Oleh : Muharyadi
PADANG, SEMANGATNEWS.COM – Kita mengapresiasi Agenda HUT Kota Padang ke-357 yang tanggal (10/08/26) merupakan momen penutup yang merangkum keseluruhan ekspresi kreatif dan ekonomi warga Padang meliputi Padang Fashion Summit (Day 2) berlanjut merajut komitmen membawa wastra Sumatera Barat seperti tenun dan songket menembus pasar ritel dan desainer global.
Kesempatan terakhir bagi para pemburu kuliner dalam penutupan Padang Gastronomy Market (Day 4) dan rangkaian bakti sosial Donor Darah (Day 3) di Batang Arau dan ditutup melalui kemegahan paripurna Padang Harmoni Festival di Panggung Utama Batang Arau terakhir pada malam perpisahan.

Tapi sesuatu hal sesungguhnya yang terlupakan dalam rangkaian HUT kota Padang ke 357, tanpa mengecilkan arti kegiatan yang telah diagendakan Pemko Padang dengan memanfaatkan gedung Balai Kota Lama Padang selama kegiatan berlangsung untuk mengunjungi museum seni dan galeri arsip statis mengingat bangunan berarsitektur kolonial peninggalan Hindia Belanda di Jalan Mohammad Yamin No 70 Padang tak kalah menarik sebagai bagian perjalanan kota Padang yang dapat dimanfaatkan dalam beberapa gelaran HUT ke 357 berupa pameran seni rupa dan jenis kesenian lainnya, merupakan sesuatu menarik bukan hanya bagi warga kota Padang, tapi juga warga masyarakat secara umum di tanah air bahkan hingga ke manca negara?
Pemanfaatan gedung balai kota lama dengan arsitekturnya langgam Art Deco, ditandai bentuk ventilasinya dan jendela serta dinding dihiasi ornamen di sudut bangunan berbentuk siku-siku dan menara segi empat yang di ketiga sisinya ada jam dinding merupakan bangunan memiliki sejarah panjang perjalanan kota Padang yang tak dapat diabaikan begitu saja. Mengingat Gedung Balai Kota Lama Padang ini bukah hanya dapat dijadikan destinasi wisata Indonesia bahkan dunia, memiliki nilai historis tinggi sebagai cerminan sejarah, peradaban dan budaya kota Padang.
Lebih tiga dekade silam pernah ada wacana mewujudkan museum refresentatif di Sumatera Barat yang lokasinya diusulkan berada di Kota Padang. Wacana tersebut redup di tengah-tengah hingar bingarnya pembangunan sektor lainnya. Pikiran kita pun sering mendua ; disuatu sisi kehadiran seni sangat dibutuhkan sebagai bagian budaya yang ada. Disisi lain kehidupan para senimannya dibiarkan redup tanpa ada solusi terbaik untuk mengatasinya?
Dalam catatan sejarah, Sumatera Barat umumnya dan kota Padang khususnya menjadi salah satu wilayah terpenting di Indonesia yang banyak melahirkan pahlawan nasional, alim ulama, para pemikir, sastrawan, budayawan bahkan para seniman seni. Baik sebelum kemerdekaan, pasca kemerdekaan bahkan hingga kini. Betapa besarnya kontribusi Sumatera Barat dalam republik ini.
Diantaranya terdapat nama Muhammad Hatta wakil Presiden RI pertama namanya tidak bisa dipisahkan dari Presiden RI Soekarno sebagai proklamator kemerdekaan RI dan simbol negara. Juga ada Tuanku Imam Bonjol, Agus Salim, Muhammad Natsir, Sutan Syahrir, M. Yamin, Bagindo Aziz Chan, Tan Malaka, Buya Hamka, H.R. Rasuna Said, Adinegoro dan lainnya.
Sikap, perjuangan dan potensinya semata-mata untuk bangsa dan negara. Selain mengharumkan Indonesia, para tokoh ini juga menjadi pemimpin di medan perang, pemikir di kancah diplomasi dan kreator pemerintahan yang lebih mendahulukan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi atau kelompok. Sumatera Barat pun pernah menjadi pusat ilmu pengetahuan, peradaban dan juga pembaharuan dengan menjamurnya sekolah dan pesantren. Para ulama pembaharu dan sejumlah tokoh pun dilahirkan dari ranah Minang ini. Ketokohannya diakui di pentas naional dan dunia.
Dikaitkan tokoh-tokoh seni termasuk seni rupa diantara kesenian yang berkembang, sejarah turut membuktikan, tradisi berseni rupa telah berlangsung lama dan berkelanjutan, baik di daerah sendiri maupun di perantauan. Hal ini awalnya ditandai kehadiran Wakidi sejalan munculnya pendidikan bercorak Barat di Bukittinggi, yaitu Sekolah Raja (1856) dalam bahasa Belanda disebut Hollands-di Inlandsche School (HIS). Kemudian berubah nama menjadi Kweekschool (1873). Wakidi masuk ke Kweekshool tahun 1903 selama 7 tahun sampai menjadi guru tahun 1908.
Sejak kecil Wakidi senang melukis. Kemudian terus berkembang di Kweekschool Bukit Tinggi tahun 1903. Di sekolah ini pulalah Wakidi mulai serius belajar menggambar memakai media pensil dan cat air dengan bimbingan guru terutama melukiskan tema-tema pemandangan alam, seperti : ngarai, sawah, gunung, dan sungai. Wakidi lulus tahun 1908 .
