Minyak Brent Merosot ke US$93 Jelang Sanksi Iran, Risiko Harga Menembus US$100 Masih Mengintai

by

Jakarta, Semangatnews.com – Harga minyak mentah global kembali melemah pada awal perdagangan pekan ini. Minyak Brent turun menuju level US$93 per barel ketika investor bersiap menyambut pengumuman Amerika Serikat terkait sanksi baru terhadap Iran.

Brent crude futures tercatat turun sekitar US$1,22 atau 1,29 persen menjadi US$93,17 per barel. Sementara minyak WTI Amerika Serikat melemah sekitar US$1,20 atau 1,38 persen ke US$85,86 per barel.

Koreksi harga terjadi setelah pasar minyak mengalami reli selama dua pekan sebelumnya. Brent dan WTI telah menguat lebih dari 5 persen pada pekan lalu seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi akibat konflik dan ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Aksi ambil untung menjadi salah satu faktor yang mendorong pelemahan pada awal perdagangan. Investor yang sebelumnya memperoleh keuntungan dari kenaikan harga memilih mengurangi posisi sembari menunggu kejelasan mengenai langkah Washington terhadap Teheran.

Faktor geopolitik tetap menjadi perhatian utama. Amerika Serikat bersiap mengumumkan sanksi baru terhadap Iran yang diperkirakan dapat menekan lebih jauh aktivitas perdagangan dan ekspor minyak negara tersebut.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent dijadwalkan memberikan keterangan mengenai sanksi tersebut. Washington sebelumnya mengisyaratkan bahwa langkah baru itu akan memberikan tekanan ekonomi yang sangat besar kepada Iran.

Jika sanksi baru membatasi ekspor minyak Iran lebih jauh, pasar dapat menghadapi risiko berkurangnya pasokan. Kondisi itu menjadi perhatian karena gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz juga masih menjadi salah satu faktor yang membayangi pasar energi dunia.

Selat Hormuz memiliki posisi strategis dalam perdagangan energi global. Gangguan yang berkepanjangan terhadap lalu lintas kapal di kawasan tersebut dapat meningkatkan kekhawatiran mengenai ketersediaan minyak dan mendorong pelaku pasar memasukkan premi risiko geopolitik ke dalam harga.

China turut menjadi sorotan karena menjadi pembeli utama minyak Iran. Data terbaru menunjukkan pengiriman minyak Iran ke China mengalami penurunan pada Agustus dibandingkan Juli, di tengah meningkatnya tekanan dan gangguan terhadap aktivitas ekspor Teheran.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa efek sanksi Amerika Serikat tidak hanya berpotensi dirasakan oleh Iran. Perusahaan dan negara yang masih memiliki hubungan perdagangan dengan Teheran juga dapat menghadapi risiko ekonomi apabila Washington memperluas penerapan sanksi.

Di tengah ketidakpastian tersebut, sejumlah analis melihat potensi harga minyak kembali meningkat apabila gangguan pasokan terus berlanjut. Reuters melaporkan Morgan Stanley memperkirakan Brent berpeluang mencapai US$100 per barel pada kuartal IV apabila kondisi pasar semakin ketat.

Dengan demikian, pelemahan harga minyak ke sekitar US$93 per barel belum menunjukkan bahwa risiko kenaikan telah berakhir. Pasar kini menunggu keputusan Washington, respons Iran, serta perkembangan arus kapal di Selat Hormuz untuk menentukan arah harga minyak selanjutnya.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.