Jakarta, Semangatnews.com – Pergerakan nilai tukar mata uang di kawasan Asia kembali menunjukkan dinamika kuat pada perdagangan Kamis, 29 Januari 2026, dengan rupiah Indonesia tercatat sebagai salah satu yang paling tertekan di antara mata uang regional. Sementara itu, yen Jepang justru mencatat penguatan yang menonjol di tengah pasar yang bergolak.
Perdagangan pagi ini memperlihatkan gejolak di pasar valuta asing Asia selaras dengan sentimen global yang terpengaruh oleh perkembangan kebijakan moneter di Amerika Serikat dan ketidakpastian geopolitik. Pergerakan dollar AS terhadap sejumlah mata uang utama turut memengaruhi arah pasar di kawasan.
Rupiah, yang telah mengalami tekanan sejak awal tahun, kembali merosot lebih tajam dibanding mayoritas mata uang Asia lainnya. Pelemahan ini menempatkan rupiah di posisi yang relatif lebih lemah, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap faktor domestik dan eksternal yang memengaruhi aset Indonesia.
Tekanan terhadap rupiah turut dipengaruhi oleh naiknya kekhawatiran pasar atas arah kebijakan ekonomi global, termasuk potensi perubahan arah suku bunga The Federal Reserve dan kerentanan modal asing terhadap aset berisiko di pasar negara berkembang. Arus keluar modal portofolio menjadi salah satu sorotan utama analis.
Di tengah tekanan yang melanda sebagian besar mata uang Asia, yen Jepang tampak bergerak berlawanan arah dengan kuatnya posisi terhadap dolar AS. Penguatan yen ini didorong oleh spekulasi mengenai kemungkinan intervensi mata uang oleh otoritas Jepang dan AS, yang membuat pelaku pasar mengecilkan posisi short di yen.
Sentimen tersebut menempatkan yen sebagai salah satu mata uang yang paling stabil, bahkan menguat di tengah pasar yang banyak diliputi ketidakpastian. Penguatan ini juga dipengaruhi oleh pandangan bahwa bank sentral Jepang tetap berkomitmen pada kebijakan yang dapat menopang nilai tukarnya.
Pergerakan mata uang Asia lainnya juga mencerminkan ketidakpastian pasar secara luas. Beberapa mata uang mengalami fluktuasi signifikan terhadap dolar AS, dengan investor terus mengevaluasi dampak kebijakan ekonomi global dan indikator data makro yang dirilis belakangan ini.
Analis pasar menilai bahwa kondisi ini menunjukkan betapa sensitifnya mata uang negara berkembang terhadap perubahan ekspektasi suku bunga global, terutama ketika investor mencari aset yang lebih aman atau beralih ke instrumen yang dipandang kurang berisiko.
Rupiah yang merosot dalam beberapa pekan terakhir mencerminkan tekanan struktural yang lebih luas, termasuk tantangan dalam arus modal masuk dan persepsi risiko investor asing terhadap ekonomi Indonesia. Hal ini mendorong kebutuhan pengawasan dan kebijakan responsif dari otoritas moneter.
Bank Indonesia dalam beberapa kesempatan sebelumnya telah berupaya menstabilkan rupiah melalui berbagai instrumen pasar, termasuk intervensi di pasar spot dan DNDF (non‑deliverable forward) untuk meredam volatilitas yang tajam.
Namun, sentimen global yang kuat terhadap dolar AS dan pergerakan kebijakan moneter negara maju tetap menjadi faktor dominan yang memberi tekanan tambahan pada mata uang di Asia, termasuk rupiah. Para pelaku pasar kini menunggu data dan keputusan kebijakan terbaru sebagai acuan selanjutnya.
Sementara itu, penguatan yen di tengah pasar yang tidak stabil menunjukkan bahwa mata uang safe haven masih menjadi pilihan utama investor ketika gejolak ekonomi meningkat, memperkuat posisi Jepang di tengah tekanan global.(*)
