, , , ,

Mengenang 1 tahun Tragedi Wamena : A Tribute to Nasrul Abit

oleh -

Mengenang 1 tahun Tragedi Wamena :
A Tribute to Nasrul Abit..,

Hari ini setahun yang lalu,,,tepat pada tanggal 23 September 2019 sebuah tragedi berdarah terjadi diujung timur negeri ini…Tragedi ini telah merenggut sembilan nyawa para perantau Minang di Wamena dari total jumlah korban jiwa sebanyak 33 orang… Ratusan luka-luka serta ribuan warga mengungsi karena rumah, toko dan tempat usaha mereka dijarah dan dibakar..

Tragedi ini bermula pada pagi hari ketika sekelompok massa pelajar berpakaian SMK menggelar aksi unjuk rasa terkait isu rasialis. Mereka menuduh salah seorang guru di sekolah telah mengeluarkan kata-kata kasar berbau rasial. Tidak menunggu terlalu lama aksi unjuk rasa tersebut berubah menjadi anarkis.

Kerusuhan pecah dimana para pelajar diprovokasi dan ditunggangi oleh kelompok kriminal bersenjata menyerang warga-warga pendatang. Mereka para warga pendatang yang disebut Non-OAP berlarian menyelamatkan diri memenuhi kantor polisi dan markas tentara.

Disana, setidaknya mereka bisa selamat untuk sementara. Malangnya ada sebagian yang terjebak dalam amuk massa tersebut dan harus kehilangan nyawa mereka. Laki-laki, perempuan, tua atau muda menjadi korban.

Asap hitam membumbung menghias langit Kota Wamena. Jerit histeris ketakutan melebihi suara dentuman senjata. Aparat keamanan seakan tidak berdaya menghadapi ribuan warga Papua yang tersulut amarah…

Hingga malam hari suasana masih belum kondusif…Aparat keamanan tidak dapat berbuat banyak…Parameter utama mereka hanya mengamankan para pengungsi sembari menunggu datangnya aparat tambahan dari Jayapura.

Dipengungsian, kondisi semakin memprihatinkan…Mereka bertahan hanya dengan pakaian yang melekat dibadan tanpa makanan dan obat-obatan yang mencukupi. Para orang tua dan bayi-bayi menggigil berselimut ketakutan dalam malam yang panjang tsb.

Kegelapan membalut tangis kesedihan serta ratap pilu anak rantau… Tangis dan darah mereka tertumpah di bumi Cendrawasih..
Tangisan mereka mengguncang bumi hingga sampai ke tanah Sumatera…Mengoyak mimpi-mimpi indah anak nagari di Minangkabau…

Tak luput pula memgusik tidur lelap Nasrul Abit sebagai seorang pemimpin di nagari Minangkabau ini. Beliau memilih untuk turun langsung melihat kondisi pengungsi.. Beliau menjadi kepala daerah pertama yang berani menembus daerah konflik di Wamena..

Bagi para pengungsi, kehadiran Nasrul Abit ditengah-tengah mereka laksana sitawa dan sidingin… Bak obat mujarab yang diresepkan oleh dokter berpengalaman….

Obat belum diminum tapi rasa sakitnya sudah hilang. Mereka mengadukan semua kepedihan kepada beliau layaknya seorang anak berkeluh kesah kepada bapaknya….Beliau mendengarkan dengan uraian air mata seakan bisa merasakan apa yang anak-anak rantau tsb alami…