Oleh : Muharyadi
YOGYAKARTA, SEMANGATNEWS.COM – Kabut duka dan awan mendung masih menyelimuti dunia seni rupa Indonesia setelah hampir dua minggu kepergian pelukis maestro Nasirun (60 th) untuk selama lamanya di RS AMC Muhammadiyah, Jalan HOS Cokroaminoto No. 178, Pakuncen, Wirobrajan, Yogyakarta, sabtu, 1 Agustus 2026, pukul 05.58 Wib masih terus menggelinding dikalangan seniman seni rupa, kurator, pengamat, kolektor, sahabat, dan orang orang terdekat yang mengenalnya.
Bahkan kediaman almarhum di Perumahan Bayeman Permai, Kasihan Bantul, Yogyakarta tak henti hentinya dibanjiri pelayat untuk menyampaikan rasa duka yang mendalam terhadap kepergian Nasirun. Ia bukan hanya dikenal sebagai sebagai maestro seni lukis Indonesia, kolektor seni, namun lebih dari itu juga merupakan sosok seniman kontemporer atas kebesarannya kekaryaannya maupun kebaikannya terhadap orang-orang yang pernah diabantunya selama ini.

Sehari setelah kepergian Nasirun, Suwarnomo Wisetrotomo (dosen ISI Yogyakarta dan Kurator), di medsos FB nya 2 Agustus 2026 merilis yang menjelaskan sehari sebelum Nasirun Wafat yakni di hari Jumat 31 Juli 2026 pukul 09.30, berkunjung ke kediaman keluarga Nasirun. Seperti biasa sembari salam saya langsung masuk. Di teras belakang, Nasirun sudah menunggu bersama Hanafi. Kemudian bergabung mbak Illah, Ima, Hanafi, dan Sidharta sambil membawakan kopi panas untuk saya,” jelas Suwarno.
Di sela sela kunjungan Suwarno Nasirun pun berujar ; “Mas, semalam saya ke Panti Rapih, karena akhir-akhir ini saya merasa sesak dada, dan perut tidak nyaman. Ternyata, kata dokter, saya kena asam lambung” kata Nasirun membuka percakapan, sambil menunjukkan lengan kanan dalam bekas jarum suntik. “Saya bilang, iya dok, situasi sekarang ini membuat saya asam lambung….kakakaka…..” sambung Nasirun terkekeh seperti biasanya. “Run, mbok santai saja, nek kesel kerjaan diselehke…” saya merespon. “Lha piye mas, wis janji sama kolektor, lukisan besar hrs selesai kakaka….”.
Percakapan beralih ke program pameran “Tonggak: Ziarah #2” yg akan kami buka 17 Agustus 2026 nanti. Mitra saya Nasirun, utk pinjam koleksi-koleksinya yang penting dan langka itu. Sebelum pamit, saya sepakat utk rekaman wawancara Nasirun dan saya, pada 7 Agustus, untuk dokumentasi yang akan diputar di ruang pamer nanti. Saya pamit pukul 11.45, diantar Nasirun sampai saya masuk kendaraan dan pergi, ujar Suwarno.
Sabtu Kliwon, 1 Agustus 2026, sekitar pukul 06.20an, dering hp dari Pupuk DP; “Mas Warno…Mas…. sudah dengar Nasirun?” Suara Pupuk gugup dan parau. “Nasirun kenapa? Aku kemarin setengah hari ngobrol dengan dia? Kenapa” sambar saya gugup juga. “Nasirun meninggal barusan….” suara Pupuk disambung tangis. Saya lunglai, terisak…..
Sementara Kuss Indarto Kusnan (kurator) mendengar khabar duka akan kepergian Nasirun yang sangat dekat dengan dr Oei Hong Djien, kolektor ternama dari Magelangpagi itu dalam postingan sangat kaget dan mendadak. “Mas Nasirun…Aku kaget. Aku sangat kehilangan. Kamu terlalu cepat pergi, kata Kuss Indarto.
