Mengunjungi Seniman Seni Rupa “Urang Awak” di Yogyakarta dan Bandung Yusman, Pematung Yang Memainkan Peranan Sebagai Penanda Perjuangan Bangsa

oleh -
Yusman dan Patung Potret LB Mordani

Catatan : Muharyadi (Bagian Kelima)

Konsep “dima bumi dipijak disitu langik dijujuang” (dimana bumi dipijak disana langit dijunjung) merupakan falsafah urang awak yang meninggalkan kampung halaman atau pergi merantau keluar dari kampung halaman tempat kelahiran kemudian bermukim dan bertempat tinggal di negeri orang. Secara sederhana dapat ditafsir bahwa, dimana kita menginjakan kaki kita harus menghormati adat istiadat ditempat dimana kita berada.

Baca Juga:  Tiga Zodiak Paling Beruntung Pada Minggu ini 23 - 29 Agustus 2021

Sebenarnya pepatah ini telah lama kita kenal bahkan sangat familiar di tengah-tengah masyarakat yang memiliki banyak makna positif. Misalnya terkait dengan budaya, dimana ketika kita tinggal disuatu tempat, suatu daerah tertentu, selayaknya kita berperilaku, bersikap dan menghargai budaya setempat dengan adat istiadatnya.

Demikian pula halnya yang dialami oleh pematung nasional “urang awak” Yusman (56 th) asal Sukamenanti, Pasaman, Sumatera Barat salah seorang seniman asal Minang yang menjunjung tinggi dan mengapresiasi nilai-nilai budaya dimana ia tinggal, bermukim dan berkarya dalam beberapa dekade terakhir, tepatnya di Daerah Istimewa Yogyakarta, tepatnya di Tegal Senggotan RT 02/RW 11 No. 53 Tirtonirmolo Kasihan Bantul Yogyakarta.

Baca Juga:  Link Baca Novel Si Karismatik Charlie Wade Bahasa Indonesia: Bab 3541, 3542

Hal menarik itu saat pameran dan peluncuran buku “Yusman, Dari Pasaman Untuk Yogya Istimewa”  yang ditulis oleh Haryadi Baskoro dan Bahrul Fauzi Rosyidi disebutkan, Yusman pematung yang telah menasional dan mendunia berkarya juga memiliki dedikasi untuk Daerah Istimewa Yogyakarta.

No More Posts Available.

No more pages to load.