Menari dengan Ruang dan Budaya Melalui Eksplorasi Seni di Jiwa Jawa Ijen dan Taman Gandrung Terakota Banyuwangi, Jawa Timur

by -
Latihan Menari Bersama Penari Gandrung – Foto dok Penulis –
Latihan Menari Bersama Penari Gandrung – Foto dok Penulis –

Oleh : Brusheila Devi Proboyasti

PADANG, SEMANGATNEWS.COM – Kunjungan mahasiswa seni ke “Jiwa Jawa Ijen dan Taman Gandrung Terakota” Banyuwangi, Jawa Timur beberapa hari lalu, bukanlah sekadar perjalanan wisata, melainkan sebuah pengalaman belajar seraya menimba ilmu di dua lokasi.

Di dua tempat ini, saya diajak untuk memahami bagaimana ruang, tubuh, dan budaya saling berinteraksi untuk membentuk karya seni yang utuh dan hidup.

Saat pertama kali menginjakkan kaki di Jiwa Jawa Ijen, suasana alam yang terbuka langsung menyambut. Lingkungan asri dipadukan dengan berbagai karya seni yang tersebar menciptakan atmosfer kuat dan memancing rasa ingin tahu.

Penulis di depan Patung Seribu Gandrung Terakota
Penulis di depan Patung Seribu Gandrung Terakota

Saya mencoba melakukan eksplorasi gerak dengan pendekatan embodiment, guna memahami tubuh sebagai media utama guna merasakan dan merespons lingkungan alam sekitar.

Menurut filsuf Maurice Merleau-Ponty dalam bukunya Phenomenology of Perception (1945), “tubuh bukan sekadar objek biologis, melainkan media kita untuk mengalami dunia” (the body is our general medium for having a world). Ini fondasi utama pemahaman bahwa tubuh bukan hanya alat bergerak, melainkan media merasakan dan merespons lingkungan.

Senada dengan Saras Dewi (2022)  dalam  Sembahyang Bhuvana : Renungan Filosofis tentang Tubuh, Seni, dan Lingkungan  menunjukkan secara lebih kontekstual bahwa “tubuh tidak bisa dipisahkan dari ruang yang dihuninya, karena keduanya saling membentuk dalam pengalaman estetis”.

Penulis dan teman-teman penari mahasiswa seni
Penulis dan teman-teman penari mahasiswa seni

Di ruang terbuka Jiwa Jawa Ijen, saya benar-benar merasakan kebenaran dari pernyataan ini : tubuh saya bukan sekadar “bergerak”, ia “menjadi satu” dengan hembusan angin dan tekstur tanah di bawah telapak kaki.

Pemikiran tentang tubuh sebagai entitas yang aktif membentuk dunianya juga diperkuat oleh Buongiorno dan Bazzoni (2026) yang menyatakan, the body does and is done; it is engaged in a movement of co-constitution with the world  “tubuh melakukan dan dikenai tindakan ; ia terlibat dalam gerakan ko-konstitusi dengan dunia”. Artinya, tubuh bukanlah objek pasif, tetapi subjek aktif yang membentuk sekaligus dibentuk oleh ruang di sekitarnya.
Gerakan yang dilakukan tidak disusun secara koreografis.

Sebaliknya, gerakan tersebut muncul secara spontan melalui interaksi dengan elemen alam mulai dari hembusan angin, tekstur tanah, hingga suasana yang terasa di hati. Kegiatan ini dilakukan bersama teman-teman dalam bentuk improvisasi yang menyenangkan.

Pengalaman ini sangat relevan dengan konsep site-specific art. Seperti yang dijelaskan oleh Bouman (2026), praktik  site-specific  kontemporer tidak lagi sekadar menempatkan karya di suatu lokasi, melainkan builds a reciprocal relationship between cultural fragments and the location of the work “membangun hubungan timbal balik antara fragmen budaya dan lokasi karyanya”.

Dalam konteks seni di Indonesia, pemahaman tentang ruang ini juga ditegaskan oleh Dana dan Aryandari (2021)  dalam  Ruang Seni, Ruang Imaji  bahwa “ruang dalam tradisi seni Indonesia bukan sekadar latar, melainkan mitra dialog yang aktif.” Hal ini persis saya rasakan yaitu tanah, pepohonan, dan angin di Jiwa Jawa Ijen tidak hanya menjadi “tempat” saya bergerak, tetapi ikut “berbicara” dan membentuk setiap gerakan saya.

Roche dan Gibson (2026) menambahkan pula bahwa kesadaran bertubuh (embodied awareness) memungkinkan seseorang untuk “land and disperse at the same time” dalam sebuah ruang, baik fisik maupun virtual. Saya mulai menyadari bahwa tubuh berfungsi sebagai “pembaca ruang”. Proses penciptaan seni tidak harus selalu berangkat dari konsep yang rumit, tetapi bisa lahir dari pengalaman langsung dan kepekaan terhadap lingkungan.