Kuss Indarto mengilustrasikan ; tiap menjelang iduk fitri, Nasirun membagikan seratusan amplop berisikan uang zakat fitrah kepada teman teman seninam, Seratusan lagi untuk tukang becak dan semacamnya. Sekian banyak lagi untuk lingkungan kampul asanya di Cilacap. Selebihnya lagi dibagikan secara spontan pada orang orang yang datang memintanya di rumah.
Itu dilakukannya bertahun tahun ketika ekonominya relatif bagus, Idul fitri 2026 kemarin masih membagikan meski jumlahnya sedikit berkurang. “Lah lukisan lagi angel payu koh”, kata Nasirun ke Kuss Indarto sambil tetap terkekeh kekeh.
Dan bukan hanya itu, untuk kurban Idul Adha, Nasirun sering mengatasnamakan ke orang lain, Jadi sapi untuk mesjid X disumbangkan disumbangkan dari Bapak Z, tapi dananya dari Nasirun, ujar Kuss Indarto lagi.
Sementara salah seorang sahabat dekat Nasirun, Jumaldi Alfi (pelukis) urang awak asal Lintau Sumatera Barat yang bertetangga dengan Nasirun di Yogyakarta menyebut ; mengenang masetro ini menurut Alfi atau pernah mengenal dan bertemu Nasirun, hal paling menarik bila bersua dengannya adalah derai tawanya saat perbincangan terjadi.
Entah itu obrolan serius atau lucu, yang pasti selingan tawanya yang ikonik itu selalu muncul. Kadang bikin bingung lawan bicara. Emang apa yang lucu, kok sampai terkekeh-kekeh begitu? Tidak ada hari tanpa tawa bagi Nasirun.
Sepertinya memang begitulah cara Nasirun mengawal kehidupan, menertawainya. Jangankan bersua kegembiraan, jumpa kejadian pahit pun dihadapinya dengan ketawa.
Tapi apa betul Nasirun selalu menghadapi hari-harinya dengan ketawa terpingkal-pingkal begitu? Menurut Alfi, bukan hanya sebagai pelukis, Nasirun jua dikenal sebagai kolektor karya seni. Punya banyak koleksi lukisan, selain lukisan dia sendiri tentunya. Ratusan jumlahnya.
Untuk koleksi lukisan-lukisan tersebut Nasirun menyiapkan sebuah ruang pajang khusus. Sebuah bangunan yang terletak di seberangnya rumahnya.
“Bukan museum la ya, hanya sekedar ruang pajang, ben karya-karya kuwi ana sing nonton…”, terang Nasirun tentang museumnya tersebut kepada Alfi.
Di ruangan tersebut dipajang karya-karya para maestro, guru-gurunya, seniman-seniman yang sudah almarhum maupun karya seniman-seniman yang sudah tak tercatat atau tak diketahui lagi kebendaannya, ujar Alfi memaparkan diantara cuplikan perjalanan Nasirun.
Pada Opini/Artikel/Feature, Selasa (04/08/2026) – Artikel berjudul “Ketika Kuas Itu Terdiam: Nasirun dan Warisan Kemanusiaan yang Tak Pernah Pudar”. Menurut penulisnya, bahwa tidak semua seniman memiliki nasib yang beruntung, memiliki banyak karya, kaya raya, dan terkenal. Tidak semua seniman juga memiliki pandangan yang luas tentang kehidupan dan kehadirannya bisa diterima banyak orang. Nasirun adalah salah satunya.
Kuas Nasirun memang telah terdiam. Namun warna-warnanya belum selesai berbicara. Ia telah pergi dari hadapan kita, tetapi jejaknya akan terus tumbuh dalam kanvas-kanvas masa depan.
