SAWAHLUNTO, SEMANGATNEWS.COM — Berangkat dari Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, Mojao.Art berhasil membawa Songket Silungkang menembus panggung fesyen nasional melalui ajang bergengsi IN2MOTIONFEST x Jakarta Muslim Fashion Week (JMFW) 2026.
Lewat koleksi Bara Niskala, jenama lokal yang didirikan Arindha Sukma pada 2022 ini membuktikan bahwa warisan wastra daerah memiliki peluang besar untuk bersaing dalam industri modest fashion modern.
Penampilan Mojao.Art dalam festival yang berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta, menjadi pencapaian penting bagi perjalanan jenama asal Sawahlunto tersebut. Tidak sekadar memperagakan busana, Mojao.Art hadir membawa identitas budaya daerah sekaligus memperkenalkan potensi Songket Silungkang kepada khalayak yang lebih luas.
Keikutsertaan ini juga menjadi kesempatan strategis bagi Mojao.Art untuk menunjukkan bahwa produk fesyen berbasis kearifan lokal mampu mengambil tempat dalam ekosistem industri fesyen nasional. Terlebih, partisipasi tersebut mewakili Kantor Perwakilan Wilayah Bank Indonesia Sumatera Barat, sebuah dukungan yang membuka ruang bagi produk daerah untuk tampil di platform fesyen berskala nasional.
Prestasi ini mendapat apresiasi dari Wali Kota Sawahlunto, Riyanda Putra, yang hadir menyaksikan penampilan Mojao.Art di JICC pada Minggu, 18 Oktober 2026.
“Saya bangga dengan Mojao.Art sebagai brand lokal Sawahlunto yang telah mampu bersaing dan membuktikan diri tampil di acara yang luar biasa, IN2MOTIONFEST x JMFW 2026, sekaligus dapat mempromosikan Kota Sawahlunto dan Songket Silungkang di kancah nasional. Saya berharap Mojao.Art tidak hanya berkiprah di kancah nasional, tetapi juga di kancah internasional,” ujar Riyanda.
Apresiasi tersebut menegaskan arti penting pencapaian Mojao.Art. Bagi Sawahlunto, kehadiran jenama lokal di panggung fesyen nasional bukan hanya kebanggaan bagi pelaku usaha, melainkan juga kesempatan untuk memperkenalkan identitas budaya daerah melalui karya kreatif yang memiliki nilai ekonomi.
Di balik pencapaian Mojao.Art, ada Arindha Sukma, pendiri sekaligus pemilik jenama yang sejak 2022 mengembangkan Songket Silungkang sebagai fondasi utama penciptaan busana etnik kontemporer.
Arindha Sukma melihat songket bukan sekadar kain tradisional untuk memperindah penampilan. Lebih dari itu, Songket Silungkang merupakan warisan budaya yang menyimpan identitas masyarakat dan memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk fesyen yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Melalui Mojao.Art, ia berupaya mempertemukan kekayaan motif dan karakter wastra tradisional dengan pendekatan desain modern. Tujuannya bukan hanya mempertahankan keberadaan songket, tetapi juga memperluas penggunaannya agar dapat diterima oleh konsumen dari berbagai kalangan.
Upaya tersebut menjadi semakin berarti ketika wastra tradisional menghadapi tantangan perubahan selera dan berkurangnya ketertarikan sebagian generasi muda terhadap kain daerah. Bagi Arindha, salah satu jalan untuk menjaga keberlanjutan warisan itu adalah menghadirkannya kembali dalam bentuk produk yang menarik, fungsional, dan sesuai dengan perkembangan fesyen.
Koleksi Bara Niskala menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Melalui koleksi ini, Mojao.Art membawa identitas Songket Silungkang ke panggung nasional sekaligus memperlihatkan upaya pelaku usaha daerah dalam mengembangkan kekayaan budaya menjadi karya fesyen kontemporer.
