Pameran Pematung Yusman Dari Pasaman Menuju “Istana Presiden “di Museum Affandi, Yogyakarta

oleh -

Pameran Pematung Yusman Dari Pasaman Menuju “Istana Presiden “di Museum Affandi, Yogyakarta

Semangatnews, Yogyakarta – Pamatung nasional asal Sumatera Barat, Yusman (54 th) dijadwalkan melaksanakan pameran seni patung maket dan launching buku berjudul ” Dari Pasaman Menuju ke Istana Presiden” di museum Affandi, Jalan Laksda Adisucipto, No. 167 Papringan, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta 12 – 21 November 2019 mendatang.

Jika pada tahun 2017 lalu pematung yang juga alumni SMSR Negeri Padang (1984) dan ISI Yogyakarta ini melakukan pameran retrospektif 32 Tahun Yusman menandai Indonesia menampilkan karya-karya tiga dimensi hasil penjelajahan kreativitasnya di Jogja Galeri Jalan Pakapalan No. 7 Alun-alun Utara, Yogyakarta, maka tahun ini disertai peluncuran dan bincang buku Yusman serta pameran seni patung maket yang dikuratori Dr. Suiwarno Wisetrotomo, M. Hum.

Hal itu dikemukakan Yusman, saat sapa Semangatnews.com di kediamannya studio patung Yusman, Tegal Senggotan, RT 02 / RW 11 No. 53 Tirtonirmolo, Kasihan Bantul, Yogyakarta, Selasa (5/11).

Menurut Yusman kelahiran Sukamenanti Pasaman, 12 November 1964, menyebutkan puluhan seni patung maket karya-karyanya selama ini hasil penjelajahan kreativitasnya menyempurnakan kegiatan peluncuran buku berisikan sebagian dari sejarah panjang pematung ini sejak usia SMP, memasuki SMP, SMSR Negeri Padang, ISI Yogyakarta hingga ke Istana presiden yang diberi judul “Dari Pasaman Menuju Istana Presiden”.

Dijelaskan kegiatan pameran seni patung maket dan peluncuran buku itu dijadwalkan diresmikan oleh Prof. Ir. Wiendu Nuryanti, M. Arch, Ph. D (Mantan Wamendikbud era SBY), Selasa, 12 November 2019 di museum Affandi Yogyakartra sekaligus ditandai penyerahan patung maket berjudul “kapal” ke Wiendu Nuryanti ditempat yang sama, ujar Yusman.
Sementara pengamat dan kurator seni rupa, Muharyadi, yang juga teman dekat dan senior pematung Yusman saat bersekolah di SMSR Negeri Padang dulu, ketika dikonfirmasi perihal kegiatan pameran dan peluncuran buku Yusman, membenarkan bahwa kegiatan pameran ini merupakan suatu bentuk refresentasi perjalanan Yusman selama lebih kurang 34 tahun dalam dunia seni patung di Tanah Air.

Zardi Syahrir yang beberapa hari lalu berkunjung ke bengkel kerja Yusman menyampaikan, karya-karya seni patung yang dilahirkan sosok Yusman sesuatu yang memiliki logika pikir dan pematangan alam pikiran sehingga karya itu hadir dalam kecerdasan yang akurat.

“Ada guratan banyak makna dan pesan yang ditumbahkan melahirkan karya-karya Yusman. Dia selalu berfilosofi hidup bahwa seni patungpun mampu memberi isyarat pesan yang dalam, baik tokoh yang diekpresikan maupun dari karakter sentuhan dalam pembuatannya, sesuatu jiwa seni yang langka dimiliki oleh seniman lainnnya”, ujar Zardi.

Zardi juga katakan bagi Yusman, sebuah karya bukan asal diungkapkan akan tetapi, mempelajari karakter, sejarah, kisah dan kepribadian tokoh yang dikerjakan amat penting agar sesuatu pesan yang baik akan memberi kebaikan juga bagi semua.

Sementara menurut Muharyadi, pematung Yusman merupakan sedikit dari pematung Indonesia yang berasal dari Sumatera Barat yang tetap eksis berkarya, baik karya-karya ekspresi idealis pribadi maupun karya-karya monumentalnya yang banyak bertebaran di tanah air. Patung enam Presiden RI di Istana Bogor 2014, dan relief terpanjang pemecah rekor MURI di Pacitan Jawa Timur beberapa tahun silam merupakan dua diantara puluhan karya monumental yang dikerjakannya dan mendapat apresiasi luas di kalangan publik, jelas Muharyadi.

Dikatakan dalam catatan yang ada, Yusman satu diantara pematung Indonesia asal Sumatera Barat yang sejak kehadirannya di kancah seni rupa – khususnya seni patung – selama 34 tahun senantiasa berkarya, berpameran dan berkarya lagi. Beberapa nama lain asal Sumatera Barat sebagai pematung tercatat Amrizal Salayan ST. Perpatih (Bandung), Syahrizal Koto, Yulhendri, Arland Kamil, Dwita Anja Asamara, Akmal Jaya, Rispul, Rudi Mantofani, Yunizar (Yogyakarta) turut mewarnai wajah seni patung Indonesia, ujar Muharyadi menambahkan. (FR).