Menunggu Koran Gratis

by -

Oleh: Dr Emeraldy Chatra

Tak sedikit suara-suara yang mengatakan era pers sebagai media massa akan segera berlalu. Kehidupan pers makin sulit sejak masyarakat mendapat layanan gratis dari media-media sosial. Kekuatiran itu bukan pepesan kosong. Beberapa surat kabar dan majalah yang tergolong besar di tahun 1990an sekarang sudah gulung tikar.

Perubahan yang terjadi akibat teknologi internet tidak bersifat evolusioner, tapi revolusioner. Internet memicu terjadinya disrupsi, kegoncangan hebat di berbagai sektor kehidupan; industri, perdagangan, transportasi, pendidikan, rumah tangga, militer dan tentu tidak lupa industri pers. Kegoncangan itu meluas dalam waktu singkat.

Dampak yang paling dirasakan adalah kebangkrutan. Pusat-pusat perdagangan makin lama makin sepi karena orang beralih ke belanja daring. Taksi-taksi dan angkutan kota berangsur bangkrut karena serbuan transportasi daring. Rumah tangga berantakan karena media sosial memicu ketidakharmonisan pasangan suami istri. Kejahatan pun meningkat antara lain diinspirasi oleh konten media sosial.

Semua media konvensional kini dihantui kebangkrutan. Sebagian surat kabar lokal masih sanggup bertahan karena adanya captive market , yaitu instansi pemerintah yang terus berlangganan. Mereka masih bernapas karena pemerintah pusat masih mengizinkan dana pemerintah daerah digunakan untuk belanja koran dalam rangka media relations.

Tapi kepahitan yang dibayangkan itu akan segera wujud bila nanti pemerintah pusat melarang pula pemerintah daerah belanja koran. Maklum, sekarang pemerintah sedang senang melakukan pemotongan anggaran. Dapat dipastikan setelah itu surat kabar lokal pun berguguran seperti daun-daun kering.

Perubahan akibat internet memang sangat mematikan. Surat kabar hanya punya dua pilihan: mati karena kehilangan pembaca, atau bertahan bahkan bisa berjaya karena cerdas memanfaatkan situasi.

Berjaya ketika surat kabar lain bergelimpangan bukan fiksi belaka. Di Inggris sekarang justru yang berjaya adalah surat-surat kabar yang dimiliki perusahaan penerbitan nomor dua terbesar di negara itu, yaitu Newsquest Media Group Ltd (NMG). Perusahaan ini baru berdiri tahun 1995. Wikipedia.com menyebutkan NMG mempunyai 165 surat kabar dan 40 majalah, situs-situs webnya dikunjungi 28 juta orang per bulan dan media cetaknya dibaca 6,5 juta orang per minggu.

Apa yang mereka lakukan dalam menyikapi turbulensi sekarang ini? Pertama dengan melakukan konvergensi media secara serius. Media daring tidak dianggap sebagai musuh yang ditakuti. Mereka justru dengan agresif masuk ke media daring dan menjadi bagian dari perkembangan media tersebut.

Langkah kedua mengikuti tren prilaku konsumen yang dimanjakan oleh media daring, yaitu tren gratis-gratisan. Bukan hanya media daring yang boleh gratis, tapi juga media cetak. NMG pun melangkah ke free daily newspaper : ia mencetak koran tiap hari hanya untuk dibagi-bagi secara gratis ke masyarakat. Di seputar kota London NMG membagikan koran Bromley News Shopper, Croydon Guardian, Enfield Independent, Kingston Guardian, Sutton Guardian , dan lain-lain.

Bukan hanya NMG yang membuat koran gratis di London. Koran Metro yang baru didirikan tahun 1999, satu grup dengan koran besar Inggris Daily Mail , juga menjangkau pembaca tanpa menagih bayaran. Dari data tahun 2008, oplahnya mencengangkan, yaitu sekitar 1,35 juta per hari (Leurdijk, Slot, Nieuwenhuis, 2012: 45).

Dalam laporan Leurdijk, Slot, Nieuwenhuis (2012) yang berjudul Statistical, Ecosystems and Competitiveness Analysis of the Media and Content Industries: The Newspaper Publishing Industry disebutkan bahwa tahun 2008 oplah koran gratis di Eropa mendekati 30 juta per hari atau dua kali lipat dibandingkan tahun 2004. Sebanyak 23% surat kabar harian di Eropa adalah koran gratis di tahun tersebut.

Dengan menggratiskan koran ternyata oplah melambung. Iklan juga meningkat mengikuti sirkulasi. Akhirnya surat kabar benar-benar hidup dari iklan.

Apakah surat kabar di Sumatra Barat berani menempuh langkah seperti itu? Sebuah tantangan berat. Apalagi kesadaran beriklan masyarakat masih rendah sekali. Perusahaan media tidak pula pernah melakukan gerakan literasi iklan ke tengah masyarakat.

***

Saking add-mindednya orang di Eropa dan AS, tiap-tiap distrik punya koran sendiri. Seperti di negeri awak, tiap kecamatan punya koran. Koran itu ada yang sudah tua sekali, sudah ada sejak abad ke 19, seperti Westmorland Gazette di Lake District yang sudah jadi corong warga kecamatan itu sejak 1818.

Bagaimana caranya distrik yang penduduknya hanya 41.000 itu bisa punya koran sendiri? Kecamatan Padang Utara yang penduduknya 69.000 atau Padang Timur dengan populasi 79.000 lebih sampai sekarang tidak punya koran sendiri.

Apa sebab? Tidak banyak penduduk yang mau beriklan. Mereka tidak mengerti untuk apa beriklan. Padahal begitu banyak unit-unit usaha kecil dan menengah di daerah itu.

Ini tanggung jawab siapa? Harusnya media yang memikirkan karena iklan itu darah mereka. Karena tidak ada media yang mau membangun kesadaran beriklan, tidak heran kalau kemudian media di Sumbar ini kekurangan darah dan akhirnya mati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.