Arindha Sukma mengungkapkan rasa syukur atas kesempatan yang diperoleh Mojao.Art, sekaligus menyampaikan apresiasi kepada pihak-pihak yang mendukung kiprahnya.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kota Sawahlunto, Ikatan Keluarga Minang, dan Ikatan Keluarga Kubang Sedunia di Jakarta yang sudah mendukung dengan ikut hadir menyaksikan fashion show produk Mojao.Art. Saya bangga sebagai bagian anak Sawahlunto yang ikut memajukan wastra Songket Silungkang yang hampir ditinggalkan oleh generasi muda. Bangga semua pihak mendukung hingga Mojao.Art tampil di acara bergengsi hari ini,” ujar Arindha Sukma.
Dukungan pemerintah daerah dan komunitas perantau menjadi bagian dari perjalanan Mojao.Art dalam memperkenalkan produk lokal ke tingkat nasional. Kehadiran mereka turut menunjukkan bahwa upaya mengangkat wastra daerah membutuhkan kolaborasi antara pelaku usaha, pemerintah, dan masyarakat.
Menurut informasi Kementerian Perdagangan, penyelenggaraan tahun 2026 melibatkan sekitar 250 desainer Indonesia dan 10 desainer mancanegara. Skala partisipasi tersebut mencerminkan luasnya ruang yang tersedia bagi pelaku industri untuk memperkenalkan karya, bertukar gagasan, dan membangun hubungan bisnis.
Di tengah persaingan tersebut, kehadiran Mojao.Art menjadi bukti bahwa jenama dari daerah dapat mengambil bagian dalam perkembangan industri fesyen nasional dengan mengandalkan kekuatan identitas budaya.
Prestasi di IN2MOTIONFEST x JMFW 2026 bukan sekadar momentum tampil di hadapan publik nasional, melainkan peluang untuk memperkuat posisi Mojao.Art sebagai jenama fesyen berbasis budaya daerah.
Kiprah Mojao.Art juga mendapat dukungan dari Badan Koordinasi Ikatan Keluarga Sawahlunto Jakarta (BAKOR IKSJ). Ketua BAKOR IKSJ, Jasyanto Sahoer, mengapresiasi kesempatan yang diraih Mojao.Art untuk memperkenalkan Songket Silungkang dalam festival fesyen bergengsi tersebut.
“Mojao.Art sudah dapat tampil di festival fesyen bergengsi ini untuk dapat terus berkarya dan memajukan Songket Silungkang menjadi wastra yang digemari oleh seluruh lapisan masyarakat,” ujar Jasyanto di JICC, Senayan, Jakarta.
Dukungan itu memperlihatkan bahwa pencapaian Mojao.Art memiliki arti lebih luas daripada keberhasilan sebuah jenama menampilkan koleksi. Ada nama Sawahlunto yang ikut diperkenalkan, ada Songket Silungkang yang memperoleh ruang promosi, dan ada peluang untuk menumbuhkan kebanggaan generasi muda terhadap warisan budaya daerahnya sendiri.
Bagi Mojao.Art, perjalanan dari Sawahlunto menuju panggung fesyen nasional merupakan langkah penting untuk membangun pengakuan dan memperluas kesempatan berkembang. Akan tetapi, nilai terbesar dari pencapaian ini terletak pada kemampuan menjadikan warisan budaya sebagai sumber kreativitas sekaligus potensi ekonomi.
Melalui Bara Niskala, Mojao.Art telah membawa Songket Silungkang ke ruang yang lebih besar. Prestasi ini menjadi penanda bahwa jenama lokal Sawahlunto mampu mengambil bagian dalam geliat modest fashion nasional tanpa meninggalkan akar budayanya.
Dari Sawahlunto, Arindha Sukma merajut langkah untuk membuktikan bahwa wastra tradisional tidak harus berhenti sebagai peninggalan masa lalu. Di tangan kreatif yang berani berinovasi, Songket Silungkang dapat terus hidup, berkembang, dan menemukan tempatnya di tengah perubahan zaman. (Nova)