Menafsir Warisan : Bertemu dengan Patung Gandrung

Perjalanan berlanjut ke Taman Gandrung Terakota. Kehadiran ratusan patung penari Gandrung yang berdiri gagah di ruang terbuka memberikan pengalaman visual yang memukau sekaligus mengharukan. Bagi saya, barisan patung ini bukan sekadar hiasan, melainkan representasi memori kolektif dan kebanggaan budaya Banyuwangi.

Di sini, aktivitas bergeser menjadi observasi dan interpretasi. Saya mengamati detail bentuk tubuh para patung, yang mana posisi tangan yang anggun, arah pandangan yang tajam, hingga dinamika sikap tubuh tertangkap dalam diam. Kemudian, saya mencoba menerjemahkan visual ke dalam gerakan tubuh sendiri.

Dalam teori interpretasi seni, Hans-Georg Gadamer (1960) dalam  Truth and Method  berpendapat bahwa memahami sebuah karya seni adalah proses dialog yang terus berlangsung. Makna tidak pernah tunggal dan tetap, melainkan lahir dari pertemuan antara karya dengan pengalaman dan latar belakang pengamatnya.

Perspektif ini diperbaharui oleh Marino dan Romagnoli (2025) yang menyebut dalam estetika hermeneutika kontemporer, interpretation itself is a creative act that renews the artwork’s being each time, “interpretasi itu adalah tindakan kreatif yang setiap saat memperbaharui keberadaan karya seni.

Dari sudut pandang kritikus tari Indonesia,  Sal Murgiyanto (2017)  dalam  Kritik Pertunjukan dan Pengalaman Keindahan  mengingatkan bahwa pengalaman estetis tidak terjadi dalam ruang hampa, melainkan “lahir dari dialog antara tubuh penari, ruang pertunjukan, dan ingatan budaya penontonnya.” Pandangan ini dirasakan ketika kita bergerak di antara patung-patung Gandrung. Saya bukan sekadar “melihat” patung, tetapi “berdialog” dengan mereka, tubuh saya merespons posisi tangan yang anggun, arah pandangan yang tajam, hingga dinamika sikap tubuh yang tertangkap dalam diam.

Pendekatan yang saya gunakan bukan sekadar meniru, melainkan menangkap esensi dan jiwa dari gerakan tersebut, lalu mengolahnya menjadi ekspresi personal dan kontekstual. Bergerak di antara patung-patung tersebut memberikan sensasi yang unik. Seolah-olah saya sedang berdansa bersama para pendahulu, melestarikan gerakan yang sama namun dengan napas yang baru. Ruang di sini tidak lagi menjadi latar belakang biasa, tetapi menjadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman artistik itu sendiri.

Belajar dari Alam dan Tradisi

Selain praktik gerak, diskusi dan pengamatan mendalam mengenai konsep kedua tempat ini memperluas wawasan. Jiwa Jawa Ijen dan Taman Gandrung Terakota membuktikan bahwa seni bisa dihadirkan secara kontekstual. Keduanya berhasil menyatukan unsur alam, nilai budaya, dan pengalaman pengunjung menjadi satu kesatuan yang harmonis.

Apa yang membuat Taman Gandrung Terakota begitu berkesan?  Santosa Hendra (2025) melalui “Monumentalisme dalam Seni Pertunjukan Tradisional di Indonesia”  memberikan jawaban tajam : “monumentalitas sebuah tarian tidak diukur dari skala panggungnya, melainkan kemampuan untuk terus berdialog dengan generasi baru”. Patung-patung Gandrung yang membisu itu justru “berbicara” dengan sangat keras kepada saya. Mereka tidak sekadar menjadi monumen mati, tetapi menjadi undangan untuk terus menari, terus mengingat, dan terus melestarikan dengan cara baru.

Dari seluruh rangkaian kegiatan ini, saya menyimpulkan bahwa pembelajaran seni sesungguhnya terjadi ketika kita melibatkan tubuh dan pikiran secara utuh. Pendekatan  embodiment  dan kesadaran akan tempat (site-specific) membuka mata bahwa kreativitas tidak terbatas hanya di dalam studio, tetapi bisa muncul di mana saja asalkan kita peka terhadap sekitar.

Seperti yang dikatakan oleh Ralph Waldo Emerson,  Art is not a thing, it is a way “Seni bukanlah sebuah benda, melainkan cara atau proses”.

Kunjungan ini menjadi pengalaman yang sangat berharga yang memperkuat pemahaman bahwa seni tidak pernah berdiri sendiri, ia selalu berdialog dengan lingkungan, sejarah, dan nilai-nilai yang melatarbelakanginya.

Sebagaimana ditegaskan oleh Saras Dewi (2022), pengalaman estetis yang sejati selalu merupakan “perjumpaan antara tubuh, ruang, dan ingatan”  dan itulah yang selama dua hari ini saya alami di Banyuwangi. Pemahaman inilah yang akan menjadi bekal penting dalam perjalanan mengembangkan diri sebagai seniman ke depannya.

Catatatan Redaksi :
Brusheila Devi Proboyasti, Mahasiswa Pascasarjana ISI Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.