Obat Ivermectin Mampu Mengatasi Covid-19? Sembuh Dalam 48 Jam, Samakah Dengan Molnupiravir? Cek Fakta Serta Pendapat Para Ahli

by -
by
ilust-pict-ist

Berikut Fakta Serta Pendapat Para Ahli Mengenai Obat Ivermectin Yang Diklaim Mampu Mengatasi Covid-19 :

Dikutip dari alodokter.com, sejatinya Ivermectin ini merupakan obat antiparasit yang digunakan untuk mengatasi penyakit akibat infeksi cacing, seperti strongyloidiasis dan onchocerciasis.

Selain itu, obat ini juga bisa digunakan untuk mengatasi kutu rambut dan mengobati rosacea.

Sebuah penelitian terbaru yang dilaksanakan tim dari Monash University dan University of Melbourne, Australia, menyatakan bahwa obat ini berpotensi membunuh corona virus.

Obat ivermectin memiliki efek antiviral yang berhasil mengurangi angka perkembangan virus sebanyak 99,8% dalam waktu 48 jam.

Ivermectin bekerja dengan cara menghambat protein yang membawa virus corona ke dalam inti tubuh manusia.

Hal ini dapat mencegah penambahan jumlah virus dalam tubuh, sehingga infeksi pun tidak bertambah parah.

Namun, perlu diingat!

Penelitian tersebut baru dilakukan pada sel-sel yang terdapat di laboratorium.

Hal itu baru sebatas riset! karena sejauh ini, uji coba obat ivermectin terhadap COVID-19 pada tubuh manusia masih belum dilakukan.

Uji klinis ivermectin untuk menangani COVID-19 di Indonesia memang tengah dilakukan di 8 rumah sakit.

Namun, BPOM mengingatkan bahwa, belum ada hasil uji klinis yang benar-benar membuktikan bahwa ivermectin bisa mengobati COVID-19.

Oleh karena itu, obat ini tidak untuk dijual bebas.

Dalam klarifikasinya, BPOM menyatakan bahwa, “Ivermectin merupakan obat keras yang pembeliannya harus dengan resep dokter dan penggunaannya harus di bawah pengawasan dokter.”

Penggunaan obat ini hanya diizinkan satu kali dalam satu tahun dengan resep dokter.

Penggunaan ivermectin tanpa resep dan pengawasan dokter justru akan sangat berbahaya bagi kesehatan.

BPOM mengatakan Ivermectin yang digunakan tanpa indikasi medis dan tanpa resep dokter dalam jangka waktu panjang dapat mengakibatkan efek samping, antara lain nyeri otot/sendi, ruam kulit, demam, pusing, sembelit, diare, mengantuk, dan Sindrom Stevens-Johnson

Obat ini tidak boleh dipakai bergantian dengan orang lain, meskipun orang tersebut punya gejala yang sama.

Dosis obat bagi setiap orang pastinya berbeda-beda, dan pemberian dosis ditentukan berdasarkan kondisi medis dan respon pasien terhadap pengobatan.

Contohnya pada anak-anak, dosis pemakaian obat ditentukan berdasarkan berat badan.

Karena itulah, Jangan mengurangi atau menambahkan dosis obat tanpa sepengetahuan dokter.

Selain itu meminum obat yang tidak sesuai aturan dapat meningkatkan risiko efek samping.

Pada prinsipnya, Pasien hanya diperbolehkan mengkonsumsi obat ini jika telah direkomendasikan oleh dokter dan sesuai dengan dosis yang telah ditetapkan dokter.

Ikuti semua petunjuk pemakaian obat yang tertera pada label resep dan baca semua panduan pengobatan atau lembar instruksi dengan teliti.

selain itu, jangan ragu untuk bertanya ke dokter jika belum memahami aturan pakainya dan segeralah memberitahukan dokter jika kondisi Anda tidak berubah atau memburuk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.