Selamat jalan, Maestro. Terima kasih telah mengajarkan bahwa seni bukan hanya tentang menciptakan keindahan, melainkan juga tentang menjadi manusia yang mampu menghadirkan kehangatan bagi sesama, papar penulisnya.
Dan banyak lagi pendapat dan pengalaman para seniman ketika mengenal sang maestro Nasirun semasa hidupnya yang tak terhitung jumlahnya saat Nasirun menghadap sang khalik.
Dalam catatan kita, Nasirun lahir di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah 1 Oktober 1965 itu merupakan salah seorang maestro seni lukis Indonesia, kolektor, yang terkenal terhadap penggunaan elemen kebudayaan Jawa dalam karyanya. Bukan hanya di Indonesia tetapi juga Asia Tenggara, bahkan Eropa dan Amerika Utara.
Sebagai seorang seniman, Nasirun justru lahir dari keluarga pekerja dan petani di daerah pesisir selatan Jawa. Meskipun tidak dari keluarga seniman, Nasirun tetap bertekad menjadi seorang seniman yang hebat. Ketertarikan Nasirun pada dunia seni dimulai sejak masih kecil, ia sangat suka sekali dengan wayang kulit. Uniknya Nasirun menyukai wayang kulit bukan hanya dari sisi cerita dan legendanya, tetapi juga karena bentuk, ornamen, dan warna warnanya.
Nasirun menempuh pendidikan di SMSR (Sekolah Menengah Seni Rupa) Yogyakarta dan lulus tahun 1983 Kemudian melanjutkan pendidikan di Jurusan Seni Lukis, Fakultas Seni Rupa di Institut Seni Indonesia Yogyakarta pada 1987 danmenyelesaikannya tahun 1994.
Nasirun telah beberapa kali melakukan pameran tunggal, bahkan sejak masih berstatus mahasiswa di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Pameran tunggal yang pernah digelar oleh Nasirun antara lain; Mirota Kampus Yogyakarta dan Cafe Solo, Bank Bali di Yogyakarta (1993), Ngono Yo Ngono, Mung Ojo Ngono, Galeri Nasional Indonesia di Jakarta (1999), Nadi Gallery di Jakarta (2002). Pameran tunggal terakhirnya diadakan di Sangkring Art Space, Yogyakarta dengan tema Salam Bekti tahun 2009 untuk peringatan dan mengenang 1000 hari meninggal ibundanya.
Untuk pameran kolaborasi yang pernah diikuti Nasirun antara lain ; Pameran Summit Event Bali Biennale (2005), Pameran Bersama Foto, Grafis, Lukisan People Need The Lord di Jakarta (2006), Biennale Jogja IX: Neo-Nation (2007), Un[real] Galeri Nasional Indonesia di Jakarta (2009), Common Sense Galeri Nasional Indonesia di Jakarta (2010) dan sederet penghargaan bergengsi yang pernah di raihnya.
Namun itu semua kini tinggal kenangan. Ditinggal pergi sahabat, dan orang-orang yang dicintai untuk selama lamanya memang menimbulkan kesedihan yang amat mendalam. Namun sebagai mukmin, kita wajib menerima segala ketetapan yang telah ditentukan oleh Allah SWT.
Sebagai manusia biasa, wajar saja jika kita menangis, sedih dan pilu meneteskan air mata sebagai tanda sedih dan duka yang mendalam dengan berpulangnya teman dekat, sahabat/kerabat bahkan orang yang kita cintai sebagaimana yang disampaikan teman teman perupa, penulis, korator, kolektor dan sahabat dekat almarhum Nasirun untuk dikenang dan dijadikan catatan sejarah dalam peta seni rupa Indonesia.
Assalaamu’alaikum yaa ahlal qubuur yaghfirullaahu lanaa wa lakum antum salafnaa wa nahnu bil atsar. Innalillahi Wainna Illaihi Rojiun (***)
Catatan Redaksi
Muharyadi, Seniman, penulis dan Jurnalis

