PADANG, SEMANGATNEWS.COM – Sebagai Abdi Negara PNS/ASN menjadi pendidik seperti guru ada batasan perjalanannya hingga mencapai usia 60 tahun, kemudian selesai. Tetapi bekerja sebagai pekerja seni diantaranya melukis dan kerja seni lainnya, tak pernah ada istilah pensiun, sepanjang badan sehat ditunjang kemauan dan kerja keras untuk merespon berbagai dinamika yang terjadi dihadapan dan di alam ini.
Bagaimana pun kerja lukis melukis, selain menghilangkan rasa suntuk bahkan stres jika ada, juga merupakan suatu bentuk untuk menyalurkan emosi tanpa kata kata dan suara melainkan melalui tarikan garis, sapuan kuas warna warni di kanvas/kertas bahkan dibahan bahan lain sambil memikirkan konsep karya yang diusung kepermukaan hingga ia menjadi sebuah karya yang dinamai lukisan.

Demikian Trikora Irianto (64 th) mantan guru seni SMA PGRI 1 Padang yang juga pelukis kepada semangatnews.com di kediamannya Jl. Mesjid Nurussalam No. 57 C Pasir Parupuk Tabing, Padang, Rabu Sore (22/10/25)
Meski telah berusia kepala enam yang selama ini menjadi momok bagi teman teman yang nota bene juga seniman pada pronsipnya aktivitas melukis mampu menjadi sarana untuk meningkatkan keterampilan motorik halus.
Pada sisi lain aktivitas melukis atau berkarya seni rupa s ecara umum pada prinsipnya memiliki manfaat pada tubuh, mengembangkan ketangkasan jari, dan pergelangan tangan saat menggunakan kuas sehingga kemampuan koordinasi agar tetap terjaga.

Menurut Trikora Irianto pendidik dan seniman kelahiran Tabek Tanah Datar 31 Desember 1961 itu menyebutkan, berdiam di dalam rumah atau lingkungan yang itu-itu saja akan memunculkan rasa kesepian dan kebosanan. Karena itu dengan melukis bisa menjadi kegiatan yang tepat untuk mengisi seluruh waktu tersebut sambil terus berkolaborasi dengan berbagai dinamika dihadapan kita yang diisi dengan seperangkat nilai nilai di dalamnya.
Bagi saya, melukis bisa menjadi cara membangun rasa percaya diri. Di saat melukis, kita dapat melakukan eksperimen dan mendapatkan kontrol penuh atas kegiatan yang kita lakukan. Selesai melukis, timbul rasa puas dari hasil lukisan akan membuat rasa percaya diri sambil melihat berbagai kelemahan karya yang mungkin saja terjadi,” ujar Trikora.
Aktivitas Pameran dan Organisasi untuk Seniman dan Guru
Trikora Irianto yang telah menggemari aktivitas menggambar dan melukis sejak duduk di bangku SD (sekolah Dasar) hingga berlanjut ke tingkat SLTA kemudian berlanjut mengikuti pendidikan tinggi seni rupa di FKSS (Fakultas Sastra dan Seni) sekarang FBS UNP Padang dalam perjalanannya telah melakukan pameran tunggal sebanyak 5 kali diantaranya di Taman Budaya Sumbar (1984, 1985, 1989), Taman Budaya Medan dan Hotel Dharma Deli Medan (1985) dan pameran kolektif diberbagai daerah Indonesia sejak 1984 hingga sekarang.

Selain sebagai seniman, Trikora Irianto, yang dijuluki seniman penuh humoris ini juga pernah menduduk sejumlah organisasi sosial, diantaranya Pengurus Dewan Kesenian Sumbar, Komite Seni Rupa (2001–2005), Pengurus PGRI Sumbar Bidang Infokom (2010–2025), Wasekum PGRI Sumbar 2015-2019, Sekum PGRI Sumbar (2019 – 2025), Wakil Ketua PGRI Sumbar (2025 –sekarang), Sekretaris Forum Perjuangan Seniman Sumatera Barat sejak 2022 hingga sekarang.

Dari apa yang dilakukan selain menjadi pendidik bidang seni budaya selagi masih bisa berkarya, berpameran dan berorganisasi semua yang dilakukan itu, ada seninya dilandasi kreativitas yang terus dibangun dapat memberikan peluang berharga dalam meningkatkan kualitas keseharian dan kehidupan kita sebagai makhluk Allah SWT,” ujar Trikora mengakhiri. (mh)