Kemampuan luar biasa Wakidi, setamat Kweekschool Bukittinggi, ia memperoleh tawaran menjadi guru menggambar untuk membina dan mengasuh anak-anak pribumi. Diantara murid Wakidi tercatat, Bung Hatta dan Abdul Harris Nasution.
Bukan hanya di Kweekschool, beberapa tahun kemudian Wakidi juga ditawari menjadi guru di Indonesian National School (INS) Kayu Tanam, yang didirikan Engku M. Syafei (1926). Di INS ia disukai puluhan bahkan ratusan murid-muridnya. Sejak kemerdekaan tahun 1949 beliaupun mengajar di beberapa sekolah menengah di Bukit Tinggi (SMA I, II dan III).
Ada nama Baharuddin MS, Oesman Effendi, Huriah Adam, Syamsul Bahar, Mara Karma, Hasan Basri DT. Tumbijo, Montingo Busye, Zaini, Nashar, Ipe Mak’ruf, Itji Tarmizi, Alimin Tamin, Nuzurlis Koto, Osmania, Arby Samah, Mukhtar Apin, A.A. Navis, Wisran Hadi, Muslim Saleh, Mukhtar Jaos hingga ke tokoh-tokoh muda saat ini.
Kemudian muncul pula perhimpunan Seniman Muda Indonesia (SEMI) di Bukittinggi tahun 1950 dengan dua tokoh pendirinya, A. A. Navis dan Montingo Busye. Wakidi mengasuh pelukis-pelukis muda mengikuti jejaknya dalam merekam keindahan alam Minangkabau.
Kota Padang sebagai ibu propinsi Sumatera Barat didirikan 7 Agustus 1669 sebagai salah satu kota tertua di tanah air memiliki catatan panjang sebagai kota pusat sejarah, budaya, perdagangan dan pendidikan untuk terus maju secara berkelanjutan diimbangi pengembangan sektor pariwisata, industri kreatif, teknologi informasi digital di tengah tengah pertumbuhan penduduk yang terus mengalir dengan cepat.
Ini pulalah yang menjadi komitmen Pemko Padang terhadap pembangunan dan pengembangan budaya berupa museum seni dan arsip statis masa ke masa yang kaya nilai-nilai yang selama ini tapi luput dari perhatian. Sesungguhnya hal ini sebenarnya dapat menjadi terobosan baru bidang seni dan budaya dan sejarah berbasis budaya lokal dari banyak program melalui pembangunan “museum seni dan arsip statis” di kota Padang jika dikelola secara sungguh sungguh.
Kota Padang sejak era kemerdekaan dalam catatan sejarah pernah di pimpin 15 (lima belas) wali kota dimulai Abu Bakar Jafar (1945-1946), Bagindo Aziz Chan (1946-1947) Said Rasad (30 April, 1947), A Hakim (1947-1949), Rasidin (1949-1956), B. Datuk Pado Panghulu (1956-1958), Z. A. Sutan Pangeran (1958-1966), Azhari (1966-1967), Akhiroel Yahya (1967-1971), Hasan Basri Durin (1971-1983), Syahrul Udjud ( 1983-1993), Zuiyen Rais (1993-2003), Fauzi Bahar (2004-2014), Mahyeldi Ansharullah (2014-2021) dan Hendri Septa (2021-2024).
Sebagai kota terbesar di pantai barat Sumatera kota Padang dan salah satu Kota tertua di Indonesia, kehadiran museum seni dan galeri arsip statis sesuai tujuannya diharapkan menjadi sumber ; pengamanan warisan alam dan budaya, pusat dokumentasi dan penelitian ilmiah, konservasi dan preservasi, penyebaran dan pemerataan ilmu, pengenalan kesenian, visualisasi warisan alam dan budaya, cerminan pertumbuhan peradaban manusia dan pembangkit rasa bersyukur dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Museum seni dan galeri arsip statis yang ada saat ini di gedung balai kota lama merupakan salah satu tempat yang wajib dikunjungi bagi pecinta seni dan budaya di Indonesia. Terletak di jalan utama di kota Padang sesungguhnya menawarkan pengalaman yang menakjubkan dalam mengeksplorasi kekayaan seni dan budaya. Sebagai wadah penjagaan warisan budaya, museum bukan hanya tempat menyimpan artefak dan karya seni, tetapi juga merupakan gambaran perjalanan menuju pengetahuan dan pemahaman yang lebih baik tentang dunia di sekitar kita. Karena mengunjungi museum bukanlah sekadar kunjungan biasa tetapi juga merupakan pintu gerbang menuju pengalaman penuh inspirasi, kaya dengan nilai nilai sejarah hingga dapat menambah kekayaan jumlah museum di Indonesia.
Pertanyaan kita sekarang mau dikemanakan Museum Seni dan Galeri Statis Arsip Kota Padang di gedung balai kota lama yang sangat indah yang kaya nilai nilai sejarah, perjuangan dan peradaban masyarakatnya yang kini dirasakan kian redup tanpa jelas arah dan tujuannya? Seberapa serius Pemerintah kota Padang mampu bekerjasama dengan lembaga pendidikan seni, para seniman, kurator dan budayawan di daerah ini agar museum seni dan galeri arsip statis benar benar berfungsi sebagaimana mestinya?
Sesungguhnya, kerangka berfikir dan sudut pandang kita terhadap dunia seni baik moderen, tradisi maupun kontemporer bahkan arsip statis yang ada di kota Padang tetap saja berbeda dan bersilang jauh melalui hasil perjalanannya sebagai entitas yang teramat kongkrit dalam peradaban manusia. (***)
Catatan Redaksi
Muharyadi, Seniman, kurator dan Jurnalis

