” Batik Lasem hanya akan menghasilkan pengetahuan yang dangkal, tahu nama tetapi tidak tahu makna, tahu bentuk tetapi tidak tahu proses, tahu harga tetapi tidak tahu nilai. Padahal, seperti yang diingatkan oleh Sonya Suganda dari UI, “tak kenal maka tak sayang”(Agni Malagina, Mahandis TY, 2021). J
ika generasi muda tidak diajak untuk benar-benar mengenal Batik Lasem maka suatu hari nanti yang tersisa hanyalah kain-kain cantik tanpa jiwa, motif-motif indah tanpa cerita. Sebuah tradisi yang mati karena tidak pernah benar-benar diwariskan.
Lasem masih mengajarkan kita sesuatu: bahwa di ujung canting, di ujung pensil yang menggoreskan ampas kopi di atas rokok, di ujung jari yang menari di atas kain mori, tersimpan sebuah peradaban. Tugas kita adalah belajar membacanya, kita harus mau belajar membatik (*).
Catatan Redaksi
Muh Nur Khusen, Mahasiswa Pascasarjana ISI Yogyakarta

