Jakarta, Semangatnews.com – Warga Bandung Raya dikejutkan suara dentuman yang terdengar berulang pada Jumat malam hingga Sabtu dini hari. Suara tersebut bahkan dilaporkan disertai getaran yang membuat sebagian warga bertanya-tanya mengenai sumbernya.
Fenomena itu terjadi pada waktu yang berdekatan dengan erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Kondisi tersebut kemudian memunculkan dugaan bahwa dentuman yang dirasakan warga Bandung memiliki hubungan dengan aktivitas vulkanik gunung api tersebut.
Badan Geologi menyampaikan bahwa dentuman dan getaran yang dilaporkan masyarakat di Jawa Barat, Banten, serta Lampung diduga berkaitan dengan erupsi Anak Krakatau. Namun, lembaga tersebut menggunakan istilah dugaan karena pencocokan berbagai data masih diperlukan untuk memastikan hubungan tersebut.
Salah satu pertanyaan terbesar adalah mengenai jarak antara Bandung dan Anak Krakatau. Secara garis lurus, kedua wilayah tersebut berjarak sekitar 700 kilometer. Meski sangat jauh, gelombang tekanan berfrekuensi rendah dari sebuah aktivitas vulkanik secara teori dapat merambat melalui atmosfer dalam jarak yang sangat panjang.
Lana Saria menjelaskan bahwa salah satu sumber energi suara tersebut dapat berasal dari pelepasan gas secara cepat saat terjadi aktivitas erupsi. Tekanan yang dilepaskan dalam waktu singkat dapat menghasilkan gelombang suara atau tekanan udara dengan energi cukup besar.
Sumber lainnya adalah gesekan dan turbulensi aliran lava berkecepatan tinggi di dalam saluran kepundan. Ketika material vulkanik bergerak dengan energi besar, proses tersebut dapat menghasilkan suara gemuruh yang kemudian merambat keluar dari kawasan gunung api.
Perjalanan gelombang suara di atmosfer juga tidak selalu bergerak lurus. Lapisan udara dengan temperatur dan tekanan yang berbeda dapat memengaruhi kecepatan suara. Ditambah perubahan angin pada ketinggian tertentu, jalur rambatan suara dapat mengalami pembelokan atau pembiasan.
Akibat kondisi tersebut, suara dari sumber yang sangat jauh masih dapat mencapai wilayah tertentu. Bahkan, daerah yang lebih dekat dengan sumber belum tentu mendengar suara dengan intensitas yang sama karena jalur rambatan gelombang sangat dipengaruhi kondisi atmosfer pada saat kejadian.
Erupsi Anak Krakatau yang berlangsung pada Jumat malam tercatat terus terjadi hingga Sabtu dini hari. Badan Geologi mengamati semburan merah menyala yang berlangsung menerus dan menyerupai fenomena lava fountain. Aktivitas itu juga menghasilkan suara gemuruh yang terdengar dari Pos Pengamatan Gunung Api Krakatau Pasauran.
Di sisi lain, BMKG Bandung menyampaikan analisis berbeda terkait kemungkinan suara erupsi mencapai Bandung. BMKG menilai kondisi angin pada lapisan tertentu dapat membuat rambatan suara dari Selat Sunda menuju Cekungan Bandung menjadi tidak sesuai dengan pola yang diharapkan. Karena itu, penyebab dentuman di Bandung masih menjadi bagian dari kajian lebih lanjut.
Terlepas dari perbedaan analisis tersebut, masyarakat diimbau tidak panik dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini berada pada Level III atau Siaga, sehingga kewaspadaan tetap diperlukan, terutama bagi masyarakat yang berada di sekitar kawasan gunung api.(*)

