Membaca Visual Tifo Tiga Dimensi Melalui Kreativitas dan Solidaritas, Bukan Kekerasan Dalam Gemuruh Sepak Bola

by -
Membaca Visual Tifo Tiga Dimensi Melalui Kreativitas dan Solidaritas, Bukan Kekerasan Dalam Gemuruh Sepak Bola
Tifo PSIM Yogyakarta G910 Collective Derby Mataram karya Badsign Studio. Sumber media PSIM Yogyakarta

Oleh : Saptaria An-Nisa Nirwikara

YOGYAKARTA, SEMANGATNEWS.COM – Suasana tribun utara Stadion Sultan Agung sore itu berbeda dari biasanya. Beberapa saat sebelum babak kedua dimulai, selembar visual besar perlahan terbentang dari barisan suporter.

Bentangan itu menutup sebagian tribun dan segera menarik perhatian penonton. Pertandingan pada 6 Februari 2026 itu mempertemukan PSIM Yogyakarta dengan Persis Solo dalam suatu laga yang terkenal klasik dan panas bertajuk “Derby Mataram” yang menjadi salah satu pertandingan penting bagi kedua tim dengan basis pendukung kuat di Jawa Tengah dan Yogyakarta yang sarat sejarah panjang yang melingkupinya.

Di tengah atmosfer pertandingan, kelompok suporter G910 Collective menghadirkan koreografi visual berupa tifo tiga dimensi berukuran 10 x 17.5 meter.

Saptaria An-Nisa Nirwikara (penulis)
Saptaria An-Nisa Nirwikara (penulis)

Visual itu menampilkan tiga figur dengan ekspresi ceria yang membawa atribut khas tribun suporter.

Satu figur memegang megaphone, figur lain membawa perangkat sound sistem, sementara figur ketiga membentangkan syal khas suporter bola.

Bentangan visual itu digerakkan dari balik tribun menggunakan empat tiang besi. Tifo mulai bergerak sesaat sebelum peluit babak kedua dibunyikan.

Tifo PSIM Yogyakarta G910 Collective Derby Mataram karya Badsign Studio
Tifo PSIM Yogyakarta G910 Collective Derby Mataram karya Badsign Studio

Selama babak ke dua berlangsung, gambar visual tetap terbentang sebagai bagian dari dukungan suporter kepada tim. Tifo kemudian diturunkan secara bertahap pada menit ke-53 pertandingan.

Aksi ini segera menyebar di media sosial. Dokumentasi video dan foto dari tribun utara beredar luas dan memicu berbagai tanggapan dari warganet, bahkan menyita perhatian masyarakat diluar pandemen sepakbola dan lintas disiplin salah satunya seni rupa.

Meskipun tidak luput dari pro dan kontra, banyak yang menyoroti konsep visual yang berbeda dari koreografi tribun pada umumnya.

Collective, Sumber Dokumentasi PSIM Yogyakarta
Collective, Sumber Dokumentasi PSIM Yogyakarta

Untuk menelusuri proses dibalik karya tersebut, saya mendatangi ilustrator yang merancang visual tifo itu. Ia adalah Dimas Saputra dikenal melalui Badsign Studio. Dimas menjelaskan ; ilustrasi pada tifo memang gambar. Namun ia menegaskan karya itu bukan karya personal.

Menurutnya, tifo lahir dari kerja kolektif anggota G910 Collective dan sudah melalui banyak pertimbangan panjang. Prosesnya melibatkan banyak orang, mulai dari rancangan ide dan konsep, penggalangan dana, persiapan material, hingga pengerjaan di lapangan.

Seluruh tahapan dilakukan secara gotong royong yang prosesnya disebut nyengkuyung. Bagi Dimas, tifo tidak dapat dipisahkan dari kerja bersama menghidupkan visual di tribun stadion.

Dari konsep kolektif, memilih pendekatan sederhana melalui gambaran dukungan suporter dan suasana yang menyenangkan. Tiga figur dengan ekspresi dan gestur ceria dipilih untuk menampilkan semangat kebersamaan di tribun.

Dan juga merepresentasikan gerakan dari G910 mengusung slogan “crowd of fun” atau kerumunan yang bersenang senang. Dalam artian, mereka ingin menonjolkan bagaimana aksi mendukung suporter seharusnya diwarnai kesenangan dan jauh dari stigma-stigma negatif seperti kekerasan dan kerusuhan.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa visual dalam tribun tidak hanya berfungsi sebagai dekorasi. Ilustrasi juga dapat membawa pesan tentang cara mendukung tim secara positif. Bagi G910 Collective, kultur suporter dapat berkembang melalui kreativitas visual dan solidaritas, bukan melalui kekerasan di stadion.

Analisis Visual Ilustrasi Tifo Badsign Studio

Karya tifo yang dirancang oleh Dimas Putra berangkat dari gagasan kolektif komunitas suporter G910 Collective. Kelompok ini ingin menghadirkan bentuk aksi tribun yang baru sekaligus memberi ruang bagi ide kreatif para anggotanya.

Gagasan tersebut juga muncul dari kegelisahan terhadap citra negatif yang kerap melekat pada kultur suporter sepak bola di Indonesia. Dalam sejumlah kasus, dukungan terhadap tim justru berakhir pada kericuhan dan bahkan menelan korban jiwa, seperti yang pernah terjadi dalam Tragedi Kanjuruhan.

Berangkat dari kondisi tersebut, G910 Collective kemudian menggandeng Badsign Studio yang juga merupakan bagian dari komunitas itu. Pengalaman Badsign dalam mengerjakan ilustrasi bertema sepak bola dinilai mampu menerjemahkan gagasan kolektif menjadi bahasa visual yang mudah dipahami di tribun stadion.

