Jakarta, Semangatnews.com – Ancaman Amerika Serikat untuk memperketat sanksi terhadap Iran dan negara-negara yang menjadi mitra dagang Teheran mendapat respons keras dari China. Beijing memperingatkan bahwa kebijakan tekanan dan sanksi tidak akan menyelesaikan persoalan, tetapi justru berisiko meningkatkan ketegangan internasional.
Pemerintah China menyampaikan sikap tersebut saat Washington bersiap mengumumkan langkah ekonomi baru terhadap Iran. Kebijakan Amerika Serikat diperkirakan dapat berdampak kepada perusahaan dan negara yang masih menjalankan transaksi dengan Teheran.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian mengatakan negaranya akan mencermati perkembangan kebijakan Amerika Serikat. Beijing juga menegaskan kesiapan mengambil tindakan yang diperlukan untuk menjaga hak dan kepentingan sah China.
Menurut Lin, penggunaan sanksi sebagai instrumen untuk memberikan tekanan hanya akan memperbesar risiko eskalasi. Karena itu, China meminta seluruh pihak menghindari tindakan yang dapat memperburuk situasi dan mengganggu stabilitas ekonomi dunia.
Beijing juga menyerukan agar konflik yang melibatkan Iran diselesaikan melalui dialog dan negosiasi. China menilai jalur politik tetap menjadi pilihan yang diperlukan untuk mencegah ketegangan berkembang menjadi persoalan yang semakin sulit dikendalikan.
Ancaman sanksi AS menjadi sensitif bagi China karena hubungan perdagangan kedua negara dengan Iran cukup besar. Salah satu sektor yang menjadi perhatian adalah minyak, dengan China selama ini menjadi pembeli utama minyak mentah Iran.
Tekanan Washington terhadap aktivitas perdagangan tersebut bukan hal baru. Amerika Serikat sebelumnya telah menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah perusahaan dan jaringan yang dituduh terlibat dalam perdagangan minyak Iran, termasuk entitas yang berbasis di China.
Kini, pemerintahan Trump kembali mengancam langkah yang lebih luas. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan Washington akan melancarkan tekanan ekonomi besar terhadap Iran dan meminta negara-negara lain bekerja sama dalam upaya tersebut.
Situasi tersebut membuat posisi China menjadi penting. Jika Beijing tetap mempertahankan aktivitas perdagangan dengan Iran, perusahaan atau lembaga China berpotensi menghadapi risiko sanksi sekunder dari Amerika Serikat.
Di sisi lain, China memiliki kepentingan ekonomi sendiri yang harus dipertimbangkan. Pembelian minyak Iran memberikan salah satu sumber pasokan energi bagi perusahaan China, sementara tekanan terhadap perdagangan tersebut dapat memberikan konsekuensi terhadap pasar energi dan hubungan ekonomi internasional.
Ketegangan juga terjadi ketika pasar global tengah mencermati dampak konflik Iran terhadap pasokan energi. Harga minyak dan pasar keuangan bergerak di tengah ketidakpastian mengenai bentuk serta cakupan sanksi baru yang akan diumumkan Washington.
Dengan sikap terbaru Beijing, perselisihan terkait Iran berpotensi menambah tantangan dalam hubungan Amerika Serikat dan China. China tampaknya memilih mempertahankan kepentingannya sembari menyerukan deeskalasi, sementara Washington terus meningkatkan tekanan ekonomi untuk memaksa Teheran memenuhi tuntutannya.(*)

