Catatan : Muharyadi
PADANG, SEMANGATNEWS.COM – Selama ini sering mengemuka disebagian masyarakat Islam yang terkesan tertutup untuk kegiatan kesenian, apalagi seni lukis yang menggambarkan makhluk hidup seperti manusia, binatang dan lainnya, tanpa melihat dulu tujuan dan fungsi serta nilai-nilai estetika didalamnya.
Baca Juga : Curahan Batin Mengungkap Perwatakan Suatu Gejala Dalam Ekspresionis Secara Bebas
Pernyataan ini bukan hanya terjadi di Indonesia yang penduduknya mayoritas beragama Islam, disejumlah negara maju dan timur tengah anggapan yang sama juga pernah mengemuka hingga timbul istilah ada kegersangan dalam seni lukis apalagi dunia seni patung dengan obyek-obyek bernyawa semisal manusia dan makhluk hidup lainnya.

Pendapat keliru serta kebuntuan berkarya seni rupa ditengah-tengah penduduk muslim dunia, akhirnya lambat laun terjawab juga dimana sejak tahun 1985 seperti yang pernah dicatat para ahli Negara Arab Saudi yang berpenduduk mayoritas muslim akhirnya membuat kejutan besar dalam bidang seni rupa melalui rumah-rumah yang mereka bangun disertai arsitektur kontemporer tanpa meninggalkan “kekhasan” Arab Saudinya dan interior yang tidak tanggung-tanggung dikerjakan oleh tangan-tangan artistik dari Eropa diperkaya lukisan-lukisan yang bergantungan mulai dari karya pelukis besar Victor Vasarelly hingga karya-karya pelukis Arab Saudi sendiri.
Dari catatan yang ada, terjadi kejutan luar biasa dan mencengangkan di Negara timur tengah tersebut manakala ketika berdirinya patung-patung di lokasi atau tempat-tempat strategis di kota Jeddah, Riyadh menuju ke Madinnah dan Mekkah Al Mukarammah, namun diakui patung-patung tersebut tidak terdapat di Masjidil Harram, melainkan di jalan-jalan dari dan menuju ke Mekkah atau Medinah yang patung-patungnya berharga ribuan dollar bahkan ratusan ribu dollar buah karya Hendri Moore, Padmodoro dan pematung kaliber dunia lainnya untuk menghiasi kota.

Patung-patung tersebut berbentuk non realis walau ungkapannya bertitik tolak dari makhluk makhluk hidup, selebihnya merupakan dalam bentuk bejana-bejana khas Arab Saudi yang dimodifikasi termasuk patung-patung realisme dan kaligrafi. Kita ketahui untuk negara-negara Mesir, Irak, Iran, Syria dan beberapa negara berpenduduk Islam lainnya patung-patung dengan obyek manusia utuh sejak lama sudah ada diantaranya patung “penunggang kuda”.
Bukan untuk Kepentingan Agama
Kehadiran karya-karya seni rupa, diantaranya seni lukis, grafis bahkan seni patung di sejumlah negara Islam seperti diuraikan diatas tentulah bukan dimaksudkan untuk kepentingan agama atau kepercayaan tertentu seperti saat sebelum Renaisanse abad ke XIV dengan gaya Gothic yang ditujukan untuk kepentingan gereja yang melukiskan kehidupan Yesus Kristus, kehidupan bidadari atau hal-hal yang berhubungan dengan kepentingan agama hingga ke zaman Renaisance abad XV-XVI dengan hadirnya sejumlah seniman terkemuka seperti Leornardo Da Vinci (1452-1564) dengan karyanya yang terkenal berjudul “Monalisa”, Michael Angelo (1475-1564) dengan sejumlah karya-karya pentingnya dan beberapa seniman terkemuka dunia lainnya.

Bila kita menengok sejarah kebelakang dalam berbagai sumber sumber tertulis lainnya paling tidak ditemukan bahwa seni lukis Islam diduga mulai berkembang ditandai terdapatnya wilayah Islam masuk dalam daerah jajahan Negara tertentu. Disitu pula dunia seni lukisnya turut berkembang dengan para senimannya. Kemudian seni murni seperti seni lukis Islam lebih banyak dibuat untuk keperluan sebagai hiasan semata-mata dalam bentuk ornamen, hiasan buku, permadani, hiasan dinding dan lainnya.