Sejak awal perjalanan artistiknya, Badsign dikenal dengan gaya ilustrasi yang tegas dan kontras. Ia kerap menggunakan garis luar tebal serta karakter dengan ekspresi kuat. Pilihan visual ini banyak dipengaruhi oleh subkultur punk dan skinhead yang lekat dengan estetika poster, grafis musik, serta budaya jalanan.

Karakter visual tersebut kemudian menjadi identitas yang konsisten dalam berbagai proyeknya, termasuk dalam kolaborasi dengan PSIM Yogyakarta untuk kebutuhan merchandise maupun proyek visual sepak bola lain di dalam dan luar negeri.

Ilustrasi tifo yang diberi judul Crowd of Fun menggambarkan kultur suporter yang berkembang di tribun gate 9 dan 10 stadion, yang kemudian dikenal sebagai G910. Komposisi visual menampilkan tiga figur suporter bergaya kartun dengan garis tebal dan ekspresi wajah yang kuat.

Ketiga figur ditempatkan di bagian atas komposisi dengan pose aktif. Satu figur memegang megafon, satu membawa speaker besar di pundak, dan satu lagi mengangkat syal suporter ke udara. Gestur tubuh mereka memperlihatkan aktivitas khas tribun saat pertandingan berlangsung.

Menurut penuturan Badsign, ide tersebut muncul dari pengamatan terhadap dinamika suporter beberapa musim terakhir. Setelah klub promosi ke Liga 1, ia melihat atmosfer tribun tidak seramai sebelumnya.

Melalui ilustrasi ini, ia ingin menghadirkan kembali semangat kolektif suporter. Visual figur yang riang dan aktif diharapkan menjadi pemantik bagi suporter lain untuk ikut berpartisipasi dalam menciptakan suasana pertandingan.

Pilihan warna memperkuat pesan tersebut. Palet yang digunakan memadukan biru, merah muda, oranye, dan hitam. Biru menjadi warna dominan pada kostum figur dan berkaitan dengan identitas klub. Oranye muncul dalam bentuk api di sisi kiri dan kanan komposisi.

Api ini berfungsi sebagai simbol energi dan semangat dukungan. Kontras antara biru dan oranye menciptakan intensitas visual yang mudah terlihat dari jarak jauh di dalam stadion.

Gaya ilustrasi menggunakan pendekatan komik dengan distorsi ringan pada bentuk wajah dan tubuh. Teknik ini membuat ekspresi emosi terlihat jelas. Senyum lebar, mata menyipit, dan gerakan tubuh condong ke depan menampilkan kesan antusias.

Pendekatan visual seperti ini umum digunakan dalam budaya supporter art karena mampu menyampaikan pesan secara cepat kepada ribuan orang di tribun.

Detail atribut yang muncul pada figur juga memiliki fungsi simbolik. Megafon menggambarkan peran pemimpin chant di tribun. Speaker melambangkan sumber suara yang menggerakkan massa suporter.

Syal yang diangkat ke udara menunjukkan simbol solidaritas. Tulisan Crowd of Fun pada kaos salah satu figur mempertegas gagasan kebersamaan yang ingin ditampilkan.

Elemen pagar kawat di sisi kanan dan kiri komposisi memberi konteks ruang stadion. Dalam visual budaya sepak bola, pagar sering menjadi penanda batas antara tribun dan lapangan.

Kehadirannya memperkuat suasana pertandingan dan memberi kesan realitas ruang tempat para suporter berkumpul.

Dalam konteks tribun stadion, tifo berfungsi sebagai alat komunikasi visual. Ketika dibentangkan sebelum atau saat pertandingan berlangsung, figur suporter yang energik dapat memicu resonansi emosional di antara penonton lain.

Visual tersebut tidak hanya menjadi dekorasi tribun, tetapi juga membangun identitas kolektif para pendukung.

Figur yang ditampilkan juga merepresentasikan tipikal anggota komunitas G910 Collective. Pendekatan ini membuat karya terasa dekat dengan pengalaman keseharian suporter.

Penonton tidak melihat figur anonim, melainkan gambaran diri mereka di tribun stadion untuk memperkuat rasa kepemilikan terhadap karya sekaligus hubungan antara ilustrasi, komunitas, dan kultur suporter.

Meskipun aksi tifo dari G910 Collective mendapat respons positif, aktivitas kreatif mereka tidak berhenti pada satu pertandingan. Melalui akun komunitas seperti Yogyakarta Youth, mereka mengumumkan aktivasi baru berupa songlist dan video lirik yang disiapkan sebagai pemanas tribun sebelum laga-laga selanjutnya.

Inisiatif tersebut menunjukkan upaya komunitas suporter untuk terus menghadirkan bentuk dukungan yang kreatif. Aksi tribun tidak lagi hanya berupa koreografi visual, tetapi juga melibatkan elemen musik dan partisipasi kolektif melalui nyanyian suporter.

Langkah ini memperlihatkan bagaimana G910 mencoba menjaga dinamika tribun dengan menghadirkan ide-ide baru dalam setiap pertandingan.

Dalam perbincangan, Dimas saputra menegaskan bahwa berbagai aksi yang dilakukan G910 diharapkan dapat menjadi pemantik bagi suporter.

Ia melihat kreativitas tribun sebagai ruang untuk menyampaikan pesan lebih luas.

Bagi Dimas, aksi suporter tidak hanya berfungsi sebagai hiburan/perayaan pertandingan, tetapi juga sebagai medium menyampaikan gagasan dan nilai kebersamaan kepada para penonton di stadion. (*)

Catatan Redaksi
Saptaria An-Nisa Nirwikara, akademisi dan perupa visual yang menempuh pendidikan Magister Penciptaan Seni, Desain Komunikasi Visual di Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.