Catatan Kecil : Muharyadi
PADANG, SEMANGATNEWS.COM – Berkunjung ke “bumi raflesia” propinsi Bengkulu rasanya tak lengkap jika tidak mengunjungi salah satu obyek wisata spritual dan sejarah kalau tidak melihat dari dekat makam Pangeran Sentot Alibasyah tepatnya di Desa Bajak, Teluk Segara, Kota Bengkulu.
Mengingat Pangeran Sentot Alibasyah termasuk salah satu diantara para tokoh pelaku sejarah berpengaruh besar terhadap jalannya Perang Diponegoro. Keberanian dan kehebatan strategi perang Sentot diakui Belanda sebagaimana dilulis dalam buku “De Java Oorlog van 1825-1830″ oleh E.S Klerek (1905) yang menyebut ; strategi perang Sentot dalam melakukan manuver sangat mencengangkan pihak Belanda.

Dari catatan yang kita telusuri, Pangeran Sentot Alibasyah merupakan tangan kanan Pangeran Diponegoro sebagai Panglima Perang Jawa (1825-1830) dan dikenal dengan taktik gerilya yang ditakuti kolonial Belanda. Buyut Sri Sultan Hamengkubuwono I ini, dipercaya memegang komando sebanyak 250 orang pasukan pelopor atau “Pasukan Pinilih”. Saat perang Diponegoro (1825), Sentot Alibasyah masih berstatus remaja berusia 17 tahun kemudian bergabung dengan pasukan Pangeran Diponegoro.
Saat kecil Pangeran Sentot Alibasyah lebih senang menjadi pembalap kuda daripada menjadi seorang calon santri di pesantren seperti yang didambakan Pangeran Diponegoro, sehingga beliau lebih dikenal mahir dan gesit selama peperangan dikarenakan kemampuannya dan menjadi komandan tentara Pangeran Diponegoro yang pemberani. Karena keengganannya untuk menjadi santri Sentot tidak dapat membaca atau menulis sejak kecil.
Istilah nama “Sentot” merupakan nama samaran perang yang berarti “terbang” atau “melesat”. Ini merujuk karekter perilaku orangnya. Sentot berarti meloloskan diri, melarikan diri, menarik diri, terbang, dan umumnya orang menafsirkannya sebagai karakter yang tidak mudah dikenal, seseorang yang temperamennya rumit dan kompleks.
Alibasyah adalah pangkat panglima komandan yang terinspirasi dari unit militer Dinasti Usmaniyah di Turki diberikan oleh Pangeran Diponegoro, karena keberaniannya saat berumur 17 tahun awal 1826.
Menurut Sejarawan Peter Carey, Gelar “Ali Basyah” kemungkinan diambil dari istilah Turki Utsmani “Ali Pasha” (Pasha yang Mulia) atau dari nama Muhammad Ali Pasha, penguasa Mesir (berkuasa 1805-1849), gubernur atau wakil (pasha) terkemuka kesultanan Turki Utsmani awal abad ke-19.
Kolonel Belanda selama perang berlangsung, Mayor de Stuers sebagai “muda”, “berapi-api”, dan dalam segala hal seorang Jawa yang cemerlang yang tahu merambah jalan sendiri berkat kekuatan dan akalnya, dia mendapatkan nama dan pamornya dengan komandan medan Belanda karena keberanian dan mutu kepemimpinannya dalam pertempuran. Mayor Errembault memujinya sebagai; Dalam catatan ; ada beberapa tokoh pelaku selain nama besar Pangeran Diponegoro, yaitu : Pangeran Mangkubumi (putra Sultan Hamengkubuwono II), yang juga paman dari Pangeran Diponegoro, Pangeran Ngabei Jaya Kusuma (putra Sultan Hamengkubuwono II), Kyai Mojo (seorang ulama besar pada abad ke 19 yang juga menjadi guru spiritual-penasehat agama Pangeran Diponegoro) dan Sentot Alibasyah.