Seni lukis Islam dalam perkembangannya tidak berdiri sendiri tetapi berkembang sesuai dengan berkembangnya Islam ke seluruh dunia. Untuk itu, seni lukis Islam banyak ditemukan dalam bentuk karya seni lainnya seperti karya seni kriya, seni ornamentik yang dapat menghiasi buku-buku, baik dalam buku sastra, ilmu pengetahuan, dan lainnya. Berikut adalah beberapa ciri dari seni lukis Islam :
Membaca, di dalam seni lukis Islam sebagai bentuk ekspresi membaca nilai-nilai yang terkandung dalam alam semesta ini. Yang dimaksud dengan membaca wahyu Allah sebagai sebuah teks yang ada dalam kitab suci Al-Qur’an sebagai pengetahuan dan warna kehidupan manusia tentang kehidupan dan kekuasaan Allah dari kosmologi. Dari kitab suci Al-Qur’an itu diaktulisasikan di dalam membaca kehidupan dan alam semesta ini sebagai sebuah kosmologi menyiratkan keberadaan Allah sebuah pencipta. Manusia sebagai bagian dari dari proses penciptaan itu terwarnai dengan nilai keindahan dari sebuah karya-Nya. Hal itu bisa dilihat dalam karya seni pada umumnya.
Tanpa perspektif, terlihat dalam konsep estetika Islam, bahwa manusia dan alam semesta ini adalah ciptaan Allah. Untuk itu, bentuk kesatuan manusia dan alam dengan bentuk lukisan yang berjenjang atau melingkar. Bahwa kehidupan alam semesta ditata dengan keharmonisan dan keindahan, karena keindahan alam ditata sedemikian rupa, sehingga memberikan ruang pada mahluk hidup—dalam hal ini manusia.
Garis linier dalam seni lukis Islam karena teknik yang dipergunakan menggunakan pena dan menekankan pada lukisan dibentuk oleh sebuah garis. Garis linier memberikan kemungkinan pada bentuk pengungkapan yang lebih lugas dengan memberikan kekuatan, karena dari garis itu tergambarkan. Karena garis sebagai ungkapan dari sebuah bentuk atau merepresentasi obyek lukisan atau tulilsan dalam bentuk kaligrafi.
Dari beberapa ilustrasi sejarah peradaban Islam, apalagi dikaitkan zaman Islam masuk ke Andalusia (Spanyol), Turki, India dan lainnya meski sudah terdapat patung-patung apalagi dalam bentuk karya monumental dan lukisan obyek manusia, akan tetapi tidak ada yang menyimpang dari ajaran Islam misalnya melalui eksploitasi penyembahan, membuat manusia bertelanjang dan penyimpangan bentuk lainnya. Hal ini pulalah yang menjadi pembeda seni lukis Islam dengan seni lukis lainnya yang non Islam.
Mengumandangkan Keindahan Melalui Seni LukisKaligrafi Islam
Keindahan menyertai hadirnya karya seni Islam, apalagi kalau kita melihat karya-karya lukis ornamen yang berangkat dari motif-motif flora yang mengambil obyek-obyek alam dan seisinya dengan mengutamakan aspek keindahannya sebagai totalitas wacana isian yang dikemukakan kepada publik seni Islam.
Dalam Al-qur’an yang penuh kisah-kisah indah tersebut paling tidak terdapat 30 ayat tentang keindahan dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Dan, bila pelukis muslim bertolak dari ayat-ayat Al-qur’an tersebut maka dalam dirinya senantiasa penuh dengan kalimat tauhid setiap saat, maka lukisannya membuahkan hasil yang bernafaskan Islam atau jauh dari bisikan-bisikan syetan. Mengingat pelukis Islam selalu berpegang teguh dengan ayat-ayat Al-qur’an, tentulah yang bersangkutan tidak akan takut atau menunggu dulu komando dari para alim ulama boleh atau tidaknya melukis atau membuat lukisan sebagai karya sejauh jelas tujuan, fungsi dan sasarannya serta tidak menyimpang dari ajaran agama Islam seperti yang terkandung dalam Al-Qur’an.
