Oleh : Rizal Tanjung
PADANG, SEMANGATNEWS.COM – Ada saat di mana sebuah bangsa terancam bukan karena kehilangan tanahnya, melainkan karena kehilangan suaranya. Suara itu adalah nyanyian leluhur, syair-syair yang sejak dahulu mengalun di sawah yang berkabut, di surau-surau yang sepi, di pelataran rumah gadang ketika bulan meneteskan cahaya di atas gonjong. Di Minangkabau, suara itu pernah menjelma lagu ; syairnya halus, bagaikan benang tenun Pandai Sikek yang dijalin dengan sabar. Namun kini, gema itu seperti mulai karam, ditelan riuh zaman yang lebih menyukai dentum ketimbang desah, lebih tergila pada gemuruh ketimbang bisikan.
Di sinilah pentingnya lomba cipta lagu Minang. Ia bukan sekadar ajang kompetisi musik; ia adalah upaya menimba kembali air jernih dari sumur yang hampir kering. Lomba itu adalah perahu kecil yang berlayar di samudra budaya, berusaha menyelamatkan mutiara-mutiara falsafah yang nyaris tenggelam. Dalam setiap nada dan syairnya, terkandung filosofi hidup yang diwariskan: alam takambang jadi guru—sebuah pandangan bahwa setiap embun, daun, dan batu adalah kitab yang dapat dibaca untuk mengenal makna hidup.
Namun perahu kecil itu tidak bisa berlayar sendiri. Angin harus ditiupkan oleh dinas kebudayaan dan dinas pariwisata, lembaga yang semestinya menjadi penjaga api lilin di tengah gelap. Agusli Taher, musisi dan pencipta lagu Minang yang namanya sudah melegenda sejak era 80-an, bersuara lirih namun tegas: “Nilai falsafah dalam lirik lagu Minang kini semakin pudar. Kita tidak lagi mendengar halusnya syair, yang dulu bagaikan embun jatuh di permukaan daun.” Ucapannya adalah alarm; sebuah lonceng kecil yang berdentang di lembah, berharap didengar oleh mereka yang masih peduli.
Syair yang Menjadi Sungai
Agusli Taher bukan sekadar pencipta lagu. Ia adalah penggali sumur, penebar benih, penenun halus antara melodi dan makna. Sejak tahun 2024, ia kembali dari masa vakum yang panjang—masa yang dipenuhi duka setelah ditinggal istri tercinta. Dari ruang sepi itu, ia melahirkan kembali dua puluh lagu berbasis budaya lokal. Lagu-lagu itu bukan sekadar rangkaian nada, melainkan sungai yang berusaha mengalirkan kembali air kehidupan ke ladang budaya Minang yang mulai kering.
Agusli Taher memberi kesempatan kepada wajah-wajah baru—Venissa, seorang gadis muda lulusan SMK di Sijunjung; Sri Fayola dengan suara yang jernih bagaikan pagi; Arinda dengan lirih yang melukai. Mereka bukan sekadar penyanyi, mereka adalah penerus yang diharapkan mampu menyiramkan lagi rasa pada telinga generasi. Lagu-lagu seperti Isak di Pantai Mandeh, Dalam Diam Menyayangimu, hingga Cinto Acok Manyakiti hadir sebagai jembatan antara masa lalu dan masa kini.
Agusli Taher tahu, melodi tidak boleh berhenti di nostalgia. Maka ia menyusun notasi dengan gaya baru, namun tak melupakan akar. Ia menggali dari Indang di Padang Pariaman, Salinok di Padang, Rabab di pesisir, Saluang di darek. Semua tradisi itu ia peras menjadi sari, lalu dituangkan ke dalam gelas musik modern agar bisa diteguk siapa saja—tua atau muda, di ranah atau di rantau.
Lagu Sebagai Penjaga Memori
Lagu Minang, kata Agusli, bukan sekadar hiburan. Ia adalah wadah ingatan. Dalam syairnya terkandung cinta, luka, nasihat, bahkan sejarah. Ia ibarat kain songket yang tak lapuk dek hujan, tak lekang dek panas. Lagu menjaga memori kita, membantu otak dan jiwa agar tidak lupa siapa dirinya.
Bayangkan, sebuah lagu Minang dengan saluang yang mendayu, lalu liriknya menyampaikan kisah seorang perantau yang rindu kampung halaman. Bagi pendengar di rantau, itu bukan sekadar musik; itu adalah pintu pulang. Ia mampu mengguncang hati, membuat air mata jatuh tanpa disadari. Begitulah kekuatan syair: ia menyusup ke dalam ruang paling sunyi dalam diri kita, membangunkan rasa yang lama tertidur.
Jejak Panjang Seorang Pencipta
Agusli Taher adalah salah satu sedikit tokoh yang berdiri di perbatasan dua dunia: dunia teknorat—sebagai ahli pertanian—dan dunia seni sebagai pencipta lagu. Sejak remaja ia sudah menautkan hatinya pada gitar dan orkes gamad, hingga akhirnya mencipta ratusan lagu yang melahirkan legenda. Tiar Ramon pernah membawakan Diseso Bayang yang meledak di pasaran. Zalmon bersama Agusli melahirkan Tembang Nan Tido Manahan Hati yang mengantarkannya ke panggung penghargaan nasional. Lagu “Kasiak Tujuah Muaro” menjadi fenomena, dan sederet artis nasional pun turut menyanyikan ciptaannya.
Namun, betapa pun tinggi namanya melambung, ia tetap kembali ke akar. Ia sadar, apa arti sebuah popularitas bila syair kehilangan jiwa? Apa gunanya suara merdu bila falsafahnya kosong? Maka ia kembali mengingatkan kita semua: budaya harus digali terus, syair harus tetap bernyawa.
Pentingnya Lomba Cipta Lagu Minang
Di sinilah lomba cipta lagu Minang menemukan makna terdalamnya. Ia adalah ritual kolektif untuk menjaga nyala lilin dari padam. Ia memberi ruang kepada generasi muda agar tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga pencipta. Ia melatih mereka agar tidak takut menulis syair dengan bahasa ibu, agar berani menenun metafora dengan kearifan lokal.
Dengan adanya lomba, lagu-lagu Minang tidak akan hanya hidup di rak-rak kaset lama atau kanal nostalgia YouTube. Ia akan tumbuh seperti padi di sawah: selalu diperbaharui, selalu bergenerasi. Dinas kebudayaan dan dinas pariwisata diharapkan menjadi lumbung padi itu, tempat benih syair ditabur, tempat generasi baru belajar membaca tanda-tanda alam, lalu menerjemahkannya ke dalam lagu.
Menyulam Masa Depan dengan Syair
Agusli Taher berkata, ia mengagumi syair Ebiet G. Ade yang puitis tanpa melupakan akar budaya. Itu pula yang ia upayakan: mencipta lagu Minang yang modern namun tetap berakar. Ia percaya, selama syair masih bernyanyi, Minangkabau tidak akan kehilangan dirinya.
Maka, pentingnya lomba cipta lagu Minang bukan hanya demi sebuah industri musik, melainkan demi menjaga jiwa sebuah bangsa kecil di tengah dunia besar. Lagu-lagu itu adalah harta karun tak ternilai, pusaka yang tidak disimpan di peti emas, melainkan di dada manusia.
Selama syair masih terlantun di mulut anak muda, selama nada masih dimainkan di saluang dan rabab, selama itu pula Minangkabau akan tetap berdiri tegak—tak lapuak dek hujan, tak lakang dek paneh.