Perang Diponegoro (1825-1830) selama lima tahun itu tergolong perang besar dan hampir melibatkan seluruh wilayah penduduk di pulau Jawa. Oleh karenanya perang ini juga dikenal dengan sebutan Perang Jawa. Karena perang tersebut telah menelan korban jiwa sebanyak 8.000 serdadu berkebangsaan Eropa, 7.000 serdadu pribumi, dan 200.000 orang Jawa.
Selaku tokoh sentral dalam perang Jawa, Pangeran Diponegoro melakukan konsolidasi dengan mengangkat beberapa orang senopati yang baru. Salah satunya yang diangkat menjadi senopati perang adalah Sentot Alibasyah yang diberi kepercayaan oleh Pangeran Diponegoro untuk memimpin pasukan yang diberi nama Pasukan Pinilih.
Makam Pangeran Sentot Alibasyah Dibangun Secara Istimewa
Karenanya melihat dan mengamati makam Pangeran Sentot Alibasyah di Bengkulu dibangun secara istimewa disebabkan beliau termasuk tokoh yang disegani masyarakat Bengkulu. Bangunan makam Sentot Alibasyah terletak di kompleks pemakaman umum dikelilingi pagar tembok, berpintu besi.
Gapura pintu gerbang berbentuk kerucut dan di dalamnya terdapat bangunan beratap (cungkup) yang di atasnya dihiasi dengan pilar seperti pintu gerbang. Terdapat ruang terbuka untuk peziarah. Untuk masuk ke cungkup harus melalui pintu gerbang utama yang memiliki anak tangga dan terdapat sisi tangga.
Bangunan cungkup berbentuk ”Tabot”. yang secara harfiah berarti kotak kayu atau peti. Tradisi Tabot dibawa oleh para pekerja, asal Madras-Bengali bagian selatan dari India yang membangun benteng Marlborough di Bengkulu. Bentuk bangunan Tabot ini adalah suatu bangunan bertingkat-tingkat seperti menara masjid dengan lebar lantai dasar 1,5-3 meter, dengan ketinggian 5-12 meter.
Membantu Perjuangan Tuanku Imam Bonjol Melawan Belanda
Alibasyah Sentot Prawirodirjo (sekitar 1808-1855) adalah putra Raden Ronggo Prawirodirjo III, Bupati Wedana Madiun (menjabat 1796-1810), dengan seorang garwa paminggir (selir), Nyi Mas Ajeng Genosari. Sebagai adik lelaki istri sah kedua Pangeran Diponegoro, Raden Ayu Maduretno (sekitar 1798-1827). Sentot ikut dengan keluarga Pangeran di Tegalrejo setelah pernikahan kakak perempuannya dengan Pangeran Diponegoro (28 September 1814).
Dalam perjuangannya melawan penindasan kerajaan Belanda Pangeran Sentot Alibasyah dibujuk Belanda untuk meletakkan senjata tahun 1829 dan dikirim ke Sumatera Barat untuk melawan pemberontakan para ulama Perang Padri.
Namun itu semua tidak lain merupakan strategi monumental Sentot dalam upaya mendapatkan persenjataan dari kerajaan Belanda, untuk digunakan membantu perjuangan Tuanku Imam Bonjol melawan Belanda dan Kaum Adat yang dipimpin Dipertuan Pagaruyung Sultan Alam Bagagarsyah dalam Perang Padri.
Di tanah rantau ini pula Pangeran Sentot Alibasyah dikenang sebagai pahlawan dan lambang persatuan rakyat Bengkulu dengan perjuangan bangsa Indonesia. Mengenang dan mengingat perjuangan Sentot kebelakang, kita tidak hanya menghormati sejarah, tetapi juga menyerap nilai perjuangan, keberanian, dan keikhlasannya untuk mengisi kemerdekaan dengan karya nyata.
Pangeran Sentot Alibasyah akhirnya meninggal 17 April 1885 dalam masa pembuangannya oleh Belanda di Bengkulu. Makam ini termasuk Cagar Budaya yang dikelola Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jambi berdasarkan SK Menteri No : KM.10/PW.007/MKP/2004 yang direvitalisasi hampir 20 tahun silam tepatnya 18 November 2006. (*)