Namun tentulah akan jauh lebih berarti dan bermakna bila seniman lukis Islam dan para alim ulama yang ada dapat seiring dan sejalan dalam membentuk opini yang tidak menyimpang sesuai ajaran Islam terhadap karya-karya lukis yang dihasilkan melalui wilayah kreativitas dan penjelajahan senimannya yang dengan sendirinya seniman Islam tidak ketinggalan dari aspek bentuk-bentuk karya dan nilai-nilai estetika yang ada di dalamnya dengan hasil karya seniman non Islam.
Di Indonesia sendiri seni lukis Islam berkembangan selain ditandai hadirnya sejumlah arsitektur dengan interior pada mesjid-mesjid terkemuka, juga hadirnya dalam bentuk-bentuk ornamen yang mengambil mortif flora bahkan fauna yang distilasi dari aspek bentuk-bentuknya diberbagai tempat dan lokasi menampilkan nilai keindahan, ditandai maraknya perkembangan seni lukis kaligrafi Islam.
Jika membahas tentang hubungan antara seni kaligrafi dan seni lukisan, sebenarnya seni kaligrafi sendiri merupakan dari bagian bentuk seni lukisan yang beragam. Dalam bentuk seni lukisan, seni kaligrafi disebut juga dengan seni lukis kaligrafi. Seni lukis kaligrafi, yaitu seni lukis piktoral yang dibentuk oleh khat yang mempunyai arti dan makna keagamaan. Karena keluwesan garis itu mampu memberikan makna pada bentuk seni lukis yang kuat dengan garis dan kaya dengan makna yang lebih dalam untuk diungkapkan.
Keduanya (seni lukis dan seni kaligrafi) memiliki media dan alat yang sama (pena/ kuas, bahan tulis/lukis) menjadi budaya dari seni lukis Islam. Kekuatan warna terlihat dari gerak dan media yang memberikan aksentuasi dari bentuk itu sendiri. Karena karakter dari garis yang luwes, fleksibel dan dinamis bisa menyelusuri dengan tepat karena kuas dan pena itu dipergunakan sesuai dengan bentuknya. Selain itu, Keduanya memiliki nilai ekspresi pribadi sebagai pelukis dan penulis. Kesamaan ini di dasarkan pada nilai Islam, bahwa di dalam melukis atau membuat kaligrafi sudah menjadi bagian dari realitas kehidupan untuk dapat selalu menyebutkan asma Allah. Sebuah ekspresi pribadi yang telah diwarnai nilai Islam yang sangat universal sebagai bentuk dari kefitrahan manusia.
Walau belum berumur panjang kehadiran seni lukis kaligrafi Islam dengan seniman-seniman terkemuka yang ada di tanah air sejak lebih empat dekade persisnya saat pameran kaligrafi Islam melalui Musabaqah Tilawatil Qur’an di Semarang, Jawa Tengah saat pameran pertama digelar tahun 1979, kemudian berlanjut seiring kegiatan MTQ tersebut yang setiap saat digelar diberbagai propinsi di tanah air.
Dari berbagai silang pendapat dan diskusi masalah kaligrafi sejalan kegiatan pameran seni lukis kaligrafi Islam adalah soal batasan antara seni kaligrafi dan seni lukis kaligrafi. Artinya seni kaligrafi lebih tertuju pada seni tulis indah, sedangkan seni lukis kaligrafi adalah yang menggunakan kaligrafi sebagai unsur utamanya. Perbedaannya, seni kaligrafi tidak mempunyai tugas lain kecuali mengekspresikan arti yang dikandungnya, sementara seni lukis kaligrafi berfungsi sebagai unsur disain, bahkan bisa menjadi tekstur dan bahkan menjadi bagian lukisan yang ingin ditonjolkan sebagai “centre of interest” dengan berbagai teknik yang selama ini mewarnai kancah seni lukis kaligrafi Islam dari berbagai angkatan periodesasi seniman yang terlibat di dalamnya.
Kecendrungan seni lukis kaligrafi Islam huruf-hurufnya adalah huruf Arab yang terkenal akan fleksibilitasnya untuk menyesuaikan diri dengan kehendak pelukisnya, misalnya dalam mengisi bidang-bidang persegi panjang, bulat serta bentuk-bentuk lainnya atau mungkin untuk direntang, diliukkan tanpa mengubah arti, fungsi dan makna huruf-huruf Arab dengan beberapa gaya dan corak seperti huruf-huruf kufis, tsuluth, naskhi, farisi yang memiliki karakter sendiri-sendiri. (***)
Muharyadi, Penggiat senirupa, kurator dan jurnalis
